Nonton Perbankan Tempo Doeloe di Museum Mandiri

Oleh: Iwan Santosa

Wisata di museum tidak sekadar menonton benda dan bangunan bersejarah. Malam minggu (5/5), akhir pekan lalu, sejarah disuguhi rekonstruksi perbankan tempo doeloe berlatar tahun 1930-an di Museum Bank Mandiri di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) di Kota Tua Jakarta yang bersejarah.

Tema yang diusung Komunitas Jelajah Budaya adalah Kasir China, salah satu ikon perbankan pada masa Kolonial. Kala itu para pegawai Tionghoa sebagian besar menjadi tenaga kasir di bank.

Para tuan besar Belanda sebagai nasabah, kasir Tionghoa, dan kerani Bumiputera, tampil di salah satu sudut bank yang memang pernah menjadi ruang kasir pada masa silam. Topi bambu bulat, seragam putih-putih, celana model Bermuda, hingga baju cheongsam yang digunakan para Nona Tionghoa pegawai bank ditampilkan pada malam itu.

Para wisatawan pun disuguhi rekonstruksi yang mirip tonil lengkap dengan kelakar. Sayang, tak banyak istilah Melayu Pasar yang lazim digunakan, tak muncul dalam pertunjukan pada malam itu, seperti sebutan babah, nona, encek, dan sebagainya.

Namun, upaya membangun keaslian penampilan agak terganggu pada sejumlah detail, seperti keberadaan tauchang (kepang rambut alias pig tail pria Tionghoa). Pada tahun 1930-an, tauchang sudah tidak lagi dipakai seiring revolusi Tiongkok pada awal abad ke-20 yang melahirkan gerakan kwa tauchang (memotong kepang rambut).

Meski demikian, para penonton antusias melihat pertunjukan tersebut. Calvin Barus yang datang bersama istrinya Ruth dari Depok, mengaku menikmati acara tersebut.

“Cara berpakaian yang dipakai mirip waktu saya kecil di perkebunan di Sumatera Utara. Saya ingat bapak saya biasa berbusana seperti para tuan besar lengkap dengan topi. Bapak saya memang kerja di perkebunan pemerintah yang diambil alih dari Belanda akhir tahun 1950-an,” tutur Calvin.

Selepas rekonstruksi, para pengunjung diberi kesempata lagi untuk kembali ke masa lalu. Nuansa tersebut dibangun dalam acara makan lengkap berupa rijztaffel (harfiah meja nasi), yakni hidangan khas zaman Kolonial yang merupakan pertemuan selera Belanda dan Indonesia. Rijsttaffel disajikan belasa pelayan berjas ala tempo dulu, menghidangkan nasi ditemani belasan penganan dan tentu saja kerupuk yang merupakan makanan mewa di masa lalu.

Sambil santap malam, pengunjung juga menyaksikan film hitam putih tentang Insulinde (sebutan Indonesia awal abad ke-20) ketika ekonomi sedang bangkit dan pembangunan serta keindahan negeri ini sangat memukau dinia Barat.

Setelah itu, pengunjung dibawa berkeliling museum yang selesai dibangun tahun 1933 sebagai kantor Nederlandsche Handel – Maatschappij (NHM). Ruang bawah tanah, brankas antik, kaca patri yang menggambarkan sejarah Nusantara sejak kedatangan Belanda, dan perangkat perbankan tempo dulu.

Titi, pengunjung lain, mengaku bahwa menonton pertunjukan sekaligus mengelilingi museum memberikan wawasan baru tentang kebesaran Nusantara di masa silam. “Ternyata banyak hal yang bisa dikagumi dari masa lalu,” ujar Titi.

Kartum, ketua Komunitas Jelajah Budaya, mengatakan kemasan rekonstruksi sejarah sengaja dibuat agar menggugah kepedulian masyarakat terhadap kebesaran di masa lalu sekaligus membangun rasa percaya diri. “Kalau tidak dimulai dari sekarang tentu bangunan cagar budaya berikut cerita yang menyertainya akan dilupakan,” ungkap Kartum.

Sumber: Kompas, 9 Mei 2007

Iklan

%d blogger menyukai ini: