Dari Pasar Baroe, Dunia Mendengar Proklamasi

Pasar Baroe tidak sekadar menjadi pusat belanja sepanjang masa. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun disebarluaskan dari kawasan ini, tepatnya oleh para wartawan Kantor Berita Antara—kala itu di bawah pendudukan Jepang yang dinamai Domei, di salah satu sudut Pasar Baru.

Tempat bersejarah itu kini menjadi Galeri Foto Antara dan Museum di Jalan Antara Nomor 57, 59, dan 61. Tepat di lantai dua Gedung Antara, perangkat morse untuk mengirim berita proklamasi beserta meja dan kursi antik masih berada di sudut asli sebagai saksi perjuangan pekerja pers pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kepala Biro Foto dan Kepala Galeri dan Museum Antara Oscar Motuloh mengatakan, perangkat morse dan mesin tik sengaja tidak diubah untuk menjaga kenangan sejarah kelahiran Republik Indonesia. Namun sayang, hanya sedikit orang yang mengetahui fakta betapa proklamasi disebarluaskan ke seluruh dunia dari ruang kecil sebuah gedung tua di Pasar Baru.

“Kabar kemerdekaan disebarluaskan dari kantor Antara selang beberapa saat proklamasi dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur. Kabarnya Adam Malik membacakan teks proklamasi yang diterima seorang wartawan Antara. Selanjutnya informasi tersebut diselipkan dalam kawat berita oleh dua markonis, yakni Wua dan diawasi markonis Sugirun, agar tidak diketahui Jepang yang masih ketat mengawasi mereka. Pasalnya, Jepang sudah mewaspadai informasi kemungkinan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan menyebarluaskan informasi proklamasi,” kata Oscar.

Siang itu juga berita proklamasi, lanjut Oscar, ditangkap di pelbagai benua. Pelbagai kapal asing yang berlayar di Samudra Pasifik turut menangkap kabar kemerdekaan Indonesia.

Belanda kabur

Riwayat keberadaan Gedung Antara pun unik karena pernah juga digunakan oleh kantor berita Belanda, Aneta. Semasa pendudukan Jepang berganti nama menjadi Domei.

Perjalanan panjang para jurnalis Antara bermula pada 13 Desember 1937 ketika Soemanang sebagai Hoofd Redacteur bersama AM Sipahoetar dan sejumlah rekan membuka kantor berita di Buiten Tijger Straat Nomor 30 (kini kawasan Pinangsia) menumpang kantor perusahaan ekspedisi Pengharapan. Kebetulan di tempat itu indekos pemuda Adam Malik yang kemudian bergabung di Antara.

Disambut sinisme

Masa awal pers perjuangan seperti Antara tidaklah mudah. Kehadiran mereka disambut sinisme sejumlah pihak, terutama kalangan yang dekat Belanda.

Waktu berjalan, bisnis Antara pun berkembang. Oscar mengatakan, warta Tionghoa Melayu terkemuka seperti Sin Tit Po di Surabaya dan Keng Po pun menjadi pelanggan berita Antara.

Kala itu hubungan pergerakan nasionalis Indonesia mendapat sambutan hangat di kalangan media Tionghoa Melayu. Tokoh pergerakan pun turut bekerja di media Tionghoa Melayu seperti Wage Rudolf Supratman. Bahkan, syair Indonesia Raya pun pertama kali dimuat dalam warta Tionghoa Melayu.

Seiring perkembangan Antara, kantor pun berpindah ke Tanah Abang Nomor 90 (kini dekat Jalan Budi Kemuliaan) sebelum berpindah ke Pasar Baru dan terlibat dalam proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah proklamasi, gedung itu pun menjadi bagian perjalanan bangsa Indonesia.

Pada September 1954 Dewan Redaksi Antara meminta Wali Kota Djakarta Raja untuk menggunakan gedung di Jalan Pos Utara (ketika itu) nomor 57, 59, dan 61.

Pemerintah melalui Pengoeasa Daroerat Perang Djakarta Raja memaklumatkan tempat tersebut sebagai gedung bersejarah. Pada tahun 1993 SK Gubernur DKI semasa Soerjadi Soedirja menetapkan sebagai bangunan dilindungi. (Iwan Santosa)

Sumber: Kompas, Jumat, 18 Agustus 2006

Iklan

%d blogger menyukai ini: