Menyusuri Jalur KA Pertama di Indonesia (1) – Jalur Kuno Itu Jadi Tumpuan Utama

Jalur kereta api (KA) Semarang-Tanggung Kabupaten Grobogan ternyata merupakan jalur pertama yang dibuat Belanda, 139 tahun lalu. Dalam rangka memperingati jalur bersejarah itu, Kamis (10/8) PT KA Daop IV Semarang menyelenggarakan acara peringatan berupa napak tilas. Pada hari yang sama, Biro Perekonomian Setda Jateng juga menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) dalam rangka pengembangan perkeretaapian di Jateng. Wartawan Suara Merdeka, Purwoko Adi Seno, yang mengikuti kedua kegiatan itu melaporkan dalam dua seri tulisan.

MATAHARI sudah berada di atas ubun-ubun, saat kereta luar biasa (KLB) yang membawa rombongan napak tilas mulai meninggalkan Stasiun Tawang Semarang. Tak lama berselang, kereta itu pun mulai memasuki wilayah Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. Di kejauhan terlihat sebuah bangunan gudang, dan di sekitarnya ada beberapa gerbong barang.

Ya…., itulah Stasiun Semarang Gudang yang dulu bernama Stasiun Tambaksari. Bangunan itu semula adalah stasiun ujung atau dalam bahasa Belanda disebut kopstation. Dari stasiun itu pula, kisah sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai.

Kebutuhan angkutan KA sebenarnya sudah mulai dirasakan setelah masa tanam paksa (1830-1850). Kala itu hasil bumi di Jawa tak lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sudah jadi komoditi ekspor. Namun, upaya mewujudkan harapan itu ternyata tidak mudah.

Pemerintah Belanda pun kemudian merencanakan untuk membuat jalur transportasi KA. Dalam buku 139 Tahun Perkeretaapian Indonesia, pengajar trasnportasi Unika Soegijapranata Semarang, Tjahjono Rahardjo menggambarkan, rencana itu ternyata menimbulkan pro dan kontra.

Kala itu beberapa pihak menilai, angkutan KA untuk Hindia Belanda tidak efisien lantaran jumlah penumpangnya sedikit.

“Muncul pula perdebatan tentang peran yang sebaiknya dimainkan pemerintah dalam mengembangkan perkeretaapian di Hindia Belanda,” kata Tjahjono.

Menentang

Pihak yang menentang keterlibatan pemerintah berpendapat, dana pembangunan jalan rel sebaiknya digunakan untuk hal-hal lain yang lebih mendesak. Adapun pihak yang menentang keterlibatan swasta berpendapat, jalur KA memiliki fungsi strategis, sehingga risikonya terlalu besar jika diserahkan kepada swasta.

Pro-kontra itu pun terus berlangsung hingga 1862, saat rencana pembangunan jalur KA Semarang-Solo -Yogyakarta (vorstenlanden) disetujui. Pada 1864, sebuah perusahaan swasta bernama Nederlandsch Indische Spoorweeg Maatschappij (NIS) memulai pembangunan jalur yang menghubungkan Kemijen dan Tanggung sepanjang 25 km. Namun, proses itu pun ternyata menghadapi berbagai kendala, termasuk sulitnya medan dan kondisi ekonomi.

Tapi, kerja keras itu toh membuahkan hasil. Pada 10 Agustus 1867, jalur pertama di Indonesia itu dari Kemijen ke Tanggung, pun diresmikan. Bangunan Stasiun Tanggung yang terbuat dari kayu, hingga kini juga masih dipelihara. Peralatan-peralatan yang digunakan pun sama tuanya. Untuk mengatur wesel, misalnya, masih digunakan tuas-tuas kuno. Demikan pula dengan peralatan komunikasi, masih menggunakan telepon onthel.

Kepala PT KA Daop IV Semarang, Rono Pradipto mengatakan, hingga kini jalur itu masih merupakan lintas utama. Setiap hari jalur itu dilalui KA Argo Muria, KA Kamandanu, KA Senja/Fajar Utama, KA Harina, KA Matarmaja, dan KA Rajawali.

Persoalannya, jalur antara Stasiun Brumbung dan Stasiun Tanggung kini sudah saatnya diganti. Selama ini, di jalur tersebut menggunakan rel berukuran R 33 dan bantalannya masih terbuat dari kayu. Akibatnya, kecepatan setiap kereta yang melalui jalur itu maksimal hanya 40 km per jam.

Agar kecepatan kereta bisa ditingkatkan hingga 70 km per jam, rel di jalur tersebut mestinya diganti menjadi R 45 atau R 54.

”Bantalannya pun mestinya diganti beton,” kata dia. (16a)

Sumber: Suara Merdeka, 12 Agustus 2006

Iklan

%d blogger menyukai ini: