Hotel Niagara, Keindahan Masa Lalu

Arbain Rambey

Ketika rombongan beberapa arsitek dan fotografer tiba di Malang, Jawa Timur, kemudian memesan taksi untuk menuju Hotel Niagara di Lawang, April lalu, pandangan-pandangan heran menyeruak. “Itu hotel tua Pak. Cari hotel lain kan banyak,” kata seorang dari para sopir taksi itu.

Hotel Niagara berlantai lima, yang letaknya di tepi jalan raya Surabaya-Malang, memang bukanlah hotel yang populer di kalangan orang yang bepergian di Indonesia. Kisah-kisah masa lalu telah membungkusnya.

Umumnya orang memilih hotel lain kalau harus bermalam di Lawang, yang jaraknya cuma sekitar 15 kilometer dari Malang.

Kenyataan itu membuat arsitek Yori Antar dan beberapa temannya prihatin. Menurut Yori, dari pengalaman selama ini, kalau ada sebuah bangunan tidak menguntungkan secara ekonomi, pasti akan dihancurkan untuk diganti dengan bangunan baru.

“Seindah apa pun bangunannya, kalau tidak menghasilkan uang, umumnya dihancurkan. Kita akan kehilangan banyak sekali jejak dan sejarah arsitektur Indonesia kalau begitu,” kata Yori.

Yori menganggap Hotel Niagara di Lawang adalah salah satu karya arsitektur yang pantas dipertahankan di Indonesia. Walau belum diketahui dengan jelas nama perancang, juga sejarahnya secara detail, hotel ini setidaknya masih bisa menjadi monumen bisu kejayaan Lawang. Masa saat kawasan itu menjadi sebuah basis perkebunan yang kaya.

Bersama arsitek lain, seperti Jay Subiyakto, Nanang, Rafael Arsono, dan Budi Pradono, serta fotografer Oscar Motuloh, Yori sengaja menginap di Hotel Niagara, mengadakan seminar dan lomba foto untuk kalangan mahasiswa.

Art deco dan art nuovo

Keindahan Hotel Niagara datang dari desain interiornya yang banyak memakai hiasan bergaya art nuovo yang meliuk-liuk dan juga art deco yang lebih tegas.

Ornamen art deco dan art nuovo berbentuk ornamen keramik, besi cor pegangan tangga, panel kayu dinding, penyangga kanopi jendela, juga corak lantai teraso. Selain tiap lantai punya gaya tersendiri, ornamen-ornamen itu bisa dikatakan masih relatif utuh. Keaslian bagian dalam Hotel Niagara bisa dilihat lewat keutuhan ornamen-ornamen itu.

Yang membawa kenyataan hotel itu tampil merana adalah perabotnya yang tidak asli lagi. Hampir semua perabot, terutama tempat tidur, adalah barang baru dari mutu yang tidak terlalu bagus. Juga bentuk dan corak perabot baru itu tidak menyatu dengan ornamen interior yang ada.

Saat tiba di depan Hotel Niagara, orang dihadang sebuah bangunan yang dipakai untuk sarang burung walet. Bangunan ini mengepung area masuk hotel, hanya menyisakan sebuah terowongan untuk masuk. Jalan masuk ke halaman hotel bisa dikatakan buruk. Menurut Yori, pada awal bangunan itu berdiri awal abad ke-20, sejak dari jalan raya Hotel Niagara cuma ditutupi sebuah air mancur mungil yang masih ada sampai sekarang.

“Dulu, daerah ini pasti belum padat. Alangkah indahnya situasi hotel saat didirikan,” ujar Yori.

Pintu masuk hotel kini terletak di bagian depan, sementara dari bekas yang ditinggalkan, terlihat pintu masuk aslinya berada di samping kanan. Walau lobi resepsionis relatif masih asli, namun mutu perabotnya menenggelamkan keindahan aslinya.

Bata ekspos

Bagian eksterior hotel aslinya memakai bata ekspos, atau bata yang dibiarkan terbuka tanpa dilapis semen. Ada variasi dengan ornamen semen pada balkon dan kusen.

Hotel ini hanya bisa dihuni tamu sampai lantai dua, dan sedikit di lantai tiga. Lantai empat dan lima ditutup, selain karena lantai di bawahnya tak pernah terisi penuh, juga sebab dua lantai teratas itu sedang diperbaiki.

Dari lantai ke lantai, pegangan tangga berornamen besi cor yang berbeda-beda. Demikian pula corak dinding keramik yang umumnya bergambar bunga.

Gedung dengan lima lantai buatan awal abad ke-20 ini belum banyak memakai teknologi beton bertulang, atau bahkan beton prategang. Akibatnya, ukuran kolom “terpaksa” besar di beberapa tempat, karena dinding pun jadi alat penahan beban.

Di sini juga ada pengurangan tinggi atap pada tingkat yang makin ke atas. Pada lantai kelima, rendahnya atap terasa sejak di tangga. Pengurangan tinggi atap ini dilakukan untuk mengurangi berat gedung.

Menaiki satu per satu lantai Hotel Niagara memang melelahkan. Apalagi kalau mesti sampai lantai lima dan membawa koper yang berat pula.

Sebenarnya, hotel ini punya lift kuno yang konon masih berfungsi. Lift tidak dioperasikan karena pemilik hotel ragu pada kekuatan lantai kamar, selain kondisi lift yang dikhawatirkan sudah lapuk pada beberapa titik. Andai bisa diperbaiki, lift kayu bermesin buatan awal abad ke-20 bisa menjadi salah satu daya tarik hotel.

Kalau Anda naik sampai lantai atap hotel yang datar, maka pemandangan dari tempat ini sungguh menakjubkan. Lawang terlihat utuh, juga kebun-kebun teh di sekitarnya. Di sini juga terdapat sebuah menara air yang bagian atasnya datar, sehingga menjadi meja bundar untuk sekitar tujuh orang. Meski sekadar menara air, namun bentuknya diupayakan selaras dengan bentuk bangunan hotel secara keseluruhan.

Seandainya Hotel Niagara bisa dipugar dengan benar, tanpa pengubahan drastis pada langgam arsitektur aslinya, hotel ini bisa menjadi aset wisata dan sebuah rekaman arsitektur Indonesia masa lalu.

Sumber: Kompas, 14 Mei 2006

Iklan

%d blogger menyukai ini: