Istana Merdeka Diserang Rayap

Bogor, Minggu

Istana Merdeka, yang selama ini menjadi kediaman resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata pada bagian plafon bangunan mengalami kerusakan akibat diserang rayap.

Kondisi kerusakan di Istana Merdeka itu diungkapkan dua pakar rayap dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Rudolf Christian Tarumingkeng dan Prof Dr Ir M Surjono Surjokusumo, di Bogor, Sabtu (1/4).

“Beberapa waktu lalu saya dan Pak Rudi (Rudolf) diundang ke Istana Merdeka untuk memastikan apa benar istana diserang oleh koloni rayap, dan ternyata benar saja. Plafon di Istana Merdeka, tepatnya di ruangan yang biasa dipergunakan presiden menerima tamu jatuh, yang utuh hanya rangka alumuniumnya saja,” ujar Surjono di sela-sela pelepasan purna tugas kedua guru besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB itu.

“Kami baru melalukan survei saja, tetapi untuk treatment-nya belum, karena masih menunggu perintah dari presiden,” tambah Surjono.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Joko Kirmanto, Selasa (28/3), mengungkapkan bahwa bangunan Istana Negara yang terletak di Jalan Veteran akan mengalami perombakan karena akan dijadikan tempat tinggal sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Joko, perombakan Istana Negara itu dijadwalkan selesai dalam tempo satu bulan. Perombakan Istana Negara akan diikuti dengan perombakan Istana Merdeka, yaitu istana yang saat ini menjadi kediaman resmi Presiden Susilo. Perbaikan Istana Merdeka akan memakan waktu sekitar tujuh bulan.

Ia juga mengungkapkan perlunya perombakan terhadap Istana Merdeka, karena dinilai kondisi gedung istana tersebut sudah sangat membahayakan untuk ditinggali oleh Kepala Negara. Istana Merdeka, yang terletak di Jalan Medan Merdeka Utara selain dijadikan kediaman resmi Presiden Susilo, juga kerap dipakai sebagai tempat bagi Presiden menerima tamu-tamu negara, termasuk para duta besar asing saat mereka menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden RI. Istana Merdeka juga menjadi tempat peringatan detik-detik Proklamasi 17 Agustus.

Menurut Surjono, sejak tahun 1983 “tim rayap” IPB telah meneliti rayap dan menemukan perkembangan yang luar biasa, yakni bila dulu rayap hanya menyerang daerah pertanian dan perkebunan, sekarang rayap sudah mampu menyerang bangunan-bangunan pencakar langit seperti gedung pusat perbelanjaan, hotel, apartemen dan gedung perkantoran, misalnya Gajah Mada Plaza, Apartemen Semanggi dan Taman Rasuna Said.

“Lebih dari 50 persen gedung bertingkat di Jakarta sekarang telah terserang rayap. Serangan rayap pada bangunan bertingkat menarik untuk dicermati karena berkaitan dengan kemampuan rayap untuk menembus penghalang fisik yang ada,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Surjono, bangunan bertingkat umumnya memiliki struktur yang sangat kokoh, di mana struktur bawah bangunan sebagian besar adalah beton bertulang yang secara konstruksi mustahil dapat dilalui rayap. “Pada bangunan bertingkat tinggi umumnya rayap menyerang bagian ornamen bangunan atau pelengkap isi bangunan seperti furnitur sampai menghabiskan dokumen, menghancurkan wallpaper serta merusak parguet dan gipsum,” paparnya.

Rudolf Christian Tarumingkeng, yang merupakan penemu klasifikasi rayap Indonesia menambahkan bahwa rayap sekarang sudah mengikuti perkembangan zaman. Ia memberi analogi seperti apabila dihidangkan jenis makanan baru, pasti ada keinginan untuk mencobanya, demikian pula halnya dengan rayap.

Sementara Surjono mengemukakan, setiap bangunan memiliki umur tergantung dari bahan yang digunakan serta perawatannya. Apabila suatu bangunan menggunakan bahan kayu yang telah diberi anti rayap sebagai pondasi dan perawatannya diperhatikan, sudah pasti umur dari bangunan tersebut lebih lama dan bahkan bisa saja tidak ada batas umur ketimbang bangunan yang dibangun dengan pondasi kayu yang seadanya.

“Untuk menghindari rayap sebaiknya sebelum membangun, kayu yang digunakan sebagai pondasi disuntik terlebih dahulu (dengan bahan anti rayap). Apabila sudah terlambat dapat digunakan umpan untuk membasmi koloni rayap,” katanya.

Selain pemeliharaan dan mutu kayu yang digunakan ternyata ketinggian daerah, suhu udara dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap keawetan bangunan. “Misalnya saja di Istana Cipanas dan Istana Bogor, sampai saat ini belum ditemukan kejadian seperti di Istana Merdeka, padahal umur bangunan tersebut sudah lebih dari 270 tahun,” demikian Surjono Surjokusumo.

Sumber: Ant
Penulis: Ima

Sumber: Kompas, 02, April 2006

Iklan

%d blogger menyukai ini: