Visi “Masa Lalu” Pengembangan Kota Solo

Oleh Ubed Abdilah S

Mengamati rencana pembangunan Kota Solo seperti yang dilontarkan Pemerintah Kota Solo, muncul beberapa hal yang jadi catatan serta patut menjadi perhatian. Berulang kali, Wali Kota Solo Joko Widodo mengungkapkan, visi pembangunan Kota Solo adalah kota budaya yang berorientasi pada nilai masa lalu.

Dalam visi yang konkret Solo’s Past is Solo’s Future (Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Depan). Yang layak jadi catatan dari sisi konseptual, adalah konsep “masa lalu” sebagai konsep yang mengarah pada “budaya”.

Konsep ini perlu mendapat perhatian, karena “budaya” tak melulu menyangkut masa lalu, namun yang utama adalah menyangkut “masa depan”. Jika visi ke depan pembangunan Kota Solo adalah masa lalu, yang jadi pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana menggabungkan visi “masa depan” budaya dengan kondisi “masa lalu” Solo. Bagaimana visi itu bisa mengakomodasi kepentingan “masa depan” dengan konsep “masa lalu” Solo.

Konsep masa lalu dalam urban design seringkali hanya diasosiasikan dengan ikon fisik, seperti bangunan tua dan situs peninggalan budaya lama. Penerjemahan konsep pada wilayah fisik ini tidak salah, namun jangan sampai terjebak pada bentuk fisik dan mengabaikan apa yang ada jauh di luar bangunan fisik, yaitu nilai. Apa yang dijabarkan dengan masa lalu oleh Pemkot Solo baru tersirat pada bentuk fisik. Katakanlah rencana pemkot melakukan restorasi dan konservasi beberapa situs kebudayaan masa lalu, seperti Kampung Laweyan, Taman Sriwedari, dan lain-lain.

Setidaknya, langkah itu adalah awal yang baik, sementara begitu banyak situs peninggalan masa lalu di Solo yang terbengkalai. Sejauh ini masih terlalu minim perhatian pemkot dan juga masyarakat terhadap konservasi bangunan fisik peninggalan masa lalu itu. Persoalan kedua, konsep budaya memiliki terminologi luas.

Pembangunan budaya tak bisa dilakukan secara parsial terhadap satu aspek tertentu, seperti fisik. Budaya lebih berorientasi pada nilai atau spirit, menghasilkan manusia (masyarakat) yang berbudaya (sifat). Dari sisi konseptual spiritual ini, pencarian nilai masa lalu Solo adalah upaya kembali menghadirkan originalitas nilai Solo, nilai lokal yang berujung penemuan local genius dan identitas. Skala prioritas

Dari nilai dasar itu, selayaknya pemkot membuat skala prioritas pembangunan yang jelas. Dari rencana pembangunan kota yang dicanangkan Wali Kota Joko Widodo, dalam hal urban design, yang terungkap kepada publik baru rencana pengembangan city walk, sedang grand design pengembangan kota kurang banyak dipublikasi. Padahal, grand design sangat penting untuk melihat peta pengembangan kota secara terintegrasi. Satu hal lagi, pengembangan Solo selayaknya tak berdiri sendiri, tetapi harus melihat peta pengembangan daerah di sekitarnya, seperti Solo Baru yang lebih dulu mengembangkan diri sebagai kawasan urban penyangga Solo, juga kawasan Mojosongo yang akan dikembangkan sebagai Techno Park tahun 2020.

Jika yang tampak saat ini adalah pembangunan yang mengarahkan pada pemuasan libidonomic (hasrat ekonomi) seperti mal dan hipermarket bukan hal yang layak disayangkan. Itu karena, efek perkembangan ekonomi global dan dorongan politik budaya massa menuntut kehadiran ikon pemicu hasrat ekonomi itu. Ini tergantung pada pengelolaan dan kebijakan yang harus kembali mengacu kepada visi semula. Pencampuran antara ikon budaya massa yang memicu libidonomic dengan visi yang berkarakter budaya yang kuat pada sebuah kota menjadi daya tarik pada tingkat kunjungan pariwisata.

Jika pengembangan city walk di Jalan Slamet Riyadi Solo terinspirasi Orchard Road di Singapura, penataannya tidak bisa dilakukan parsial, sehingga dibutuhkan urban design yang komprehensif. Contoh, Singapura mengambil grand design sebagai garden city. Grand design Solo sebagai kota budaya perlu dieksplisitkan. Selain itu, dalam hal keterikatan budaya, Solo masih sedikit tertinggal dibanding tetangganya, Yogyakarta. Ciri budaya yang hendak ditampilkan Solo harus menjadi ikon kota dan mendapat positioning yang spesifik di tengah jangkar pariwisata Yogyakarta- Solo-Semarang (Joglosemar).

Karakter Solo yang berwajah multikultural adalah identitas Solo masa lalu di balik sejarah hegemoni kultur Jawa Mataram. Sisa dari ciri kota multikultural masih dapat dilihat hingga saat ini. Lagi- lagi, karena kurangnya minat konservasi dan desakan kepentingan yang lebih pragmatis, kekayaan nilai budaya itu nyaris punah. Wajah multikultur Solo tampak dari pluralitas populasi yang sesuai dengan karakternya sebagai kota komersial, menjadi tempat kelahiran organisasi dagang terbesar (Syarikat Dagang Islam), yang dengan sendirinya mengundang pelaku ekonomi dari berbagai masyarakat.

Saat ini masih tampak kawasan perkampungan yang memiliki karakter arsitektur budaya etnis tertentu. Perkampungan masyarakat China adalah salah satu simbol perkotaan. Di Solo, perkampungan China di kawasan Pasar Gede dan Pasar Balong masih terawat dan memberi warna dominan pada tata ruang Solo, selain perkampungan masyarakat Arab di kawasan Pasar Kliwon yang juga memiliki nilai kultural khusus. Laweyan, Kauman, Balong, atau Pasar Kliwon adalah jejak sejarah perkembangan tata kota Surakarta, dengan warna arsitektur dan latar belakang sosiologisnya. Berbagai gedung dengan corak arsitektur Jawa, Eropa, Indis, Art Deco, Tionghoa, hingga Timur Tengah jika semua bisa dirawat dan dikonservasi, bisa dijadikan proyeksi sebagai tujuan wisata, yakni wisata kota.

Ubed Abdilah S Director Center for Social Justices and Multicultural Studies, Solo.

Sumber: Kompas, 27 Maret 2006

Iklan

%d blogger menyukai ini: