Dari Toko Buku hingga Toko Batik

SATU lagi, bangunan lama di Kota Semarang hendak menemui ajalnya. Setelah Gedung Marabunta di Kawasan Kota Lama, kini sebuah gedung yang pada masa lalu kerap disebut Sasana Suka. Ya, bangunan indah dengan arsitektur berlanggam art deco itu kini sedang dalam proses pembongkaran. Sejumlah pekerja telah mencopoti sebagian gentengnya. Perobohan, sepertinya tinggal menunggu waktu.

Memang, jika dilihat dari sisi kesejarahan, fungsi bangunan yang terletak di pertemuan Jalan Pemuda dan Jalan Gajahmada itu tak terlampau punya makna. Ia tak seperti De Vredestein (sekarang Wisma Perdamaian) yang pernah menjadi kediaman resmi Gubernur VOC untuk kawasan Provinsi Pantai Tenggara Tanah Jawa. Atau, Gedung Lawangsewu yang menjadi kantor pusat Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Namun sebagai bangunan lama, gedung tersebut punya nilai arsitektur yang tiada tara.

Bentuk arsitektur eks Gedung Pertemuan Sasana Suka menjadi tengara masa pembangunannya. ”Memang, sejauh ini saya belum tahu kapan gedung itu didirikan. Tetapi melihat langgam art deco-nya, kira-kira antara tahun 1920 sampai akhir 1930-an,” kata Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Cabang Jawa Tengah, Ir Widya Wijayanti MURP.

Art deco adalah langgam arsitektur modern pada zamannya. Sebagai sebuah gerakan arsitektur baru kala itu, langgam itu berupaya memenuhi konsep modernisme, yakni bergerak dari tuntutan estetika menuju bentuk sederhana. Pada sisi lain, cenderung terdapat sentuhan lokal di dalamnya. Bangunan-bangunan lain di Semarang yang berlanggam art deco, di antaranya Stadion Renang di Jalan Ki Mangunsarkoro dan lantai I Rumah Kopi di Jalan Wotgandul Timur.

Landmark

Dengan gaya arsitektur yang unik tersebut, eks Gedung Sasana Suka menjadi landmark kawasan simpang empat Jalan Pemuda, Jalan Gendingan, dan Jalan Gajahmada. Keberadaannya menghiasi sudut jalan tersebut hingga terlihat elok dan memesona.

Pemerhati sejarah Semarang, Jongkie Tio menjelaskan, pada awalnya bangunan berlantai dua itu disebut dengan nama Stadstuin dan digunakan sebagai Toko Buku Felix. Hal itu berlangsung hingga masa kemerdekaan. Tahun 1950-an, berganti kepemilikan dan menjadi Toko Ratna yang menyediakan aneka barang kerajinan dan perhiasan.

Seiring tak berfungsinya lagi GRIS sebagai gedung pertemuan, Stadstuin mengambil alih peran tersebut. Lantai II gedung dijadikan ruang pertemuan, dan diberi nama Sasana Suka. Sementara sejak tahun 1980-an, lantai I digunakan sebagai Toko Tjendrawasih yang menjual kain batik khas Pekalongan. Sebagai gedung pertemuan, Sasana Suka masuk kategori kelas dua. Penyewanya bukan dari golongan elite, melainkan warga biasa. (Rukardi-62d)

Sumber: Suara Merdeka, 21 Maret 2006


%d blogger menyukai ini: