Kenangan Bandar Termegah Asia Tenggara

Oleh: Iwan Santosa

Jakarta bukan surga kemewahan semu dalam kompleks mal ataupun gedung apartemen belaka. Ragam gedung megah bangunan Belanda, deretan rumah Tionghoa, masjid Arab-Betawi, dan perkampungan berusia lebih dari lima abad adalah gambaran sejati Jakarta di kawasan kota tua.

Sejak abad ke-6 Masehi hingga menjelang Perang Dunia II, kota tua, yakni kawasan sekitar Glodok Pancoran, Musium Fatahillah, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, adalah jantung nadi perekonomian Nusantara dan bahkan Asia Tenggara, melampaui nama besar Singapura, Penang, Malaka, Saigon, ataupun Bangkok. Kombinasi bangunan bergaya abad pertengahan masa Baroque-Rococo hingga Art Deco paruh pertama abad ke-20 adalah aset sejarah, budaya, dan potensi devisa yang nyaris tidak tersentuh.

Berjalan kaki menyusur halaman Stasiun Kota atau terminal bus transjakarta ke Jalan Pintu Besar menuju Kali Besar dan berputar di sekitar Jalan Kunir hingga Jalan Lada adalah sebuah jalur sejarah yang di mancanegara sudah disulap menjadi sumber devisa.

Sebagai contoh keberhasilan adalah kota tua di Singapura, Kuala Lumpur, Penang, dan Malaka yang sudah menjelma sebagai heritage trail (jalur sejarah) sebagai bagian tidak terpisahkan aset ekonomi kota yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat. Benteng tua, kompleks bangunan kolonial peninggalan zaman British hingga Pecinan adalah simbol kota-kota tersebut.

Sesungguhnya kota tua Jakarta adalah eksotisme dan roman hidup dari bangunan antik serta komunitas turun-temurun yang masih hidup di sekitarnya. Suasana tempo doeloe adalah sensasi di balik hiruk-pikuk jalanan dan kepadatan manusia yang tidak menyadari saksi bisu kejayaan masa lalu ada di sekitar mereka.

Pusat bisnis Asia Tenggara

Pada abad ke-19, Belanda telah menjadi pusat keuangan di Eropa. Ini tidak terlepas dari eksploitasi alam Nusantara yang secara administratif dan perekonomian dikendalikan dari Batavia, atau di kawasan kota tua.

Masa itu, Batavia menjadi jantung kegiatan bisnis Asia Tenggara karena kekayaan alam di negeri jajahan Belanda ini jauh melampaui kekuatan kapital penjajah Inggris di Malaya, permukiman selat (straits settlement), yakni Penang, Malaka, Singapura, ataupun Hongkong.

Kejayaan bisnis di Nusantara terekam di pusat perekonomian kota tua seperti di Jalan Pintu Besar Utara, perkantoran di Jalan Kalibaru Timur ataupun wilayah Pinangsia (dari kata Financiereen yang secara harfiah berarti distrik keuangan).

Jejak bisnis terekam di Museum Bank Mandiri (semula bernama Nederlansche Handel Maatschapij/NHM kemudian menjadi Bank Eksim) dengan suasana bisnis zaman kolonial langsung terasa selepas pintu utama. Pelbagai papan petunjuk dalam bahasa Belanda terpampang jelas di ruangan utama tempat transaksi keuangan.

Sekeliling bangunan tersebut membawa kita pada suasana lebih dari setengah abad lampau. Ragam petunjuk, artifak alat transaksi keuangan di masa lalu, contoh uang dan keterangan tersaji di bagian dalam museum Bank Mandiri. Sejumlah ruangan yang dahulu tidak bisa dimasuki sembarang orang kini dapat dilihat pengunjung. Tak ketinggalan sebuah kafeteria dan taman di tengah kompleks museum menjadi pelengkap bagian awal penyusuran kota tua.

Bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri terdapat Museum Bank Indonesia. Deputi Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom yang aktif dalam paguyuban Jakarta Old Town Kotaku (JOK) mendedikasikan gedung tersebut menjadi museum dengan arsitektur bergaya Barat dengan kombinasi Indische. Gedung ini sempat menjadi kantor pusat Bank Indonesia pada tahun 1953-1962.

Selepas dari dua museum perbankan itu ada dua pilihan, yakni ke arah Museum Fatahillah yang pernah menjadi Kantor Gubernur Jenderal kemudian Balaikota atau ke arah Kali Besar.

Kali Besar menyimpan deretan gedung bersejarah seperti Toko Merah yang dibangun tahun 1730 oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (memerintah 1743-1750). Thomas B Ataladjar dalam buku Toko Merah Saksi Kejayaan Batavia Lama Di Tepi Sungai Ciliwung menulis, bangunan ini pernah menjadi rumah gubernur jenderal lain, yakni Jacob Mossel (1750-1761), Petrus Albertus van der Parra (1761-1775), Reinier de Klerk (1777-1780), Nicolaas Hartingh, Baron van Hohendorf, ataupun menjadi akademi maritim (Academie de Marine) dan penginapan Heerenlogement.

Tempat ini juga menjadi saksi gerakan nasionalis Indonesia. Thomas B Ataladjar mencatat, pada masa nasionalisasi perusahaan Belanda paruh terakhir tahun 1950-an, karyawan Indonesia mengambil alih NV Jacobson van den Berg & CO yang berkantor di Toko Merah dari tangan manajemen Belanda. Aksi serupa terjadi pada perkantoran sekitar kota tua seperti di Gedung NHM yang kini menjadi Museum Bank Mandiri.

Bangunan tetangga Toko Merah adalah saksi kejayaan dunia usaha di Batavia silam. Gedung di sudut Jalan Bank dan Kali Besar Barat, misalnya, adalah bekas gedung Standart Chartered Bank. Demikian pula gedung lain di deretan Toko Merah adalah bekas gedung Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC). Kantor itu adalah cabang pertama HSBC di mancanegara yang membuktikan sangat tingginya aktivitas ekonomi di Batavia masa itu.

Sumber: Kompas, 09 Maret 2006

Iklan

%d blogger menyukai ini: