75 Persen Kota Tua Rusak Berat

Tak Ada Insentif dari Pemerintah

Jakarta, Kompas – Sekitar 75 persen dari 170-an bangunan cagar budaya dari abad XVI hingga awal abad XX di Kota Tua Jakarta, di sekitar Stasiun Kota, Museum Fatahillah, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, dalam keadaan rusak dan terancam hancur. Dalam pantauan, kemarin, kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan.

Ketua Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) Asep Kambali, yang ditemui di Museum Bank Mandiri seusai penyusuran Jakarta Trail di kawasan Kota Tua, menjelaskan, sejumlah besar bangunan dalam keadaan kritis dan dikhawatirkan segera hancur jika tidak diupayakan perbaikan.

Kebijakan itu harus dibarengi rangsangan menciptakan kegiatan ekonomi di kawasan yang pernah menjadi pusat kota Batavia semasa penjajahan Belanda.

Upaya revitalisasi kawasan belum berjalan dan tidak ditangani serius. Tidak ada insentif pajak bagi pemilik bangunan agar meringankan biaya perawatan. Seharusnya ada penanganan terpadu antarpelbagai dinas terkait di DKI dengan seluruh stakeholder, kata Asep.

Karena tidak ada kegiatan ekonomi, alternatif terakhir adalah kegiatan hiburan malam saja, yang akhirnya hidup di sejumlah bangunan di kawasan Kota Tua.

Bangunan di kawasan tersebut, lanjut Asep, seharusnya dapat menjadi pusat perekonomian seperti dilakukan di Eropa. Kawasan bersejarah dapat dijadikan wilayah hunian tanpa mengubah bentuk asli dan juga obyek wisata. Sayang peluang tersebut belum dimanfaatkan di Jakarta.

Wilayah tersebut adalah surga bagi bangunan bersejarah. Di Jalan Kali Besar Barat terdapat Toko Merah yang dibangun Gubernur Jenderal Van Imhoff tahun 1730. Pada deretan bangunan di sebelahnya terdapat bekas gedung Bank Standard Chartered dan HSBC yang digunakan sebelum Perang Dunia II. Bangunan antik lain seperti Museum Fatahillah (bekas stadthuis atau balaikota) dan Museum Wayang bekas gereja juga berusia lebih dari tiga abad.

Riska, aktivis KPSBI, menjelaskan, bangunan bersejarah lain seperti Jembatan Kota Intan yang dibangun sekitar tahun 1628 masih dapat ditemui di kawasan yang sama. Bagian paling tua adalah kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang mulai tumbuh sejak abad ke-6 hingga masa perjanjian Kerajaan Pajajaran dengan Portugis tahun 1500-an.

Revitalisasi pecinan

Direktur Jakarta Old Town Kotaku Ella Ubaidi yang dihubungi mengatakan, upaya revitalisasi Kota Tua sudah mulai dirintis di kawasan pecinan. Memang di sekitar Kali Besar masih belum ada kehidupan. Tetapi di sekitar Pancoran dan Gang Gloria sudah mulai ditata, katanya.

Menurut Ella, mengacu pengalaman di mancanegara, kawasan Kota Tua tidak saja memiliki fungsi komersial, tetapi juga sebagai tempat hunian.

Itu penting agar terdapat aktivitas sosial sepanjang hari sebagai living heritage. Jenis hunian yang ada merupakan perpaduan yang mewakili sebanyak mungkin kelas sosial. (ONG)

Sumber: Kompas, 6 Maret 2006.

Iklan

%d blogger menyukai ini: