Kisah Hidup Si Kaleng Biskuit

Pada segmen pertama kawasan Braga yang dibatasi Jalan Asia Afrika dan Naripan terdapat sebuah bangunan unik. Keunikannya tampak dari bentuknya yang gemuk pendek. Di masa lalu, bangunan ini dijuluki blikken trommel atau kaleng biskuit.

”Kaleng biskuit” tersebut kini dinamai Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC). Awalnya, gedung ini adalah sebuah gedung bioskop bernama Majestic. Majestic berarti penuh keagungan.

Gedung ini merupakan satu dari 750 bangunan yang dipersiapkan Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Ir FJL Ghijsels untuk mempercantik Bandung yang pada tahun 1918 hendak dijadikan ibu kota Hindia Belanda. Pembangunan Kota Bandung terjadi pada kurun waktu 1918-1925.

Saat itu kondisi ekonomi Hindia Belanda berada dalam keadaan yang sangat baik. Orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung membutuhkan rekreasi berupa bioskop. Maka, pada awal tahun 1920, Technisch Bureau Soenda diminta melaksanakan pembangunan gedung bioskop. Pembangunan gedung itu dimulai tahun 1922.

Gedung bioskop tersebut dibangun oleh Prof Ir Wolf Schoemaker, guru besar Technische Hoogeschool (TH) te Bandoeng, yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Saat membangun gedung tersebut, alumnus Sekolah Zeni di Breda yang mengambil bidang teknik ini berusia 35 tahun. Lelaki yang sempat menjadi Letnan Zeni dan menjadi Rektor TH Bandoeng pada tahun 1934-1935 ini membuka biro arsitektur pada tahun 1971.

Betara Kala

Wolf memberikan ornamen Batara Kala pada bagian depan bangunan sebagai upaya membuat garis arsitektur baru di Hindia Belanda.

Bioskop Majestic mewakili gaya campuran teknik konstruksi modern dari barat dengan seni ukir tradisional Indonesia yang sering disebut gaya arsitektur Indo-Europeeschen Architectuur Stijl. Dua bangunan lain yang bergaya sama adalah Gedung Landmark dan Gedung Bank Indonesia.

Menurut Salmon Martana dalam arsitekturindis.com, pertunjukan film di Bioskop Majestic diadakan pukul 19.30-21.00. Siang sebelum pemutaran, pemilik bioskop berkeliling kota dengan kereta kuda untuk berpromosi sambil memperlihatkan poster film dan membagi selebaran.

Di muka bioskop biasanya sudah banyak pedagang dan pemusik. Para pemusik masuk ke bioskop menjelang pertunjukan sambil membawa alat musik, seperti biola, gitar, cello, dan tambur untuk memberi musik latar pada film bisu yang diputar. Saat itu bioskop juga melengkapi film bisu dengan komentator.

Proyektor yang ada hanya cukup untuk memutar satu reel film yang panjangnya sekitar 300 meter berdurasi 15 menit sehingga untuk film berdurasi satu jam, perlu jeda tiga kali. Saat jeda, ditayangkan iklan-iklan yang berupa gambar mati. Tempat duduk bioskop dibagi menjadi deret kiri dan kanan sebab penonton berbeda jenis kelamin harus duduk terpisah.

Bioskop ini pernah berganti nama menjadi Bioskop Dewi tahun 1960 dan menjadi Gedung AACC sejak sekitar tahun 2000.(ynt)

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006


%d blogger menyukai ini: