Batara Kala Menunggu di Braga

Yenti Aprianti

Tak ada yang memedulikan wajah seram itu. Gigi selebar wajah, hidung besar mengembang, dan mata melotot. Sebenarnya suasana sepi di sekitar bangunan itu telah mengisyaratkan kekalahannya. Namun, sorot mata tajam Batara Kala pada bangunan Landmark itu seakan menunggu terulangnya masa-masa jaya Braga pada tahun 1930.

Batara Kala, simbol hal-hal buruk dalam cerita berlatar kultur Jawa, menjadi satu tanda dari periode penting arsitektur di Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda.

Sebelum menjadi gedung pameran, tahun 1970, Gedung Landmark berfungsi sebagai Bioskop Pop. Pada awal dibangun tahun 1960, gedung itu adalah toko buku bernama Van Dorp.

Ir CP Wolff Schoemaker mendirikannya pada tahun 1922 dengan ornamen art deco. Gaya campuran dunia barat dan tradisional sering disebut sebagai gaya Indische. Schoemaker, guru besar Jurusan Arsitektur Technische Hoogeschool (sekarang ITB), menyerap gaya tradisional dengan memberi ukiran pada bangunan berkarakter Eropa.

Di sepanjang Braga, banyak gedung dengan ornamen art deco. Art deco adalah sebuah aliran yang populer saat itu—tak hanya memengaruhi seni bangunan, tetapi juga pakaian dan perabot rumah tangga.

Art deco ditandai dengan detail pada bangunan, seperti lampu dan ornamen titik, bunga, dan lainnya, di bagian dalam bangunan. Bangunan art deco amat menonjol di rumah toko (ruko) di seberang bangunan Braga Permai, juga di Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC).

Menurut Dr Ing Ir Widjaja Martokusumo, Koordinator Program Bersama Desain Perkotaan, Arsitektur ITB, sejak tahun 1900-1920 banyak arsitek Belanda yang membangun gedung di sekitar Braga. Selain Schoemaker, ada nama-nama Moojen, Ed Cuypers, Maclaine Pont, dan AF Aalbers.

Dari bangunan lama yang tersisa, menurut Widjaja, Braga memang dibangun sebagai jalur belanja. Ini tampak dari ciri khas identitas pusat kota, yaitu sempadan jalan nol. Titik terluar bangunan menempel trotoar, sehingga pejalan kaki bisa melihat-lihat barang yang dipajang. Jendela bangunan di Braga besar-besar karena berfungsi sebagai etalase.

Pada bangunan tengah tampak fungsi bangunan adalah sebagai toko dan rumah. Pada ”ruko” yang asli, ada dua pintu. Satu menuju toko, yang lain di samping; langsung tangga ke lantai atas—rumah pemilik.

Untuk kenyamanan dan ciri campuran bangunan Eropa dengan iklim tropis, dibangun arcade atau trotoar terlindung atap untuk menghindari terik matahari dan guyuran hujan.

Kawasan Braga merupakan kawasan yang teratur. Bangunan dibuat dengan melibatkan arsitek. Ada aturan soal besar bukaan, ketinggian, dan jarak bangunan. ”Berbeda dengan sekarang, semua orang membangun tanpa bantuan arsitek dan tidak peduli apakah bangunan itu betul atau salah,” ujarnya.

”Struktur yang dipakai masih konvensional, terlihat dari adanya kolom pada jarak-jarak tertentu,” kata Widjaja.

Tembok bangunan lama di Braga tebal seperti tampak di Gedung Merdeka dan Perusahaan Gas. Ini mencerminkan teknologi masa itu. Tembok tebal menunjukkan fungsi dinding, penahan beban langsung lantai atas. Adapun dinding bangunan masa kini berfungsi sebagai pengisi. Meski dinding hilang dibongkar, bangunan tak roboh.

Tiga segmen

Kawasan Braga dibagi menjadi tiga segmen, yaitu Jalan Asia Afrika-Jalan Naripan, Jalan Naripan-Jalan Lembong, Jalan Lembong-Jalan Perintis Kemerdekaan. Di tiap segmen ada bangunan pojok, tengah, dan bangunan yang berdiri sendiri.

Di segmen kedua, pejalan kaki bisa menikmati suasana pertokoan. Beberapa toko dibiarkan tetap berarsitektur lama atau dimodifikasi. Sebagian lagi dibiarkan telantar hingga keropos—seperti Toko Populair.

Pada segmen kedua ada Gedung Perusahaan Gas yang berimpitan dengan ruko-ruko art deco. Di segmen ketiga ada Gedung Landmark dan BI—yang khas Eropa bergaya Renaissance. Arsitektur merupakan ekspresi budaya sebuah masyarakat.

Bangunan-bangunan khas di Braga menjadi salah satu kontributor bagi identitas Kota Bandung. Bahkan, tahun 1933 tata kota Kota Bandung pernah diperlihatkan dalam Kongres Internasional di Athena sebagai contoh kota kolonial.

Kini, di antara deretan bangunan kuno di Braga, telah berdiri kompleks apartemen dan hotel Braga City Walk. Widjaja berharap pemerintah mampu melakukan antisipasi agar keberadaan pemukiman baru yang akan membawa penduduk baru tidak mengakibatkan kemacetan yang akhirnya menyebabkan peruntuhan bangunan lama dengan dalih pelebaran jalan.

Keunikan bangunan Braga mampu menggerakkan kembali wisata arsitektur yang tidak hanya berorientasi pada budaya konsumtif. Wisata arsitektur tersebut pernah dikembangkan sekitar tahun 1998 dan peminatnya cukup banyak. Sayangnya, papar Widjaja, pemerintah kota tidak serius mengembangkannya.

Sorot mata Kala masih tajam mengikuti perjalanan Braga. Akankah keindahan itu dibiarkan saja?

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006


%d blogger menyukai ini: