Memberi Kebebasan Dinding Tawang Bernapas

Oleh: Ni Komang Arianti

Kawasan Kota Lama di Semarang, Jawa Tengah, sejak lama dikenal sebagai Little Netherland di Indonesia oleh warga Belanda. Di kawasan ini elok rupa bangunan kuno peninggalan zaman Kolonial Belanda masih bisa disaksikan, tak terkecuali kemegahan bangunan Stasiun Semarang Tawang.

Dalam usia 95 tahun, PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi (Daop) IV Semarang berencana merestorasi bangunan yang didirikan tahun 1911 itu. Bangunan dengan pilar dan tembok kokoh serta puncak atap berbentuk kubah itu merupakan aset stasiun PT KA yang membanggakan.

Dari penelitian para arsitek pencinta bangunan bersejarah, material dasar bangunan stasiun ini pada waktu didirikan berasal dari batu yang dilapisi semen tumbukan bata merah dan kapur. Cat yang dipergunakan juga masih sederhana, hanya kapur. Kami berupaya restorasi bangunan ini menggunakan material dasar semula, kata Kepala PT KA Daop IV Semarang Rono Pradipto, Selasa (14/2).

Upaya merestorasi bangunan stasiun yang didirikan perusahaan KA swasta Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), layaknya embusan angin segar menyejukkan. Sekitar akhir Januari 2006 banjir setinggi hampir 50 sentimeter merendam seluruh areal stasiun. Banjir seolah menenggelamkan kemegahan bangunan Stasiun Semarang Tawang.

Penyebab banjir, selain curah hujan yang tinggi tiga hari berturut-turut dan air pasang laut Jawa, juga hilangnya area resapan di sebelah utara stasiun. Rawa yang dahulu melingkupi bagian utara stasiun sejak 1985 berubah menjadi permukiman.

Banjir merupakan hantu yang harus dihadapi bangunan Stasiun Tawang. Namun, gunungan sampah di tambak sebelah timur stasiun juga musuh utama yang harus dihadapi.

Restorasi Stasiun Semarang Tawang baru satu langkah yang harus ditempuh untuk melestarikan bangunan bersejarah ini. Rencananya, restorasi meliputi penggantian lapisan dinding pada bangunan stasiun yang menggunakan semen abu-abu atau portland cement (PC), serta cat tembok emulsi.

Salah satu ruangan yang segera direstorasi dindingnya adalah lobi utama stasiun. Lobi ini dirancang Belanda sesuai fungsi Stasiun Tawang, sebagai pintu masuk utama Kota Semarang.

Tidak mengherankan apabila desain lobi stasiun ini sangat anggun. Warna putih menutup hampir semua dinding lobi. Warna coklat tembaga menjadi penghias ornamen bangunan dan hiasan lainnya. Pahatan batu yang melukiskan dua lokomotif dan rangkaian gerbong menghiasi keempat sisi tembok.

Tjahjono Rahardjo, salah satu tim peneliti dari Teknik Arsitektur Unika Soegijapranata dan pencinta Stasiun Semarang Tawang, menjelaskan saat ini lapisan semen dan cat yang melapisi dinding bangunan stasiun tersebut berupa semen abu-abu dan cat tembok emulsi. Lapisan ini tidak memiliki pori-pori, sehingga tekanan daya kapiler air pada tembok cenderung naik ke atas berakibat pengelupasan cat.

Penggunaan semen abu-abu dan cat emulsi itu disebabkan ketidaktahuan pihak yang waktu itu mengecat dan memperbaiki lapisan dinding awal bahwa semen abu-abu dan cat emulsi justru memperpendek usia bangunan. Kami berupaya mengembalikan pada lapisan semula, agar dinding stasiun itu dapat bernapas, tutur Tjahjono.

Bangunan stasiun yang dirancang arsitek Belanda Sloth- Blauwboer memakai semen dari tumbukan bata merah dan cat dari kapur. Kuas untuk mengecat bangunan ini pun waktu itu menggunakan merang (jerami).

Menurut Tjahjono, semen tumbukan bata merah dan cat non-emulsi, membantu penguapan air pada dinding stasiun. Jadi tekanan daya kapiler air dari permukaan tanah, tidak terus-menerus naik dan menyebabkan kerusakan dinding.

Dari penelitian, diketahui ketinggian air yang merembes pada lapisan dinding Stasiun Semarang Tawang, mencapai 1,5 meter dari permukaan tanah.

PT KA dan tim pencinta bangunan Stasiun Semarang Tawang akan merestorasi lapisan dinding stasiun secara bertahap.

Restorasi Stasiun Semarang Tawang bukan sekadar upaya memberi kebebasan pada dinding stasiun leluasa bernapas. Restorasi ini menyadarkan betapa pentingnya pelestarian bangunan stasiun sebagai aset dan bagian dari sejarah perkeretapian Indonesia yang genap berusia 139 tahun pada tahun ini.

Sumber: Kompas, 15 Februari 2006

Iklan

%d blogger menyukai ini: