Wajah Fungsionalisasi Bangunan Kuno

Oleh: Tri Agung Kristanto

Bangunan kuno, di mana pun di negeri ini, kerap diidentikkan dengan suasana yang temaram, dinding yang dipenuhi lumut, runtuh pada sebagian bagiannya, dan bernuansa angker. Akan tetapi, bayangan itu sama sekali tidak tampak pada sebuah rumah bergaya art deco yang didirikan tahun 1938 di Jalan Dr Radjiman 501, Solo, Jawa Tengah.

Meski dinding bagian depannya, yang menjadi tempat ”menempelnya” dua pintu gerbang kokoh yang terbuat dari kayu jati, dihiasi tanaman merambat, tidak ada kesan angker. Tak ada dinding yang retak, seperti rumah kuno pada umumnya. Bahkan, memasuki bagian dalam, terasa keramahan rumah keluarga, seperti keramahan warga negeri ini di masa lalu.

Sebagai bangunan bergaya art deco, rumah yang didirikan Ny Poespo Soemarto, saudagar batik dari perkampungan batik solo, Laweyan, langsung menyergap perhatian siapa pun yang datang dengan keindahan ornamen kaca dalam timahnya (kaca patri). Hampir setiap sudut bangunan ini dihiasi ornamen kaca warna-warni yang masih utuh.

Berbagai ornamen kaca patri tersebut semakin mengokohkan citra rumah ini sebagai kediaman orang kaya Solo pada masa lalu, yang elegan dan berselera tinggi. Apalagi, bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1.950 meter persegi itu masih utuh, dengan kelengkapan ruangan seperti ”rumah besar” pada masa lalu di Jawa, yakni mempunyai pendopo, tempat untuk menerima tamu dan melakukan aktivitas lainnya.

”Bangunan rumah ini masih seperti saat didirikan, terutama bangunan induknya. Hampir tidak ada perubahan dari bangunan aslinya, kecuali perubahan fungsi ruangan,” ungkap Supardi, penjaga rumah yang sudah tinggal di rumah itu sejak tahun 1982.

Pendopo kini difungsikan sebagai lobi dan ruang penerima tamu, karena sejak tahun 2001 rumah juragan batik ini difungsikan sebagai rumah makan. Pada tahun 2002 dikembangkan menjadi guest house, bukan hotel, yang hanya menawarkan 13 kamar, dengan nama Roemahkoe Bed and Breakfast. Namun, kamar untuk tamu dan tempat untuk makan itu juga tidak ”merusak” komposisi dan fungsi bangunan induknya.

Selain pendopo, bangunan induk rumah keluarga Jawa pada masa lalu memiliki krobongan. Ruangan untuk keluarga di Roemahkoe sampai kini pun masih dipertahankan, dengan tidak dimanfaatkan untuk ruang apa pun, kecuali sebagai ruang keluarga. Di ruang ini, ”simbol” krobongan masih dipertahankan, yakni adanya lemari kaca ”terbuka” yang menyimpan bantal dan guling.

Bantal dan guling itu menggambarkan kehangatan keluarga. ”Ruangan ini tidak dipakai untuk keperluan lain, selain sebagai simbol ruang keluarga,” ujar Ari Kurniawan, Operation Manager Roemahkoe, pekan lalu.

Tamu dan pengunjung rumah itu hanya boleh memanfaatkan ruangan ini untuk sekadar duduk di atas karpet di depan lemari kaca atau sekadar melihat-lihat. Tidak ada aktivitas lain yang boleh dilakukan.

Krobongan terletak tepat di belakang pendopo. Di belakang krobongan, terdapat sentong. Pada rumah keluarga Jawa pada masa lalu, sentong biasanya dipakai sebagai ruangan tidur kepala keluarga (bapak dan ibu) atau menjadi tempat menyimpan barang berharga, termasuk pusaka dan songsong (payung) untuk keluarga bangsawan.

Sentong di Roemahkoe pun masih dipertahankan, seperti saat didirikan. Namun, tidak ada lagi tempat tidur kepala keluarga di ruangan itu. Ruangan ini kini difungsikan sebagai perpustakaan dan ruang baca. Bukankah buku pun merupakan barang berharga, yang bisa menjadi payung (pelindung) kita dari kebodohan.

”Tamu dipersilakan membaca buku koleksi perpustakaan kami di ruangan ini,” papar Ari. Beranda depan dan samping bangunan induk tetap dipertahankan seperti semula. Fungsi beranda depan, yang pada masa lalu biasanya dipakai menerima kerabat, kini dimanfaatkan untuk ruang duduk tamu. Kalau tamu menghendaki, di ruang ini juga bisa dilakukan konsultasi pawukon (horoskop Jawa) dengan ahli yang diundang pengelola Roemahkoe.

Beranda samping dipertahankan sebagai ruang aktivitas keluarga. Kini di ruangan ini tamu Roemahkoe bisa belajar membatik dengan peralatan, canting dan malam, serta kain yang disediakan pengelola.

Fungsionalisasi ruangan

Dengan mempertahankan ruangan bangunan induk, Roemahkoe memang tidak mempunyai banyak tempat untuk tamu restorannya. Bangunan yang kini dimiliki kakak-beradik Ny Minul Haryanto dan Ny Krisnina Maharani Tandjung itu hanya menyisakan beranda belakang untuk tempat makan tamu.

Tidak banyak tamu yang bisa dijamu. Kapasitas tempat duduk sekitar 50 orang saja. ”Tetapi, kalau mau menggelar standing party, bisa sampai 200 orang yang tertampung,” ungkap Ari lagi. Pesta ini pun hanya bisa memanfaatkan ruang bagian belakang, bukan di krobongan atau sentong.

Jamuannya juga makanan tradisional Jawa, termasuk bisa memesan sayur lodoh pindang yang sudah jarang ditemui. Jika memakai meja makan, memang dimungkinkan memesan aneka steak gaya Eropa. Karena, orang kaya di Solo pada masa lalu pun biasa menikmati steak daging maupun ikan.

Adapun 13 kamar yang ditawarkan untuk disewa menempati bangunan kamar dan (bekas) ruangan lain yang berada di sekitar bangunan induk. Deretan kamar ini membentuk huruf U, di samping kiri-kanan dan belakang rumah induk.

Salah satu kamar yang ditawarkan, royal suite, benar-benar masih menggunakan material bangunan awal Roemahkoe, termasuk lantainya. Bahkan, di kamar ini tamu bisa merasakan tidur di atas tempat tidur kuno, yang masih menggunakan satu per serta berkonstruksi besi batangan yang kokoh, peninggalan Ny Poespo Soemarto.

Supardi mengisahkan, tempat tidur itu adalah ranjang pengantin saudagar batik dan sebelumnya berada di sentong. Di samping kamar royal suite ini, terdapat ruang makan dan bangunan tambahan untuk tempat gamelan, yang dimainkan secara rutin setiap Sabtu malam.

Kamar lainnya adalah (bekas) kamar anak-anak Ny Poespo Soemarto. Sebagian lagi adalah bekas ruang untuk pekerja membatik serta gudang bahan dan hasil batik. Bahkan, Supardi menjelaskan, ada juga kamar yang awalnya adalah lorong koridor dari rumah itu ke rumah lain, di kiri-kanannya, yang dahulu juga dimiliki juragan batik asal Laweyan tersebut.

Ruangan itu, termasuk gudang dan lorong, ditata kembali sehingga kini nyaman menjadi ruangan tidur dengan ornamen dan furniture modern dan klasik. Fungsionalisasi dan pengoptimalan ruangan, dengan tanpa mengubah fungsi maupun komposisi rumah kuno juragan batik Laweyan itu, setidak-tidaknya membuat kita tidak kehilangan sebuah wajah Solo di masa lalu.

Sumber: Kompas, Jumat, 09 Desember 2005


%d blogger menyukai ini: