Pengrusakan atau Renovasi ?

Wajah gedung daerah
Hilangnya bagian belakang Gedung Daerah Tanjungpinang, akibat proses renovasi yang dilakukan sekarang sangat disayangkan oleh sejarahwan, Aswandi.

TG PINANG – Padahal bagian belakang itu merupakan sisa bagian yang asli, paska renovasi sekitar tahun 1970 yang menghilangkan keaslian bentuk depan bangunan kediaman residen kolonial Belanda, yang dibangun di awal tahun 1.800-an. Sebab, renovasi yang dilakukan tidak sesuai dengan bentuk aslinya. Karenanya, tanpa ragu dia mengatakan, proses renovasi yang dilakukan sekarang sebagai proses pengrusakan.

‘’Ini proses pengrusakan yang kedua kalinya, setelah renovasi serupa tahun 1970 yang menghilangkan keaslian bagian depan Gedung Daerah. Namun, masih menyisakan keasliannya di bagian belakang, yang sekarang juga dirusak. Ini sangat kita sayangkan,” kata Aswandi menjawab Batam Pos, Kamis (23/11).

Menurutnya, dia sangat mendukung proses renovasi bangunan bersejarah, yang disebut penulis Eropa sebagai Pride of Riow atau kebanggaan Riau. Dengan catatan, tidak menghilangkan bentuk aslinya. Sebab, bangunan ini dirancang dengan arsitektur bergaya asli romandonic atau campuran gaya Romawi, dan Yunani.

Selain kekhasan arsitekturnya, yang sama sekali tidak dapat ditepikan, adalah nilai sejarah bangunan ini yang menyertai sejarah Tanjungpinang, Riau, dan Indonesia. Karenanya, renovasi seharusnya dilakukan dengan sangat hati-hati. Bahkan, jika perlu dengan mencantumkan foto asli bangunan. Sehingga, hasilnya bisa nyaris serupa dengan aslinya.

Senada dengannya aktivis pemuda di Tanjungpinang, M Nur, yang juga Ketua LSM Forum Peduli Masyarakat Kota Tanjungpinang juga sangat menyayangkan proses renovasi yang terkesan serampangan itu. Menurutnya, bangunan ini harus dijaga kelestariannya.

Sepatutnya, ujarnya, kalau memang diperlukan ruangan yang lebih luas, jangan merusak bangunan asli. Karena, di sisi kanan, dan di sisi kiri bangunan Gedung Daerah masih ada bangunan lain yang bisa dikorbankan.

Termasuk, lapangan tenis yang dinilainya sudah tidak patut lagi berada di area Gedung Daerah tersebut.
‘’Kita bisa lihat renovasi Candi Borobudur yang dilakukan dengan sangat hati-hati, dan hasilnya nyaris serupa dengan aslinya. Renovasi yang dibantu dengan dana internasional itu menggambarkan, pentingnya pelestarian jejak sejarah yang ada,” tegas M Nur. (git)

Sumber: Batam Pos, Jumat, 25 November-2005

Iklan

%d blogger menyukai ini: