Benteng Portugis – Simbol Keperkasaan dan Kelembutan

SEORANG bocah berusia kurang dari 10 tahun berkacak pinggang di sebuah reruntuhan batu. Tak sekecap pun kata terucap dari mulutnya. Sejenak ia mengangkat dan menginjakkan kaki kanannya ke atas batu-batu tua.

Dari perbukitan itu, ia menyaksikan sebuah pulau, berikut selat samudera yang terlihat di antara semak dan pohon. Kalau melihat ke arah Laut Jawa, lokasi itu memang paling tinggi. Di situ, dia juga cukup jelas melihat perahu yang melintas dari arah mana pun.

Setelah merasa cukup dalam melihat situasi, bocah itu beranjak dari tempatnya dan menuruni satu demi satu undakan di hamparan pantai berbatu. Sangat artistik guratan yang ada di batu-batu itu. Karena gerusan air laut selama bertahun-tahun, bongkahan batu-batu besar itu layaknya diukir rapi. Hanya ada keindahan duduk di atas batu-batu dengan relief natural, sambil menikmati kelembutan ombak laut.

Di Benteng Portugis, bocah itu menikmati pemandangan. Sejarah mencatat tempat tersebut sebagai benteng pertahanan. Pada 1632, Sultan Agung, Raja Mataram bekerja sama dengan Portugis, penjajah pemula bumi nusantara, berencana membentengi wilayah dari ancaman Belanda. Setelah menaklukkan Jayakarta pada 1619, imperalis Belanda dianggap menjadi ancaman serius bagi Mataram. Dua kali, tepatnya pada 1628 dan 1629 Mataram menuai kekalahan dalam peperangan dari Belanda.

Ada satu strategi Sultan Agung yang tercatat dalam sejarah, bahwa kekuatan Belanda akan patah jika diserang lewat darat dan laut secara bersamaan. Sultan mencoba menggandeng Portugis untuk berlindung sekaligus menyerang kekuatan penjajah baru itu. Pada 1632 dibangunlah benteng, yang saat ini dikenal dengan Benteng Portugis, terletak di Desa Banyumanis Kecamatan Keling Jepara, sekitar 45 km arah utara pusat kota. Selain untuk markas, benteng itu cukup strategis untuk menjaga lalu lintas pelayaran ke kota Jepara yang kala itu menjadi bandar utama Mataram untuk kegiatan ekspor impor. Apalagi terdapat pulau Mandalika, sekitar 3 km arah utara benteng.

Hanya, Portugis akhirnya angkat kaki dari benteng dan memupus kerjasama dengan Mataram setelah pada 1642 Belanda berhasil mengambil alih Malaka, markas utama Portugis.

Sisa-sisa sejarah itu bisa dikenang dengan anda menjejakkan kaki di lokasi itu. Masih benteng dari susunan batu-batu yang melingkar di bukit itu. Sepintas, kesan sebagai lokasi kehidupan militer terasa. Puing benteng itu menjadi tempat yang menyejukkan dan terasa begitu lembut dengan panoramanya. Lihatlah anak-anak yang sedang liburan di tempat itu. Nyaman benar tempat itu untuk bermain layang-layang, berburu binatang-binatang laut yang berkelindan di antara bebatuan.

“Dari pagi sampai sore sangat indah menikmati obyek wisata disini. Suasana perbukitan dan pantai menjadi satu,”tutur Zuhdi, seorang pengunjung dari luar kota.

Harus Dibenahi

Pengunjung lain pun berkata masih banyak yang harus dibenahi untuk menyajikan kawasan wisata di daerah pedalaman itu. Jalan reguler cukup memadai, namun fasilitas di dalam kawasan masih perlu ditambah.

Bayangkan, di obyek wisata bersejarah itu hanya ada satu dua mainan untuk anak dan beberapa gazebo pelindung dari terik dan hujan.

Beberapa warung tampak menjajakan menu-menu ala kadarnya, dan belum ada yang khas dari sajian menu yang ditawarkan.

Gapura pintu masuk memang telah dibangun, namun beberapa ratus meter kanan kiri jalan menuju lokasi masih belum terawat dengan baik. Akan menjadi indah jika dekat pintu masuk itu bisa tampil memikat. Kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang ada di dua desa penyangga, Desa Banyumanis dan Desa Ujungwatu bisa lebih diberdayakan untuk membuat kultur Benteng Portugis menjadi wisata andalan.

“Masyarakat desa penyangga memiliki potensi untuk berkembang. Seni dan budaya lokal Jepara mestinya bisa terjual di tempat bersejarah itu. Mereka saat ini sudah mulai sadar, dan akan terbuka untuk diajak maju,”kata Sukamto, pengelola Benteng Portugis.

Meski demikian, dia tak tahu apakah potensi itu akan benar-benar menjadi kenyataan, jika Benteng Portugis masih dianggap sebagai obyek wisata nomor sekian.

Monumen bidak catur mirip sebuah benteng di dekat pintu masuk itu harus menjadi inspirasi bagi dinas pariwisata untuk menyusun strategi untuk mengembangkan kawasan wisata tersebut. Namun demikian, ada banyak keterbatasan untuk pengembangan kawasan itu. “Yang bisa dilakukan sekarang harus segera dilakukan,”imbuh Sukamto. (Muhammadun Sanomae-61).

Sumber: Suara Merdeka, Selasa, 22 Nopember 2005


%d blogger menyukai ini: