Revitalisasi Kawasan Pusaka di Berbagai Belahan Bumi

Penulis: Laretna T. Adishakti

Pembangunan kota tidak jarang meninggalkan kawasan tertentu yang justru mati tanpa sinar kegiatan. Meskipun tanda kehidupan yang pernah berkibar dan mengukir sejarah masih tersisa. Bangunan-bangunan pusaka kumuh tak terurus menjadi penanda.

Ketika ada upaya untuk revitalisasi—membangkitkan kembali vitalitas—banyak benturan dihadapi. Umumnya bermuara pada konsep yang tidak tepat.

Di antaranya: (a) sekadar pemolesan fisik belaka; (b) tidak menyentuh properti individu masyarakat dan roh kawasan; (c) terjebak paradigma bahwa pelestarian pusaka bertentangan dengan pengembangan ekonomi.

Persoalan menghidupkan kembali kawasan pusaka melalui kaidah pelestarian justru harus terpadu dengan pengembangan ekonomi. Di samping partisipasi penghuni yang mutlak perlu.

Konsekuensinya pasti membutuhkan waktu panjang. Karena, revitalisasi harus ditumbuhkan dengan akar yang kuat agar mampu berkembang secara berkelanjutan, sepanjang masa.

Berbagai revitalisasi yang telah sukses diupayakan lebih dari 30 tahun di banyak negeri bisa dipelajari. Ada enam pendekatan yang tersarikan menjadi tulang punggung upaya ini.

Pertama, adanya organisasi yang mengelola langsung revitalisasi. Melalui organisasi ini dibangun kesepakatan dan kerja sama antarkelompok dan perseorangan yang berperan serta tahapan pelaksanaan kegiatan di masa depan.

Bentuk organisasi beragam. Di Amerika Serikat, banyak yang langsung ditangani pemerintah setempat. Misalnya Kota Savannah, Georgia; kawasan Society Hill, Philadelphia; kawasan Dupont Circles, Washington, DC, dan lain-lain. Meskipun bermitra juga dengan LSM setempat dan pihak swasta.

Di pihak lain, sejak tahun 1977 Amerika Serikat memulai upaya revitalisasi kawasan komersial yang kemudian dikenal dengan istilah Main Street Program (MSP). Berawal dengan pilot projects di tiga lokasi, kini diaplikasikan lebih dari 1.600 komunitas, tersebar di berbagai negara bagian. Masing-masing komunitas memiliki organisasi pengelola yang independen dan profesional.

Di Jepang, revitalisasi kawasan pusaka umumnya langsung dikelola organisasi penghuni sendiri. Bahkan organisasi yang mengandalkan partisipasi masyarakat (machizukuri) ini telah memiliki jaringan secara nasional dan rutin mengadakan seminar tahunan. Dalam seminar, diadakan pula kunjungan dan dialog langsung dengan penghuni kawasan pusaka setempat.

Sementara revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko, sebuah proyek nasional yang melibatkan banyak lembaga, nasional dan internasional, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan Maroko. Tetapi pengelolaan serta pelaksanaan teknis diserahkan kepada sebuah lembaga independen yang khusus dibentuk, yaitu Ader Fez.

Kedua, dokumentasi dan presentasi yang selalu terbarui. Adalah mutlak dilakukan inventarisasi secara menyeluruh potensi dan masalah kawasan. Termasuk fisik dan nonfisik, baik pusaka atau tidak.

Hasil inventarisasi disusun dalam dokumentasi yang terus diperbarui dan mudah diakses oleh publik. Dokumentasi menjadi dasar pertimbangan aksi revitalisasi. Termasuk memanfaatkan pula sebagai materi promosi. Seperti peta jelajah pusaka, web-site, pameran sepanjang tahun, dan lain-lain.

Di Fez, Maroko, lembaga independen Ader Fez menangani semua dokumentasi dan pembaruannya dengan menggunakan GIS. Di banyak negara, proses inventarisasi dan dokumentasi bisa mencapai waktu dua tahun lebih, bahkan program revitalisasi belum dilaksanakan.

Untuk promosi data kepada publik, American Express Foundation, New York, memberikan hibah pembuatan Peta Jelajah Pusaka (Heritage Trail Map). Penerima hibah antara lain kawasan lama Malaka; kawasan George Town-Penang; kawasan pusaka nJeron Beteng Kraton, Yogyakarta.

Ketiga, promosi. Pendekatan ini perlu dimulai sebelum revitalisasi. Awalnya ditujukan pada masyarakat lokal, pemerintah, dan berbagai pihak terkait. Promosi dan pemasaran selanjutnya kepada pembeli, pengembang potensial, pelaku bisnis baru, dan wisatawan.

Seperti promosi dalam revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko. Salah satunya melalui Festival Musik Sakral Dunia yang rutin diselenggarakan di sana setiap tahun. Dihadirkan kelompok musik sakral dari berbagai negara. Dan tak pelak, banyak wisatawan berdatangan pula.

Minat pihak luar terhadap pusaka Fez akan mendorong rasa memiliki bagi warganya. Karena sebelumnya banyak penduduk tidak menyadari akan nilai budaya yang terkandung di kotanya. Mengingat sepertiga dari 150.000 keluarga yang bermukim di Kota Lama ini merupakan golongan berpenghasilan rendah. Kekumuhan ada di sana-sini. Padahal, tahun 1976 kota ini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Kota Pusaka Dunia.

Keempat, mewujudkan roh/kegiatan kawasan pusaka yang akan membuat vitalitas kawasan tumbuh kembali. Bahkan, bila perlu mencangkokkan roh baru. Ini merupakan hakiki upaya revitalisasi yang justru sering terabaikan.

Salah satu contoh revitalisasi kawasan pusaka pusat kota Nagahama, Jepang. Kerajinan gelas yang sebelumnya tidak ada di kawasan ini justru dihadirkan dan digelorakan sebagai citra industri kota yang baru. Sebuah komoditas yang bernilai seni dan jual tinggi serta, tanpa merusak, mampu mengisi bangunan dan kawasan pusaka yang sebelumnya terbengkalai. Kerajinan ini sekarang menjadi sumber utama pendapatan masyarakat.

Singapura sangat gigih dalam mewujudkan kembali roh kawasan-kawasan revitalisasinya. Meskipun banyak kegiatan baru yang berlebihan dicangkokkan.

Kelima, meningkatkan rancangan fisik kawasan. Dilaksanakan melalui rehabilitasi bangunan pusaka dan membangun desain pengisi (infill design) yang tepat. Juga memformulasikan arahan desain (design guidelines) tanpa merusak kualitas tatanan yang ada. Justru meningkatkan serta mewadahi kebutuhan kontemporer.

Umumnya, revitalisasi kawasan didukung adanya lembaga struktural yang mengelola penampilan fisik kawasan. Di antaranya dalam bentuk Komisi Pertimbangan untuk Kawasan Pusaka (Historic District Commission) dan unit pelaksana teknik pelestarian di bawah Dinas Tata Kota dan Bangunan.

Keenam, mengembangkan dan menciptakan ekonomi kawasan setempat melalui berbagai terobosan dan kesempatan baru tanpa merusak tatanan kehidupan lokal.

Umumnya, revitalisasi yang dikendalikan secara benar dalam waktu panjang kini merupakan daerah bernilai ekonomi tinggi. Padahal, rata-rata 30-40 tahun lalu merupakan daerah kumuh yang dihindari orang.

Menanggulangi kemiskinan

Revitalisasi, salah satu tujuannya, adalah juga untuk menanggulangi kemiskinan, seperti di Kota Lama Fez. Untuk itu, sumber daya manusia harus ditingkatkan pula. Sejalan dengan revitalisasi Kota Pusaka di Maroko ini dibuka Community Colleage (tiga tahun) bidang teknik pelestarian pusaka arsitektur. Dan, perguruan tinggi bidang arkeologi, arsitektur, dan ekonomi yang sudah ada di Maroko membuka pelajaran khusus pengelolaan pusaka budaya.

Pelajaran lain dari MSP di Amerika Serikat yang hampir 30 tahun dijalankan. Kini, secara kumulatif rerata komunitas akan menerima 39 dollar AS dari setiap 1 dollar AS ditanamkan. Memberikan 226.900 lapangan kerja baru dan 56.300 bisnis baru diciptakan. MSP menjadi salah satu strategi pengembangan ekonomi yang sangat berhasil di AS.

Mencermati berbagai revitalisasi kawasan pusaka tersebut, keenam pendekatan di atas perlu dijalankan secara simultan dan berkelanjutan. Meskipun perlu dipahami bahwa setiap kasus memiliki keunikan dan permasalahan masing-masing yang solusinya akan berbeda-beda.

Laretna T Adishakti Pengajar Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT UGM dan Penggiat Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (Indonesian Heritage Trust)

Sumber: Kompas, Minggu, 13 November 2005.


%d blogger menyukai ini: