Pasar Tanah Abang Blok A Pasar Tradisional dengan Sentuhan Modern

Untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan sistem sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter.

Namanya Ricky Alaydrus. Pria berusia 29 tahun ini pernah menimba ilmu di Amerika Serikat. Usai menyelesaikan studinya di Negeri Paman Sam, Ricky bekerja di sebuah perusahaan elektronik di sana. Karirnya menanjak sehingga berhasil meraih posisi sebagai general manager.

Namun, pada 2002 Ricky memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena rindu dengan orang tua dan tanah kelahirannya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ricky memilih untuk membuka usaha sendiri dengan berdagang di Pasar Tanah Abang Blok A.

Pemilihan tempat berdagang di pasar ini dilandasi dengan pertimbangan lokasi yang strategis, lingkungan yang aman dan nyaman.”Keberhasilan sebuah usaha sangat tergantung dari keinginan, keahlian, dan usaha kita sendiri,” ujarnya seperti dikutip A-Kita, media internal Pasar Tanah Abang Blok A.

Ricky adalah salah satu dari ribuan pedagang di Pasar Tanah Abang Blok A. Pascakebakaran pada 2002 Blok A kini memang berubah menjadi sebuah pusat bisnis yang megah. Arsitektur bangunannya khas dengan corak Betawi yang dipadukan dengan sentuhan dan nuansa Islam. Alhasil, Pasar Blok A menjadi pusat perbelanjaan modern yang juga menjadi simbol pelestarian budaya lokal Betawi.

”Sebagian besar pedagang pasar Blok A adalah warga sekitar yang asli Betawi. Dan mayoritas mereka beragama Islam. Karenanya, kami konsep bangunan Pasar Blok A ini dengan arsitektur khas Betawi tapi kami beri sentuhan Islam,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya. Perusahaan ini adalah pengembang Pasar Tanah Abang Blok A.

Modern pascakebakaran
Pascakebakaran, pasar Blok A memang mengalami perubahan wajah yang cukup drastis jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Jika semula pasar ini adalah pasar tradisional yang kumuh, sumpek, panas, dan tidak nyaman, kini Blok A menjadi sebuah bangunan megah yang berkonsep modern. Fasilitas dan prasarana yang ada di dalamnya tidak kalah dengan pusat perbelanjaan (shopping mall) maupun pusat perdagangan (trade center) modern.

Di bangunan seluas 151.202 meter persegi ini terdapat 149 unit eskalator, empat unit passenger lift (capsule), dan empat unit passenger lift biasa. Di gedung 18 lantai ini juga tersedia delapan unit lift barang (kapasitas 1.000 dan 2.000 kilogram), AC central, tiap kios memiliki satu line telepon, serta sejumlah fasiltas lainnya.

Soal parkir tidak lagi menjadi kendala, karena lahan parkir yang tersedia mampu menampung dua ribu mobil. Namun, ciri khas pasar Blok A sebagai pusat grosir tekstil dan garmen, khususnya busana muslim, tidak lantas hilang.

Sedangkan untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan beberapa sistem. Ada sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter.

Fire roller shutter adalah sistem pengamanan kebakaran yang membagi ruangan menjadi tiga kompartemen. Apabila terjadi kebakaran di lantai tertentu, maka motor roller shutter akan bekerja secara otomatis menutup daerah kompartemen yang terbakar dengan sekat antikebakaran. Sekat ini mampu menahan kobaran api selama empat jam.

”Pasar Blok A tetap menjadi pasar tradisional pusat grosir tekstil dan garmen. Hanya saja, sekarang sentuhannya modern. Jadi, Blok A merupakan pasar tradisional namun dengan sentuhan modern,” ungkap Faridz.

Karena tetap menjadi pasar tradisional, harga yang berlaku di sini juga layaknya harga pasar tradisional, namun dengan kualitas barang yang tetap terjaga. Artinya, harga barang di Blok A yang sudah dibangun dengan konsep modern tidak berbeda dengan harga di Blok B, C, dan D yang masih berupa pasar tradisional tanpa sentuhan modern. ”Di sini lah kelebihan pasar Blok A. Meski sentuhannya modern, harga tetap pasar tradisional,” ujar Faridz menegaskan.

Miniatur Indonesia
Pasar Blok A terdiri dari 12 lantai pertokoan, 5 lantai parkir, dan satu lantai food court. Di bagian atap terdapat masjid yang mampu menampung dua ribu jamaah.

Tiap lantai terbagi dalam beberapa zoning yang masing-masing menjual komoditi yang sama. Selain padagang lokal Jakarta (Betawi), para pedgaang di Pasar Blok A juga berasal dari beragam etnis. Misalnya Padang, Makassar, Jawa, keturunan Arab dan Tionghoa, dan sebagainya.

”Pedagang di sini multi etnik karena dari semua suku ada. Jadi seperti miniatur Indonesia. Namun mereka kompak dan tidak bersaing secara tidak sehat,” ujar Faridz menerangkan.

Pemilik kios di sini biasanya juga memiliki kios di Blok yang lain, yang diatasnamakan isteri atau anaknya. Dengan demikian, harga yang berlaku di Blok A sama dengan di Blok lain karena memang pemiliknya sama.

Karena merupakan pusat grosir, maka para pemilik biasanya langsung menunggui kiosnya dan tidak diserahkan kepada pembantu atau pekerjanya. Sebab ketika bertransaksi dengan pembeli, banyak keputusan yang harus langsung diambil sendiri oleh pemilik kios dan bukan oleh pembantunya.

”Karena pusat grosir, maka banyak negosiasi yang akan terjadi. Dan itu harus dilakukan sendiri oleh pemilik kios. Misalnya negosiasi tentang harga, pembayaran utang, desain kain, dan sebagainya. Sebab pembeli biasanya kan membeli dalam partai besar jadi harus diputuskan sendiri oleh pemilik kios. Ini beda dengan kios retail biasa,” jelas Faridz.

Dengan kondisi saat ini yang lebih nyaman dan aman jika dibandingkan sebelum terbakar, maka Pasar Blok A makin diminati oleh pengunjung dan pembeli. Tren yang saat ini terjadi, pembeli lebih suka berbelanja di Blok A daripada di Blok B, C dan D karena suasananya yang berbeda.

Bahkan menjelang Hari Raya Idul Fitri saat ini, pengunjung di Pasar Blok A bisa mencapai seratus ribu orang per hari.”Sekarang pembeli di Blok A makin meningkat. Sementara di Blok yang lain justru menurun,” ujar Faridz.

Mengundang Pembeli dari Mancanegara
Sekitar 300 tahun yang lalu pemerintah Kolonial Belanda membangun Pasar Tanah Abang di sebuah kawasan yang diberi nama Weltevreden yang berarti benar-benar puas. Sejak saat itu, Pasar Tanah Abang menjadi magnet bisnis yang besar di Jakarta.

Bahkan, dalam perkembangannya Pasar Tanah Abang menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Para saudagar dan pembeli dari mancanegara pun banyak yang berdatangan ke pasar ini. Antara lain dari Arab, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan negara-negara lain.

Namun, setelah terjadi kebakaran pada 2002 para pembeli dari mancanegara itu banyak lari ke negara lain. Salah satu negara yang menjadi tujuannya adalah Cina.

Kini, setelah Pasar Tanah Abang direnovasi dan disulap menjadi sebuah pusat perbelanjaan modern, ada semacam keinginan untuk mengundang kembali para pembeli dari manca negara tersebut.

”Kami akan berusaha mengembalikan para pembeli mancanegara itu ke Tanah Abang. Untuk itu, kami akan bekerja sama dengan kedutaan besar kita di luar negeri,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya, pengembang Pasar Tanah Abang Blok A.

Menurut Faridz, lewat kerja sama dengan kedutaan besar Indonesia di luar negeri, maka pihaknya akan mengundang dan memfasilitasi para pembeli dari mancanegara untuk datang dan meninjau Pasar Blok A yang baru diresmikan Juli 2005 lalu ini. Diharapkan, dengan melihat kondisi saat ini yang jauh berbeda dengan sebelum terbakar, mereka akan tertarik kembali untuk membeli barang-barang dari sini.

Selain pembeli dari luar negeri, pihaknya juga akan mengundang pembeli dari dalam negeri untuk datang ke Pasar Blok A. ”Kami juga melakukan kampanye dan sosialiasi ke daerah-daerah agar mereka tahu Pasar Tanah Abang Blok A sudah mulai beroperasi,” tutur Faridz.

Namun Faridz memiliki ganjalan untuk mewujudkan obesesinya itu. Hal ini terkait dengan semrawutnya arus lalu linta di kawasan Tanah Abang. Karena itu, pihaknya meminta kepada pemerintah untuk benar-benar memperhatikan dan menyelesaikan masalah ini.

”Pemerintah harus tegas terhadap persoalan parkir, pedagang kaki lima, dan ojek yang selama ini membuat lalu lintas di sini sangat semrawut. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan masalah ini dan mencarikan jalan keluarnya. Sebab jika tidak, maka ini tidak mendukung Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara,” kata Faridz menegaskan. (jar )

Sumber: Republika, Jumat, 28 Oktober 2005

Iklan

%d blogger menyukai ini: