Kampung Kapitan di Tepi Sungai Musi

Oleh: Caesar Alexey

Sejak zaman Sriwijaya, Sungai Musi telah menjadi urat nadi pertumbuhan Kota Palembang dan sekitarnya di Sumatera Selatan. Semua bangunan dari beberapa peradaban tumbuh dan hilang di sisi kanan-kiri sungai ini. Namun jika menyusurinya, kita masih akan menemukan banyak bangunan indah yang menyimpan beribu penggalan sejarah Palembang, seperti Kampung Kapitan.

Kampung Kapitan merupakan kelompok 15 bangunan rumah panggung ala China yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. Kampung itu, pada awalnya, merupakan tempat tinggal seorang perwira keturunan China berpangkat kapitan (sekarang disebut kapten) yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada masa itu, seorang kapitan bertugas untuk memungut pajak dari masyarakat China dan masyarakat pribumi yang berada di wilayah Seberang Ulu Palembang. Kapitan juga bertugas untuk menjaga keamanan wilayah dan mengatur tata niaga candu di wilayah terbatas.

Bangunan inti di Kampung Kapitan terdiri atas tiga rumah, merupakan bangunan yang paling besar dan menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di tengah merupakan rumah yang lebih sering difungsikan untuk menyelenggarakan pesta dan pertemuan-pertemuan dengan banyak orang. Sementara kedua rumah di sisi timur dan barat lebih banyak difungsikan sebagai rumah tinggal.

Keluarga besar

Rumah-rumah lain dibangun oleh kapitan untuk menampung keluarga besarnya. Rumah-rumah itu membentuk persegi panjang, dengan sebuah ruang terbuka di tengahnya. Ruang terbuka dahulu kala dibentuk menjadi taman yang indah, tetapi kini dibiarkan ditumbuhi rumput dan tidak terawat.

Dari arah darat hanya ada satu jalan masuk ke Kampung Kapitan, yang berjarak sekitar 800 meter dari bawah Jembatan Ampera. Di jalan masuk terdapat dua gerbang yang daun pintunya hilang.

Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, munculnya Kampung Kapitan berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming di China pada abad XIV. Saat itu, Dinasti Ming membatasi jumlah pedagang China yang akan berdagang ke arah selatan (Kepulauan Nusantara), dengan membentuk semacam lembaga dagang negara.

Lembaga dagang itu menjadikan Palembang sebagai salah satu basis dagang yang besar. Sebagai kota perniagaan, banyak orang China yang datang dan menetap di Palembang. Sebagian dari mereka berinteraksi dan menikah dengan gadis Palembang yang beragama Islam.

Salah satu kepala kantor dagang China yang terkenal saat itu, kata Djohan, adalah Liang Taow Ming. Liang mampu mengikat persatuan yang kuat antarmasyarakat China sehingga mereka menjadi komunitas yang kuat dan cukup diperhitungkan Pemerintah Kolonial Belanda.

Ketika kekuasaan kolonial menjadi lebih kuat atas Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda mulai mengangkat perwira China untuk mengatur wilayah 7 Ulu dan sekitarnya. Perwira tersebut semula bertugas mengatur komunitas China saja. Akan tetapi, seiring makin kuatnya Belanda, perwira China juga mulai memegang kendali atas masyarakat pribumi.

Menurut Tjoa Kok Lim alias Kohar (72), cucu kapitan terakhir, Tjoa Ham Hin, dua perwira China pertama berpangkat mayor. Mereka dikenal sebagai Mayor Tumenggung dan Mayor Putih. Nama asli keduanya sulit untuk dilacak kembali, tetapi mereka berasal dari marga Tjoa.

Kepangkatan dan wewenang itu diwariskan kepada keturunan berikutnya, tetapi pangkatnya turun menjadi kapitan. Tiga rumah inti dan perkampungan itu diwariskan kepada pemegang pangkat kapitan secara turun-temurun sehingga kampung itu disebut Kampung Kapitan.

Di Kampung Kapitan terdapat satu klenteng yang besar, sebagai pusat peribadatan masyarakat keturunan China di kawasan Seberang Ulu. Namun, klenteng itu terbakar habis dan kemudian dibangun ulang di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, lima tahun sebelum pembangunan Masjid Agung Palembang selesai.

Interaksi sosial

Muhammad Saleh alias Ujang (74), tetua di Kampung Kapitan, menuturkan, interaksi antara masyarakat keturunan China dan masyarakat pribumi berlangsung dengan baik. Banyak warga keturunan China, terutama dari keluarga besar kapitan, yang menikah dengan pribumi.

Dalam melaksanakan tugasnya untuk menarik pajak dan menjaga keamanan, kapitan juga bekerja sama dengan para demang (setingkat lurah) yang merupakan penduduk pribumi. Mayoritas pegawai kapitan juga berasal dari masyarakat pribumi dan mereka membangun rumah kecil yang menempel di sisi rumah utama.

Meskipun hubungan kapitan dan pegawainya adalah atasan dan bawahan, kata Ujang, Kapitan Tjoa Ham Hin sering berlaku seperti tetangga kepada para pegawainya. Mereka saling membantu. Kerukunan antara masyarakat pribumi dan keluarga kapitan terlihat dalam berbagai upacara hari besar keagamaan.

Berdasarkan pengalamannya semasa kecil dan penuturan orangtuanya, kata Ujang, kapitan Tjoa Ham Hin pernah mengadakan pesta untuk merayakan peringatan hari besar seperti Idul Fitri dan peringatan hari raya masyarakat China. Pesta yang diselenggarakan di rumah bagian tengah itu menggunakan alat musik campuran, antara alat musik Eropa, China, dan Palembang.

Dalam pesta itu, peralatan makan dan memasak yang digunakan untuk orang keturunan China dan pribumi dibedakan. Pembedaan dilakukan karena banyak masakan China yang mengandung daging babi dan arak, jenis makanan dan minuman yang diharamkan masyarakat Muslim.

Masa kini

Kini, keanggunan Kampung Kapitan sudah nyaris hilang. Hanya bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, meskipun banyak kerusakan kecil di berbagai sudut.

Selain itu, bagian bangunan yang terbuat dari kayu juga tampak kusam dimakan usia. Namun, dinding kayu tidak rusak karena terbuat dari kayu unglen yang mampu bertahan selama ratusan tahun.

Di dalam rumah, meja abu dan altar sembahyang yang dihiasi patung beberapa dewa, juga terlihat berdebu dan dikotori sarang laba-laba. Hampir tidak ada lagi meja kursi atau lemari yang dapat menggambarkan situasi masa lalu. Hanya ada beberapa foto kapitan masih terpampang di ruang tamu rumah sebelah timur.

Taman bagian tengah kampung juga sudah berubah menjadi tanah lapang yang tidak terurus. Dua patung singa, lambang rumah perwira China, yang dulu pernah menghiasi bagian depan rumah inti juga hilang.

Menurut Tjoa Kok Lim, Kampung Kapitan menjadi tidak terurus dengan baik setelah ditinggalkan para keturunan kapitan. Tjoa Kok Lim menjaga rumah itu karena keempat saudara perempuannya mengikuti suami mereka ke luar Palembang.

Pudarnya ketenaran Kampung Kapitan juga membuat anak-anak Tjoa Kok Lim memilih bekerja di Jakarta dan Lampung. Ia kini hanya ditemani seorang anak perempuan untuk menjaga kedua rumah inti, setelah rumah ketiga dijual kepada orang lain. Rumah-rumah kecil di Kampung Kapitan juga sudah dikuasai para penghuninya, dan tidak lagi dalam kepemilikan keluarga kapitan Tjoa Ham Hin.

Tjoa Kok Lim mengatakan, mereka tidak akan menjual dua rumah yang tersisa karena ayahnya, Tjoa Hendrik, pernah berpesan agar kedua rumah itu tidak jatuh ke orang lain. Kok Lim mengharapkan, jika dia dipanggil Tuhan, kelak Pemerintah Kota Palembang menata ulang kampung itu menjadi kawasan wisata sejarah.

Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005


%d blogger menyukai ini: