Markas Kodim Serang “In Memoriam”

Suasana mencekam terasa di salah satu sudut Kompleks Hegar Alam, Ciloang, Serang, Provinsi Banten, Sabtu (10/9) malam lalu. Belasan orang duduk terdiam menyimak tayangan pada layar lebar yang terpampang di hadapan mereka.

Semalam, menjelang peletakan batu pertama Mal Serang, Rumah Dunia memutar sebuah film dokumenter berjudul A Story of Makodim. Film itu mengingatkan kembali perjuangan masyarakat Serang dalam menggagalkan rencana pembongkaran bangunan Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0602 Serang.

Berbagai upaya penggagalan pembongkaran Markas Kodim tergambar jelas dalam film karya Jaya itu. Dari unjuk rasa, aksi melukis, hingga berbagai upaya negosiasi dengan para pejabat Pemerintah Kabupaten Serang.

Macam-macam reaksi mereka saat menonton. Ada yang mengernyitkan dahi, ada yang memegang kepala, ada juga yang duduk bertopang dagu, atau sekadar menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali terdengar suara orang mengembuskan napas panjang, lalu berdecak dan bergumam, tidak jelas apa yang dikatakan.

”Ini bentuk perlawanan kami,” kata Gola Gong, pendiri Rumah Dunia, sebuah sanggar baca sekaligus sekolah menulis dan komunitas diskusi di Serang.

Film itu sengaja diputar sebagai wujud keprihatinan atas pembongkaran Gedung Markas Kodim Serang yang tergolong benda cagar budaya. Selain usianya yang sudah lebih dari 100 tahun, gedung itu juga pernah menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.

Bahkan, di gedung yang dibangun sekitar tahun 1880 itu pula bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan. Budayawan Iwan Nit Net juga pernah bercerita bahwa Gedung Markas Kodim Serang pernah digunakan sebagai Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Bisa dikatakan, gedung eks Markas Kodim itu merupakan salah satu simbol sejarah perjuangan rakyat Banten, khususnya Serang. Karena itu, sangat disayangkan kalau Pemerintah Kabupaten Serang akhirnya justru mengizinkan bangunan cagar budaya itu dibongkar.

Sejak satu pekan lalu seluruh bangunan di eks kompleks Markas Kodim rata dengan tanah. Patung harimau, tembok bertuliskan ”Markas Komando Distrik Militer 0602 Serang”, dan pilar penyangga bangunan turut dihancurkan pula.

Padahal, menurut Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang Zakaria Kasimin, pilar-pilar Gedung Markas Kodim tidak boleh dihancurkan. Pasalnya, setelah diteliti, hanya pilar-pilar gedung inti yang masih asli, sementara bangunan lain, seperti lantai, tembok, dan atap sudah pernah direnovasi sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya.

Obrolan soal pembongkaran eks Gedung Markas Kodim itu berlanjut hingga pukul 22.15 akhir pekan lalu. Semua yang datang menyesalkan pembongkaran cagar budaya dengan dalih pengembangan investasi itu.

Kini eks Gedung Markas Kodim hanya tinggal kenangan. Gedung bersejarah itu sudah rata dengan tanah. Bahkan, Minggu (11/9) lalu, batu pertama pembangunan Mal Serang sudah dipasang. Pembangunan mal seakan tidak bisa dihentikan. Namun, perlu diingat, perlawanan belum usai. (NTA)

Sumber: Kompas, Senin, 26 September 2005

Iklan

%d blogger menyukai ini: