Menggali Kembali Histori Kawasan Senen

DALAM waktu yang tak lama lagi, akan ada perubahan besar-besaran di kawasan Senen. Pemkot Jakarta Pusat secara khusus menyelenggarakan sayembara untuk menemukan konsep yang terbaik mengembangkan kawasan itu. Pemenangnya sudah ada, dengan inti konsep mengembangkan kawasan Senen lebih modern tanpa melupakan aspek histrorisnya. Konsep itu baik, tetapi sangat meresahkan para pedagang kecil dan pedagang kaki lima di sana. Adakah tempat bagi mereka kelak?

Kawasan Senen dari Masa ke Masa

Tahun 1793
Justinus Cornellis Vincke mendirikan pasar disekitar istana Weltevreden (lokasinya kini menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat), disamping juga Pasar Tanah Abang. Pada saat itu pasar yang dekat istana ini hanya dibuka pada hari Senin dan karena itu masyarakat menyebutnya Pasar Senen. Pada masa ini ada juga catatan lain yang menyebutkan pasar ini dengan Vincke Passer.

Tahun 1735
Vincke membangun sebuah jalan yang menghubungkan kedua pasar miliknya (pasar Senen dan Pasar Tanah Abang). Jalan yang membujur dari timur ke barai ini dikenal dengan nama jalan Prapatan.

Tahun 1900-an
Di sekeliling Pasar Senen s udah menggantikan kota sebagai pusat militer dan pemerintahan.

Tahun 1945
Setelah Indonesia merdeka, kawasan Senen tampak semakin padat karena arus migrasi besar-besaran.

Tahun 1960-1970
Pemerintah Jakarta Raya mendirikan Gedung Pasar Senen, Pasar Inpres, dan Terminal Bus.

Tahun 1987-1992
Dibangun Superblock modern, Atrium Senen, yang menyediakan fasilitas perkantoran, hotel, rumah toko, dan juga shopping center.

Tahun 1998-2005
Sejak terjadinya krisis moneter di Indonesia, berkembang sector informal dan pasar Senen kehilangan daya tariknya. (RS/N-6)

Sumber: Suara Pembaruan, 12 Agustus 2005

Iklan

%d blogger menyukai ini: