Komunitas Kaum Koja

Di tengah hiruk-pikuk kawasan Glodok-Pancoran sebagai jantung Pecinan Jakarta, terdapat sebuah perkampungan Arab-India Muslim, yakni kampung Pekojan. Masjid berusia empat abad lebih dengan arsitektur khas, rumah tua berarsitektur Moor dengan nuansa Arab atau India, rumah beratap lengkung khas Tionghoa hingga toko-toko penjual bibit minyak wangi adalah suasana khas Kampung Pekojan.

Di salah satu sudut Pekojan di dekat Jalan Bandengan Selatan terdapat rumah bergaya Moor berwarna putih dengan aksen warna merah dan berpagar rendah milik keluarga besar Alatas yang terhitung kerabat dekat Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Rumah tersebut tampak kontras bersebelahan dengan rumah-rumah berarsitektur Tionghoa.

Bangunan itu merupakan salah satu situs sejarah Pekojan yang tersisa. Sedangkan di beberapa bangunan lain di dekat Masjid Langgar Tinggi terdapat rumah-rumah Moor dengan arsitektur atap bersusun. Di bagian dalam beberapa rumah terdapat hiasan keramik Belanda.

Sejarawan Adolf Heuken dalam buku Historical Sites of Jakarta menyebutkan, kawasan tersebut merupakan pusat komunitas kaum Koja dari India pada abad 17-18 Masehi sehingga dinamakan Pekojan.

Selanjutnya warga Arab dari Hadramaut bermigrasi ke Jakarta juga bermukim di situ. Nama-nama besar keluarga Alaydrus, Alhabsyie, Aljufrie, Attamimi, Assegaf, Alkadrie dan para habib adalah legenda hidup yang keturunannya beranak-pinak di Indonesia.

Sedangkan kaum Moor sebutan Eropa untuk India Muslim sebagian besar berasal dari pantai Koromandel India.

Langgar Tinggi

Selain berniaga, mereka juga melakukan syiar agama Islam dan membangun masjid-masjid yang berarsitektur unik. Rahim Bekend, warga asli Pekojan yang tinggal di Jalan Pengukiran 2, menjelaskan, warga India mendirikan Masjid Jami Kampung Baru di Jalan Bandengan Selatan 34 dan Masjid Jami Al Ansor di sebuah gang di Jalan Pengukiran 2, sedangkan warga Arab mendirikan Langgar Tinggi dan Masjid Annawier di Jalan Pekojan yang masih berdiri megah. Masjid Jami’ Kampung Baru, yang menurut Heuken, didirikan tahun 1748 masih menyisakan suasana kemegahan masa lalu dengan kubah masjid berarsitektur khas, seperti Masjid India yang kita dapati di Malaysia dan Singapura.

Kurang lebih seperti Masjid Kapten Keling di Penang, Malaysia yang juga berada di tengah-tengah Chinatown kota lama George Town.

Mimbar asli Masjid Jami Kampung Baru yang berukir indah kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Sedangkan interior asli yang tersisa adalah pilar utama, beberapa jendela dan ukiran Anggur.

Sayang di Masjid Jami Al Ansor tidak banyak jejak bangunan asli yang tersisa. Solihin, warga di sebelah masjid, mengakui sudah banyak renovasi yang dilakukan sehingga bentuk asli tidak tersisa.

Heuken mencatat, masjid itu didirikan warga asal Malabar, wilayah pantai timur India. Tetapi setahun sekali, keturunan komunitas India tersebut pasti datang sewaktu Lebaran ke masjid tersebut.

Lain lagi masjid warga Arab, salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW dari pasangan Ali dan Fatimah, yakni keluarga Said yang bernama Abdullah bin Hussein Alaydrus, membangun Masjid Annawier yang megah di tahun 1760.

Tiap tahun tanggal 27 Ramadhan, seluruh keturunan Arab di Jabotabek dan daerah lain pasti berkumpul di masjid ini. (ong)

Sumber; Kompas, Rabu, 10 Agustus 2005


%d blogger menyukai ini: