Benteng Portugis di Jepara

Oleh: Suprapto

Salah satu di antara sekian banyak tempat wisata di Kabupaten Jepara yang banyak dikunjungi dan tergolong perpaduan daerah wisata sejarah dan pemandangan laut adalah benteng Portugis, yang terletak di tepi pantai Desa Ujung Watu, Kecamatan Keling. Benteng ini dibangun Portugis pada 1632, semasa Sultan Agung memerintah Kerajaan Mataram.

Meski benteng itu sekarang telah berusia 374 tahun, tetapi secara umum bangunannya terkesan masih tetap kokoh. Dan yang menarik, bangunan bersejarah ini belum banyak direnovasi sehingga cukup mengundang para wisatawan nusantara (wisnu) maupun wisatawan mancanegara (wisman) untuk menyaksikan dari dekat, terutama bagi pemerhati benteng-benteng peninggalan pemerintahan kolonial.

Meski kesan sebagai tempat berekreasi sejarah sangat kuat, ternyata bagian dalam benteng ini memang masih memiliki pesona keindahan alam. Tepatnya di sudut utara benteng, di mana terdapat tempat istirahat yang mampu menampung puluhan wisatawan untuk menikmati keindahan alam seputarnya.

Keindahan yang ditawarkan antara lain berupa pemandangan perairan laut. Di perairan ini terdapat sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Mondoliko, yang memiliki sebuah bangunan mercusuar.

Jarak antara benteng Portugis dan Pulau Mondoliko sebenarnya tidak begitu jauh, hanya sekitar 2-3 mil laut. Namun, sering dengan terpaan gelombang pasang dan di seputar perairan Mondoliko, terdapat pusaran air laut yang cukup berbahaya sehingga jarang sekali wisatawan yang meneruskan perjalanannya ke Pulau Mondoliko.

Selain memang tidak semua orang bisa masuk tanpa izin lebih dahulu. Di pulau kecil ini cukup sepi, hanya dihuni oleh enam petugas mercusuar.

Menurut penuturan sejumlah penduduk Desa Ujung Watu, di dalam benteng pada awalnya terdapat bangunan induk. Namun, bangunan itu telah roboh dan rata dengan tanah akibat ”dimakan” akar pohon besar yang tumbuh di dekatnya.

Di dalam benteng juga dijumpai sejumlah pintu yang menuju ke ”jendela-jendela” yang terbuat dari batu dan dilengkapi dengan meriam kuno. Terutama pintu yang mengarah ke arah Laut Jawa. Tetapi pintu dan jendela tersebut sejak sekitar tahun 1950 sudah dalam kondisi tertutup bebatuan.

Jika pintu dan jendela ini dibuka dan diperbaiki kembali seperti aslinya, dipastikan bisa menambah daya tarik tersendiri. Paling tidak bisa menyuguhkan pemandangan birunya laut.

Di dalam areal benteng, selain dijumpai sejumlah warung makan, juga terdapat penginapan sederhana dengan tarif hanya Rp 30.000 per malam. Tempat parkir yang luas dan cukup redup berada di antara kerindangan pohon besar serta puluhan pohon kelapa.

Untuk memasuki area tempat wisata benteng Portugis tersebut, setiap pengunjung dikenai retribusi hanya sebesar Rp 1.000 dan biaya parkir mobil juga Rp 1.000 per kendaraan.

Menuju benteng

Untuk mencapai tempat wisata sejarah ini, terutama bagi mereka yang berdomisili di luar Jepara, bisa ditempuh lewat dua arah. Dari arah Kudus dengan lebih dahulu menuju kota Jepara baru kemudian dilanjutkan ke arah Bangsri dan Keling.

Setibanya di seputar jembatan panjang, yang dikenal dengan sebutan Sambung Oyot, berbelok ke kiri. Kira-kira setelah menempuh perjalanan sekitar 10-15 kilometer kemudian tiba ditempat tujuan.

Sepanjang Kudus-Jepara, jalan relatif mulus tanpa kelokan dan tanjakan tajam. Selepas kota Jepara menuju Bangsri, banyak ditemukan tikungan dan bahu jalan agak sempit. Setelah itu di kanan kiri dijumpai hutan jati, hutan karet, ladang, persawahan, tikungan, jalan naik turun. Pada musim hujan sering ditemukan tanah longsor.

Bila melewati kawasan Pati, bisa ditempuh dengan rute Wedarijaksa, Trangkil, Margoyoso, Tayu, Cluwak, Sambung Oyot, benteng Portugis. Jalan memang lumayan mulus, namun memasuki wilayah Kecamatan Cluwak hingga Sambung Oyot, banyak tikungan dan jalan naik turun. Sedangkan di kiri maupun kanan jalan dapat dilihat tanaman kapuk randu, cengkeh, petai, dan jering.

Rute lain dari Pati, selepas Tayu, lalu menyusuri wilayah Kecamatan Dukuhseti dengan kondisi jalan bopeng-bopeng, lalu memasuki perbatasan dengan wilayah Kabupaten Jepara. Bila datang hujan, dipastikan sebagian besar jalan raya itu akan tergenang air setinggi ban mobil, dengan arus lumayan deras.

Sejak sepanjang perbatasan Pati-Jepara, hingga benteng Portugis bisa menikmati keindahan alam yang masih asri. Terutama bagi yang merindukan suasana pedesaan, terlihat sawah dengan latar belakang pegunungan Rengas.

Pegunungan Rengas ini banyak mengandung bahan pokok untuk memproduksi keramik. Sementara juga terlihat Stasiun Pemantau Gempa milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan selintas terlihat Laut Jawa. Khusus jalan menuju Rengas kondisi jalannya awal Juli ini rusak berat.

Sedangkan jarak rute Kudus-Jepara-Sambung Oyot-benteng Portugis sekitar 80 kilometer. Lalu untuk rute Pati-Tayu-Cluwak-Sambung Oyot-benteng Portugis berjarak sekitar 60 kilometer dan rute Pati-Tayu- Dukuhseti-benteng Portugis kurang dari 60 kilometer.

Benteng Portugis, menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara Suliyono, menempati areal seluas 857, 2 meter persegi. Wilayah benteng dipenuhi berbagai jenis pohon, seperti pohon asem jawa, kesambi, wali kukun, krinyo, ketapang, laban, pule, waru, karet alam, beringin, dan jrakah lo.

Bawah benteng

Sementara di bagian bawah benteng telah dibangun jalan berpaving melingkar rata-rata selebar 1,5 meter. Jalan ini hampir sejajar dengan tepian pantai Laut Jawa, sehingga bila muncul ombak besar jalan ini basah terkena deburan air laut.

Sedangkan untuk mencapai benteng yang berada di wilayah mirip dengan sebuah perbukitan ini, bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, selain tentu bagi yang ingin berolahraga bisa dengan berjalan kaki.

Karena tempatnya terbatas, hanya beberapa mobil yang diperbolehkan naik hingga ke lokasi, itu pun bila dalam kondisi jumlah pengunjung meluap. Jika toh terpaksa jalan kaki tidak akan melelahkan.

Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Jepara, panjang benteng sisi timur 33,50 meter, sisi barat 37 meter. Lebar sisi selatan 28,50 meter, sisi utara 20,30 meter.

Tinggi sisi timur dan barat masing-masing 0,70 meter, tinggi sisi selatan 2,10 meter dan tinggi sisi utara 0,70 meter. Lalu pada awalnya dijumpai jalan setapak dari arah benteng, turun ke bawah menuju jalan berpaving. Namun, jalan setapak tersebut akhirnya dilebarkan dan dibangun permanen dengan semen cor.

Sumber: Kompas, Jumat, 05 Agustus 2005


%d blogger menyukai ini: