Pertahankan Aspek Historis Pasar Senen

JAKARTA – Penataan Pasar Senen secara terpadu dan menyeluruh oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, merupakan keharusan mengingat perkembangan saat ini.

Namun, penataan itu hendaknya menjaga karakteristik Pasar Senen yang secara seimbang, juga memperhatikan aspek historis dan ekonomis. Demikian dikatakan arsitek dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Boy Bhirawa di Jakarta, Rabu (22/6).

Boy Bhirawa, yang juga Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Arsitektur IAI Cabang Jakarta ini mengatakan, aspek historis Pasar Senen itu antara lain beberapa bangunan tua peninggalan masa lalu serta adanya kegiatan kesenian yang terkenal dengan istilah “Seniman Senen” di masa lalu.

“Semua itu merupakan segi historis yang perlu dipertahankan dan dihidupkan kembali mengingat hal itu merupakan citra yang lama melekat pada Pasar Senen,” kata Boy Bhirawa.

“S eniman Senen” melahirkan nostalgia yang indah di masa lalu. Pasar Senen ke depan hendaknya mengakomodasi nostalgia ini yang disesuaikan dengan konsep yang lebih modern, misalnya keberadaan gedung kesenian yang lebih representatif.

Boy menilai, kondisi Pasar Senen yang kini sangat semrawut, memang harus direhabilitasi sesuai dengan perkembangan situasi sehingga pemanfaatan Pasar Senen bisa optimal dari sisi ekonomi, sosial, dan juga sejarah. Ia menilai pula, pola Pasar Senen itu ke depan hendaknya juga bersifat terbuka bagi publik. Artinya, tidak bersifat eksklusif untuk kalangan tertentu saja. “Pasar Senen hendaknya juga menampung pedagang kecil dan kaki lima yang jumlahnya kini ribuan,” tegasnya.

Ia menyatakan, penampungan itu untuk menghindari menjamurnya pedagang liar seperti yang terjadi saat ini. “Saya tidak setuju apa pun yang bersifat liar, tidak ada nilai tambahnya bagi warga secara keseluruhan,” katanya.

Namun, mereka jug a tidak bisa digusur begitu saja. Mereka harus mendapat tempat yang legal dan juga memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah.

Boy juga menyoroti kegiatan Pasar Senen sebagai pasar tradisional yang antara lain menjadi pusat pasar sayur-mayur dan buah-buahan serta pasar jam yang tumbuh subur. Hal unik lainnya yang terdapat di pasar itu adalah adanya pedagang buku bekas yang menjadi langganan terutama mahasiswa. “Gedung Wayang Orang Bharata yang bisa dimasukkan dalam kompleks Pasar Senen,” ujarnya.

Ia menilai pula, keberadaan stasiun kereta api dan bis juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi Pasar Senen.

Pasar Senen semula disebut Vink Passer yang mengacu nama Yustinus Vink yang membangunnya pada 1735 M. Ketika Gubernur Jenderal Willem Herman Daendels (1808-1811) memindahkan kota lama ke Weltevreden, Senen pun disebut Pasar Weltevreden. (N-6)

Sumber: Suara Pembaharuan Daily, 23 Juni 2005


%d blogger menyukai ini: