Pakar dari AS: Bangunan Kuno, Aset Wisata Surabaya

Surabaya, Selasa, Pakar konservasi bangunan kuno dari New Orleans (AS), Patricia H Gay, menilai 163 bangunan kuno di kota Surabaya juga dapat bernilai ekonomis.

“Banyaknya bangunan kuno di Surabaya seharusnya bisa dijadikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, sehingga dapat bernilai ekonomis,” katanya di Surabaya, Selasa (3/5).

Ia mengemukakan hal itu ketika menjadi dosen tamu di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, bersama dosen ITS Ir Andy Mappajaya, yang juga pemerhati pelestarian arsitektur.

Menurutnya, Surabaya merupakan kota yang memiliki banyak bangunan kuno dan unik yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Ada 163 bangunan jenis itu.

Ia memberi contoh, New Orleans bisa menjadi salah satu kota wisata favorit di AS dan bahkan di dunia karena memiliki banyak bangunan kuno bersejarah yang dilestarikan.

“Dengan pelestarian bangunan kuno di New Orleans, kota tersebut menjadi kawasan wisata dunia. Jika anda kehilangan bangunan kuno di kota anda, itu sama dengan anda kehilangan identitas anda,” tekannya.

Dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah mahasiswa program pascasarjana Jurusan Arsitektur ITS dan sejumlah pemerhati cagar budaya Surabaya tersebut, Gay mengimbau mereka untuk turut melestarikan bangunan kuno yang merupakan bangunan cagar budaya.

“Karena itu, saya ingin perlindungan bangunan kuno dijalankan di seluruh dunia. Tapi, banyak tantangan yang muncul ketika kita menghadapi para pakar bisnis, tokoh masyarakat, dan pejabat yang umumnya tidak melihat keuntungan ekonomis, sosial, dan budaya pada jangka panjang,” tuturnya.

Senada dengan itu, Ir Andy Mappajaya menilai Surabaya, yang memiliki banyak bangunan kuno, membutuhkan peta kawasan konservasi bangunan kuno.

“Kalau tidak ada, akan banyak investor yang kecewa karena tidak tahu harus berbuat bagaimana terhadap bangunan atau aset milik mereka. Karena itu, peta konservasi harus bisa diakses atau diketahui masyarakat, sehingga dapat diketahui apa yang bisa dilakukan di daerah konservasi,” katanya.

Menurutnya, beberapa pemilik bangunan kuno merasa rugi memiliki bangunan tersebut karena mereka tak bisa berbuat apa-apa dengan bangunan itu. Padahal, bangunan tersebut bernilai ekonomis.

Ia menyebut pula, pemilik bangunan bekas Rumah Sakit Mardi Santoso, yang awalnya ingin membangun ruko, akhirnya digagalkan karena ternyata bangunan itu kuno dan harus dilestarikan.

“Hal yang sama juga dialami oleh para investor pemilik Stasiun Semut dan Toko Nam. Mereka baru tahu bahwa bangunan yang mereka miliki itu harus dikonservasi karena termasuk bangunan cagar budaya,” lanjutnya.

Akibat ketidaktahuan tersebut, imbuhnya, banyak bangunan kuno di Surabaya yang kurang terpelihara dan bahkan dibiarkan kosong seperti “rumah hantu” selama bertahun-tahun, sehingga tidak bisa dijadikan aset wisata. (Ant/Ati)

Sumber: Kompas, Rabu, 04 Mei 2005


%d blogger menyukai ini: