Bangunan Kuno Akan Dijadikan Objek Wisata

PADA 11 April 2005, Kota Magelang sudah berusia 1099 tahun. Apa program Pemkot Magelang di usia yang sudah lanjut itu? Sesuai dengan predikat kota tersebut sebagai kota jasa, maka faktor pelayanan kepada masyarakat termasuk warga luar kota yang hanya singgah sebentar untuk belanja, berwisata, dan lain-lain tetap diutamakan.

Setelah jasa rumah makan, hotel, objek wisata sudah berkembang meski belum maksimal, Pemkot mulai tahun ini membidik bangunan-bangunan kuno sebagai salah satu objek untuk dikunjungi wisatawan. Harapannya, sebagian dari pengunjung objek wisata Taman Kiai Langgeng yang berjumlah 800.000 per tahun, bisa mampir melihat bangunan-bangunan kuno tersebut.

Ketua PHRI Firman Hidayat menuturkan, jumlah hotel bintang di Kota Magelang hanya empat buah, sedangkan hotel melati 11 buah. Tingkat hunian rata-rata pada kuartal pertama 2005 (Januari-Maret) 50-60%.

Meski Kota Magelang dekat dengan Candi Borobudur, ternyata wisatawan asing yang menginap masih rendah. Kebanyakan mereka menginap di Yogyakarta.

Dari empat hotel bintang masing-masing Hotel Puri Asri bintang 4, Hotel Sriti bintang 3, Hotel Trio dan Hotel Borobudur masing-masing bintang 2, wisatawan mancanegara yang menginap hanya delapan persen.

Dimulai Abad XIX

Kepala Kantor Informasi dan Kehumasan Pemkot Magelang Lukman Zakaria SH CN menuturkan, perkembangan kota tersebut dimulai abad XIX dengan dibangunannya pusat Kota Magelang di sekitar kawasan alun-alun. Antara lain Masjid Agung, gereja, kantor bupati, sekolah pamongpraja Mosvia (sekarang dipakai Kantor Polresta).

Tahun 1817 dibangun rumah tinggal untuk Residen Kedu (sekarang Kantor Bakorlin II). Hal itu memacu tumbuhnya sarana lain seperti jalan raya, rel kereta api, Hotel Lotze, kompleks tangsi militer Belanda, rumah sakit (sekarang RS Dr Sudjono).

Kawasan permukiman yang berciri arsitektur Indis adalah kawasan permukiman Kwarasan, dengan arsitek Ir Herman Thomas Karsten. Dia juga merancang bangunan water tower (menara air) di alun-alun, serta merancang kawasan permukiman di Semarang, Malang, dan kota-kota lain.

Untuk kepentingan itu, Pemkot secepatnya akan membuat perda untuk melindungi bangunan-bangunan kuno sekaligus melakukan identifikasi. Jangan sampai tambah tahun bangunan kuno yang hilang makin bertambah. Hilangnya Hotel Lotze yang sekarang berdiri Matahari Departmen Store ataupun bangunan kuno lain seperti rumah tinggal, jangan sampai terulang lagi. (Doddy Ardjono-76s)

Sumber: Suara Merdeka, 11 April 2005

Iklan

%d blogger menyukai ini: