Menyusuri Pecinan di Kota Tua Batavia

Pagi itu jalan belum begitu macet ketika kaki kami menapaki Jalan Pintu Besar Jakarta Barat menuju kerkstraat, atau jalan gereja di samping Museum Wayang, terus hingga Jalan Kali Besar Timur. Bau menyengat langsung tercium begitu sampai di pinggir Kali Besar (The Groote Kanaal) yang merupakan bagian hilir Kali Ciliwung.

“Dulu air kali ini bahkan bisa diminum. Sekitar tahun 1800, air kali mulai tercemar menjadi kekuning-kuningan meski masih digunakan untuk mandi dan mencuci. Kali ini menjadi saksi bisu kekejaman Pemerintah Belanda dalam peristiwa Chineezenmoord atau pembantaian orang-orang China,” kata Asep Kambali, Ketua Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI) Historia, yang memandu wisata sejarah, Minggu (27/2).

Kali Besar saat ini tengah “digarap” lewat program Kali Besar Bersih sebagai bagian dari Revitalisasi Kota Tua oleh Jakarta Old Town-Kotaku, yang dimotori Miranda Goeltom, Deputi Senior Bank Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengurus Jakarta Old Town-Kotaku, bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Barat, Bank HSBC, dan Bank Indonesia.

Orang kerap menyebut Glodok sebagai daerah pecinan atau chinatown di kawasan Kota Tua. Namun, selain Glodok, daerah pecinan sebenarnya lebih luas lagi, mulai dari daerah Pasar Pagi, Asemka, Jalan Perniagaan, Kemenangan, Perdagangan, Pancoran, dan wilayah lain yang masuk Kecamatan Tambora.

Bahkan, daerah Pekojan yang awalnya dikenal sebagai Kampung Arab, lengkap dengan beberapa masjid tuanya, saat ini banyak dihuni oleh orang keturunan China. Hanya sedikit orang keturunan Arab yang masih bertahan setelah mereka eksodus ke daerah timur, seperti Condet dan Jatinegara, juga ke Tanah Abang, Depok, hingga Bogor.

Kami kembali berjalan menuju Jalan Perniagaan, lokasi rumah keluarga Souw, tepat di samping Pasar Perniagaan, Jakarta Barat. Bangunan tua yang masih dipertahankan sampai sekarang itu awalnya dihuni kakak beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng (1849- 1917) yang kaya raya.

Keduanya juga dikenal dermawan, membantu mendirikan sekolah bagi anak-anak bumiputra di tanah miliknya. Pemerintah Hindia Belanda kemudian memberikan gelar luitenant titulair (kehormatan) kepada Tjong pada Mei 1877, sedangkan Keng diangkat menjadi luitenant der Chineezen pada tahun 1884.

Jalan Perniagaan awalnya bernama Jalan Patekoan, yang berarti delapan teko. “Katanya, di daerah sini pernah tinggal seorang kapiten China bernama Gan Djie (1663-1675). Istrinya dikenal berjiwa sosial. Setiap hari ia menyediakan delapan teko berisi air teh untuk orang yang lewat jalan ini,” ungkap Asep.

Masih di Jalan Perniagaan, pandangan kami tertuju pada bangunan modern yang dulu menjadi markas organisasi Tionghoa, Tiong Hoa Hwee Koan atau perhimpunan Tionghoa yang didirikan pada 17 Maret 1900. Kini, bangunan yang dulunya khas China itu menjadi gedung SMAN 19 setelah diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1965.

“Gedung ini dulu mirip kelenteng dan jadi sekolah China pertama. Tahun 1966 gedung direnovasi dan sampai sekarang tak pernah diubah-ubah lagi. Dua patung yang ada di depan pintu gerbang juga sudah tak ada lagi,” papar Lukman Effendi, guru seni rupa yang juga pembina OSIS SMAN 19.

JALAN menjadi sangat macet menjelang siang. Namun, peserta wisata sejarah yang terdiri dari anak-anak hingga orang tua itu masih bersemangat. Kami menyusuri Gang Lamceng, gang sempit menuju Vihara Kwan Tee Bio. Gang itu menghubungkan Jalan Perniagaan dengan Jalan Perdagangan.

Setelah berputar-putar di gang-gang sempit, kami tiba di Kelenteng Toa Se Bio atau Kelenteng Duta Besar di Jalan Kemenangan II. Menurut warga sekitar, dahulu jalan ini bernama Jalan Toasebio. Kelenteng besar ini, menurut beberapa literatur, dibangun oleh orang Hokkian dari Kabupaten Tiotha, Provinsi Hokkian, China.

Kelenteng dipersembahkan untuk Cheng-goan Cin-kun yang merupakan dewa di daerah itu.

Di altar utama kelenteng terdapat hio-louw, tempat untuk menancapkan hio atau dupa lidi, yang berangka tahun 1751. Ini merupakan obyek berangka tertua yang kedua. Di Kelenteng Kim Tek Le terdapat meja sembahyang yang berangka tahun 1742.

Di Jalan Kemenangan III, tak jauh dari Kelenteng Toa Se Bio, berdiri megah sebuah bangunan China. Namun, meski sekilas mirip kelenteng, bangunan ini ternyata adalah sebuah gereja, Gereja Santa Maria de Fatima.

Menurut Asep Kambali, gereja ini dahulu pernah didiami Letnan Tjio dari China. Setelah China jatuh ke tangan komunis pada tahun 1949, sebagian rohaniwan datang ke Jakarta dan menempati gedung tersebut.

Keistimewaan gedung ini adalah adanya inskripsi dengan aksara Tionghoa. Di bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya, yaitu Kabupaten Lam- oa, Karesidenan Coan-ciu (China). Masih di bubungan atap, tertulis bok siu khong leng yang artinya rezeki, umur panjang, dan kesehatan.

Juga hanya berjarak beberapa ratus meter, terdapat Kelenteng Kim Tek Li atau Dharmabakti yang merupakan kelenteng tertua di Jakarta yang didirikan pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen. Ia menamainya Paviliun Koan-im atau Dewi Welas Asih.

Keluar dari kelenteng, kami sampai ke Glodok, yang semasa VOC merupakan kawasan di luar tembok kota. Glodok yang konon berasal dari kata grojok-grojok sejak tahun 1740 memang menjadi permukiman kaum China ketika terjadi pembantaian orang-orang China di Sunda Kelapa. Tragedi pembantaian Angke ini disebut-sebut menelan korban 10.000 jiwa.

Glodok kini maju pesat dan menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Jakarta. Glodok bisa bertahan menjadi kawasan bergengsi selama lebih dari 200 tahun, termasuk kawasan pecinannya.

Meski demikian, banyak warga keturunan China yang harus pindah ke Pluit, Ancol, dan Sunter karena makin sempitnya lahan untuk bermukim.

Seorang peserta wisata sejarah, Nurweni (50), berdecak kagum melihat gedung-gedung tua di pecinan yang beberapa di antaranya menjadi cagar budaya. Banyak yang sudah berubah, tetapi orang China ternyata bisa mempertahankan sejarahnya.

“Saya ingat, waktu SD diajak nenek ke Kota (daerah stasiun Kota Jakarta-Red ) naik trem dari Sawah Besar lewat Pasar Baru, terus ke Kota. Sekarang rel-rel trem tidak berbekas, sulit membayangkan suasana waktu itu,” ujar Nurweni, warga Tanah Tinggi itu.

Berada di dekat Kelenteng Toa Se Bio, terasa sangat kental nuansa Chinanya. Keluarga Souw pun masih mempertahankan rumah tuanya seperti aslinya, lebih dari seabad lalu.

Peringatan Imlek dan Cap Go Meh tidak pernah absen di Glodok dan sekitarnya.

Bagaimana dengan penduduk Betawi? Apakah mereka mampu mempertahankan kekhasan budayanya? Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menantang dengan mengeluarkan peraturan daerah tentang Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di atas tanah seluas 165 hektar, semuanya harus bercorak Betawi. Mungkinkah?

Namun, rambut boleh sama hitam, watak orang tentu berlainan. Lain China, lain pula Betawi. (Susi Ivvaty)

Sumber: Harian Kompas, Kamis, 03 Maret 2005

Iklan

%d blogger menyukai ini: