Vandalisme Arsitektur

Penulis: HAWA AROFAH

JIKA melihat kasus pembongkaran bangunan-bangunan kuno bersejarah yang telah lama menjadi hiasan khas bagi suatu kota, kesan yang muncul adalah kekerasan arsitektur terhadap kota. Seolah-olah kota telah dilukai, atau bahkan dihancurkan. Hal ini tentu bukan sekadar mengada-ada. Sebab, bangunan kuno bersejarah merupakan wajah kota yang membedakannya dengan kota-kota lainnya.

Nilai sejarah pada bangunan kuno di suatu kota akan lenyap jika sudah dilakukan pembongkaran yang sangat sulit dan bahkan mustahil untuk diganti lagi. Jika pembongkaran bangunan kuno bersejarah dimaksudkan sebagai syarat pembangunan, misalnya, akan didirikan bangunan baru yang lebih megah, tetap saja tidak akan bisa mengembalikan nilai sejarah yang telah telanjur lenyap.

Dengan demikian, tindakan pembongkaran terhadap bangunan kuno bersejarah, dengan maksud untuk mendirikan bangunan baru yang lebih megah atau lebih modern, merupakan wujud vandalisme arsitektur yang harus diprotes keras.

Tentu saja protes keras dalam hal ini berdasarkan sejumlah alasan.

Pertama, setiap bangunan kuno bersejarah merupakan aset wisata yang bisa dikembangkan dan semakin lama akan semakin bernilai. Meski nilai fisiknya sangat rendah, nilai spiritnya sangat tinggi. Dan di banyak tempat, pariwisata selalu semarak karena adanya bangunan kuno bersejarah. Misalnya, Menara Kudus cuma tumpukan bata (yang ternyata mudah ditiru dan kini duplikatnya ada di mana-mana), tetapi jika dibongkar tentu akan menjadi puing-puing tak berharga lagi.

Kedua, setiap bangunan kuno berkaitan dengan sejarah lingkungan dan manusia di sekitarnya yang memiliki tali-temali dengan jalinan zaman yang harus dilestarikan. Di dalamnya terdapat mata rantai yang terus melingkari citra identitas suatu kota dan segenap warganya.

Selain itu, di dalamnya juga menyimpan memori-memori kenangan sebagai dinamika sentimental dan juga jejak perkembangan kultural. Maka, jika bangunan-bangunan kuno itu dibongkar, bisa menimbulkan gegar budaya bagi warga kota yang bersangkutan. Misalnya, jika Menara Kudus (atau Borobudur dan candi-candi lain) dibongkar, pasti akan menimbulkan duka dan luka yang tak tersembuhkan bagi masyarakat sekitarnya.

Ketiga, bangunan baru sebagai karya arsitektur. Jika didirikan dengan cara membongkar bangunan lama, merupakan kejahatan arsitektur terhadap arsitektur, yang bisa dianggap sangat brutal. Ibarat anak macan yang membunuh induknya, dia layak dianggap amat sangat buas dan luar biasa menakutkannya.

Keempat, bangunan kuno adalah guru bagi setiap arsitek. Maka, jika ada arsitek yang membongkarnya meski dengan tujuan untuk menggantinya dengan bangunan baru yang lebih megah, itu merupakan kesombongan yang akan menimbulkan sinisme dan bahkan kutukan. Ibarat murid yang sengaja membunuh guru, dia tidak bisa diampuni dan selayaknya terkutuk selamanya.

Kelima, bangunan kuno adalah warisan yang sangat berharga sepanjang dilestarikan dengan baik, dan sebaliknya menjadi warisan yang tak berharga jika dibongkar. Oleh karena itu, tindakan membongkar bangunan kuno merupakan kemubaziran dan ketidakmampuan menghormati dan menghargai karya para leluhur.

Asli

Alasan-alasan tersebut selayaknya dilembagakan di setiap kota sebagai bentuk upaya preventif menghindari pembongkaran bangunan-bangunan kuno bersejarah. Dan, semua pihak selayaknya memiliki kesadaran yang sama untuk melestarikan keaslian bangunan-bangunan kuno sebagai citra dan identitas kota di daerah masing-masing.

Kesadaran tentang pelestarian bangunan-bangunan kuno memang perlu dilembagakan agar tidak ada lagi bangunan kuno yang kehilangan keasliannya. Sejak kosakata “pembangunan” di dengung-dengungkan oleh Orde Baru hingga kini, sudah terlalu banyak bangunan kuno bersejarah yang tidak lagi asli. Renovasi sering dilakukan sangat ceroboh, bahkan identik dengan pelampiasan nafsu vandalistis.

Segala tindakan renovasi sah- sah saja dilakukan, selama tidak merusak keaslian bangunan kuno bersejarah. Sebab, seluruh bentuk dan warna asli bangunan kuno memiliki nilai sejarah yang tinggi, yang justru akan hilang jika dikutak-kutik. Misalnya, siapa pun tentu akan sangat menyayangkan jika Menara Kudus, Candi Borobudur, atau Candi Prambanan dipopok dengan adonan pasir-semen dan atau kemudian dicat warna- warni atau bahkan dilapisi marmer.

HAWA AROFAH Pemerhati Arsitektur dan Lanskap Kota

Sumber: Kompas, 31 Januari 2005


%d blogger menyukai ini: