Revitalisasi Bukan Sekedar “Beautification”

Oleh: Laretna T. Adishakti

Pelestarian/konservasi bukanlah romantisme masa lalu atau upaya untuk mengawetkan kawasan bersejarah, namun lebih ditujukan untuk menjadi alat dalam mengolah transformasi dan revitalisasi kawasan tersebut. Upaya ini bertujuan pula untuk memberikan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik berdasar kekuatan aset lama, dan melakukan pencangkokan program-program yang menarik dan kreatif, berkelanjutan, serta merencanakan program partisipasi dengan memperhitungkan estimasi ekonomi.

Revitalisasi, sebuah upaya pelestarian

Kesinambungan yang menerima perubahan dan/atau pembangunan merupakan konsep utama konservasi, suatu pengertian yang berbeda dengan preservasi. Hal ini bertujuan untuk tetap memelihara indentitas dan sumber daya lingkungan dan mengembangkan beberapa aspeknya untuk memenuhi kebutuhan modern dan kualitas hidup yang lebih baik (the total system of heritage conservation). Konsekuensinya, perubahan yang dimaksud bukanlah terjadi secara drastis, namun perubahan secara alami dan terseleksi (Adishakti, 1997).

Dalam pelestarian objek yang dikelola tidak lagi bangunan individual atau kelompok bangunan namun area atau kota secara keseluruhan. Kedua, konservasi berarti “preserving purposefully: giving not merely continued existence but continued useful existence” (Burke, 1976). Jadi, fungsi seperti juga bentuk menjadi pertimbangan utama dan tujuannya bukan untuk mempertahankan pertumbuhan perkotaan, namun manajemen perubahan (Asworth, 1991).

Kegiatan konservasi bisa berbentuk preservasi dan dalam saat yang sama melakukan pembangunan atau pengembangan, restorasi, replikasi, rekonstruksi, revitalisasi, dan/atau penggunaan untuk fungsi baru suatu aset masa lalu. Kegiatan yang dilakukan ini membutuhkan upaya lintas sektoral, multi dimensi dan disiplin, serta berkelanjutan. Dan pelestarian merupakan pula upaya untuk menciptakan pusaka budaya masa mendatang (future heritage).

Mempertimbangkan bahwa pusaka yang akan dikelola berbentuk sebuah seting yang terdiri dari berbagai sumber daya budaya dan alam lokal, baik yang berbentuk fisik ataupun tidak, upaya pelestarian telah bergeser dari hanya mempertimbangkan isu keindahan (beautification) semata menuju usaha-usaha yang holistik. Pelestarian menitik beratkan pada upaya menciptakan pemanfaatan yang kreatif, menghasilkan heritage products yang baru, pelaksanaan program-program partisipasi, analisis ekonomi, serta kegiatan ekonomi dan budaya di kawasan pelestarian.

Dalam bentuk seperti ini, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut merupakan komponen utama untuk dipertimbangkan. Usaha untuk menghasilkan keuntungan dari upaya pelestarian bagi masyarakat, kualitas hidup yang lebih baik, peningkatan pendapatan dan lingkungan yang ramah menjadi tujuan utama pelestarian. Manajemen pelestarian kawasan bersejarah menjadi alat untuk mencapai tujuan termasuk keterlibatan total masyarakat untuk mengelola sendiri (people centered management).

Revitalisasi, Tiupan Kehidupan Baru Terkelola

Semangat dalam sistem pelestarian yang menyeluruh ini perlu mendasari berbagai upaya revitalisasi yang intinya adalah menghidupkan kembali suatu tempat yang memiliki aset potensial. Tiupan kehidupan yang diwujudkan tidak hanya sebatas fisik seperti penyelesaian infrastruktur, dukungan utilitas, pemugaran ataupun pengembangan lainnya, namun juga perencanaan kegiatan baru yang kreatif dan inovatif yang telah disiapkan bersama dengan mekanisme pengelolaannya.

Banyak contoh di Indonesia menunjukkan upaya revitalisasi berakhir dengan devitalisasi. Kehidupan yang hangat justru tidak terjadi, yang tertinggal hanyalah puing-puing keindahan yang tidak bernafas. Denyut kehidupan yang diharapkan muncul berakhir dengan selesainya sebuah proyek revitalisasi yang hanya berorientasi pada penyelesaian keindahan fisik saja. Aspek pencangkokan program kegiatan baru sebatas angan di atas kertas. Aspek pengelolaan, sejak awal upaya revitalisasi hingga pelaksanaan, pemeliharaan dan pengelolaan pengembangan kegiatan (events) yang menjadi salah satu kunci utama keberhasilan program revitalisasi sering diabaikan.

Sebuah contoh menarik adalah keberhasilan revitalisasi pusat kota Nagahama, Jepang. Kota kecil yang berada di pinggiran danau Biwako ini banyak memiliki peninggalan lama, mulai dari machiya (rumah tradisional) hingga lumbung-lumbung beras yang kosong, membentuk wajah kota yang sangat khas.

Pada suatu waktu, sebuah toko serba ada akan dibangun di tengah kota. Penduduk menolak, karena akan merusak wajah pusat kota serta ekonomi rakyat yang ada. Gagasan pemerintah setempat, toko besar tersebut kemudian akan dibangun di pinggiran kota. Kembali masyarakat menolak, mereka berfikir pusat kota akan menjadi area yang mati, banyak orang nanti memilih pergi ke area baru tersebut. Apalagi, pada umumnya, pusat kota selalu memiliki persoalan dengan lalu lintas yang padat dan jalan-jalan yang relatif kecil.

Agar toko serba ada tetap dapat dibangun, dan pusat kota lama tidak menjadi mati, sebuah program “peniupan” kehidupan untuk pusat kota dilakukan dengan memilih program yang inovatif, bernilai jual tinggi dan berkelanjutan. Dipilih industri kecil yaitu kerajinan gelas, yang tidak dimiliki di kota itu dan justru didatangkan dari Tokyo, sebagai citra industri kota yang baru. Alasan pemilihan:

1. Industri kerajinan gelas yang dapat diwujudkan dalam bentuk peralatan rumah tangga, perhiasan wanita, dan cenderamata diprediksi akan mampu mendatangkan wanita dari berbagai penjuru Jepang ke sana untuk berbelanja. Dan bila disain terus berkembang, mereka akan datang kembali dan kembali lagi.

2. Kerajinan ini dapat dilakukan langsung oleh masyarakat sendiri sehingga akan mendukung kegiatan ekonomi rakyat setempat.

3. Kerajinan tersebut baik dari segi pengolahan maupun penataan penjualan dapat adaptif menempati peninggalan lama yang ada, sehingga bangunan tradisional dapat dipugar dan dikembangkan sesuai kebutuhan tanpa merusak keasliannya.

Tiupan kehidupan di kota Nagahama ini dikelola langsung oleh pemerintah kota bekerja sama dengan masyarakat dan melakukan kemitraan dengan berbagai pihak swasta. Untuk perencanaan dan pelaksanaan revitalisasi yang bekerja sama dengan masyarakat ini dilakukan melalui pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan di Community Center yang memakan waktu hingga tahunan.

Berbagai program perbaikan fisik, infrastruktur, dan keindahan kota mulai dari penutup jalan, hiasan jembatan, lampu kota serta street furniture lainnya dilaksanakan untuk mendukung revitalisasi tersebut. Beberapa festival masyarakat juga dibangkitkan kembali. Dan kini, memang banyak wanita dari berbagai penjuru lalu lalang di kota tua ini berburu kerajinan gelas, dan masyarakat lokal dapat memenuhi kebutuhan modern di lingkungan tradisional yang sehat, serta pusaka kota bersejarah ini secara berkelanjutan terpelihara dan lestari dengan baik.

Meniupkan dan mencangkokkan kegiatan baru dalam suatu kawasan terkait erat dengan keterlibatan masyarakat. Promosi untuk membangkitkan kebanggaan terhadap apa yang akan dirancang sangat penting. Demikian pula dalam menyeleksi komponen yang akan dihidupkan kembali perlu penanganan yang jeli. Untuk itu, suatu kelompok pengelola (apapun namanya) yang mampu berkerja dekat dengan masyarakat lokal dan bersamaan dengan itu mampu mengembangkan jaringan dengan pihak luar sangat diperlukan.

Misalnya, di kawasan bersejarah Kotagede, Yogyakarta yang baru memiliki program pelestarian sebatas kampanye kepedulian telah memunculkan beberapa kelompok yang peduli terhadap persoalan ini dan mampu menjembatani antara masyarakat dan pihak-pihak luar, di antaranya adalah Pusdok (Pusat Studi dan Dokumentasi Seni Budaya Kotagede) dan Yayasan Kanthil. Kelompok-kelompok seperti ini berpotensi untuk menjaga kesinambungan program revitalisasi.

Demikian pula di banyak pusat-pusat kota lama di Amerika, tumbuh kelompok-kelompok yang memiliki misi melakukan identifikasi pusaka budaya yang ada, melakukan pengolahanan untuk fungsi-fungsi baru untuk memperbaiki kualitas hidup, serta promosi kepada masyarakat agar mereka bangga terhadap pusaka yang dimilikinya. Sebagai contoh Historic Massachusetts, USA, yang bermitra dengan penduduk lokal dan berbagai organisasi untuk revitalisasi bangunan dan lansekap yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Kelompok ini dalam menyeleksi sumber daya budaya untuk revitalisasi menetapkan tiga buah kriteria dasar:

a. sumber daya tersebut harus menunjukkan hubungan yang penting antara pelestarian dan kebanggaan masyarakat setempat;

b. sumber daya tersebut harus potensial menjadi katalisator usaha revitalisasi dan pembangunan;

c. sumber daya tersebut harus memiliki dukungan masyarakat dan politik.

Revitalisasi Masyarakat dan Teknologi Informasi

Beberapa butir terakhir di atas, menegaskan kembali betapa pentingnya keterlibatan masyarakat. Dan keterlibatan di sini bukan sekedar “keikut-ikutan serta” atau untuk mendukung aspek formalitas yang memerlukan adanya kata partisipasi masyarakat semata. Namun, suatu keterlibatan yang didukung pemahaman yang mendalam tentang persoalan revitalisasi dan konservasi. Pemahaman yang dimulai dari pengetahuan aspek kesejarahan yang terkandung di kawasannya, atau nilai-nilai berharga yang dimilikinya hingga apa yang perlu mereka lakukan saat ini dan nanti. Mekanisme untuk melibatkan mereka perlu dipersiapkan dengan jelas. Perlu dicatat di sini, masyarakat yang terlibat bisa jadi tidak hanya yang berada di kawasan revitalisasi. Mereka yang memiliki hubungan emosi atau kepedulian dengan tempat tersebut akan menuntut haknya sebagai orang yang perlu dilibatkan pula. Untuk itu, penggunaan teknologi informasi dalam mengelola keterlibatan banyak pihak (stakeholders) ini sanggat diperlukan. Termasuk mendukung semangat konservasi yang harus mampu mengelola perubahan, dokumentasi sumber daya budaya dari waktu ke waktu penting disebarluaskan untuk dipahami semua pihak.

Beberapa kemungkinan penggunaan teknologi informasi yang dapat dilakukan diantaranya adalah:

1. identifikasi dan dokumentasi berbagai sumber daya alam dan budaya dalam dokumentasi digital dan dapat diwujudkan dalam website sehingga mudah diakses;

2. berbagai gagasan revitalisasi disosialisasikan melalui website dan pemasangan hasil cetakannya di tempat-tempat strategik;

3. membuat forum dalam bentuk mailing list agar masyarakat dan semua pihak dapat menyampaikan pendapatnya secara langsung dan berdiskusi tentang revitalisasi secara terbuka;

4. pameran secara regular tentang pengembangan upaya revitalisasi melalui produk-produk teknologi informasi di lokasi atau di luar lokasi dapat dilakukan untuk menjaring gagasan dan kemitraan;

5. melalui upaya ini dapat dirumuskan pula beragam insentif yang akan diberikan kepada pihak-pihak yang melaksanakan program pelestarian dan revitalisasi.

Namun, persoalan klasik pasti akan muncul di tengah pentingnya penggunaan teknologi informasi ini, selain belum semua orang mengenal mengenai teknologi ini, juga mengenai pendanaan. Beberapa terobosan kemitraan perlu diupayakan. Kita ketahui bersama sekarang telah tumbuh subur beragam warung/café internet di mana-mana. Dan ini jarang dimanfaatkan untuk keperluan sosialisasi atau upaya konservasi khususnya. Mengapa tidak para investor di bidang ini diajak bekerja sama dalam upaya revitalisasi. Datangkan mereka di kawasan revitalisasi dan rumuskan aturan mainnya. Bila perlu tempatkan di bangunan bersejarah. Gunakan wallpaper dalam monitor komputer-komputer tersebut untuk sosialisasi program revitalisasi. Demikian pula akses pertama website selalu ke revitalization web.

Kemudian bagi mereka yang menjadi anggota aktif milis revitalisasi dan dapat dibuktikan melalui tulisannya di milis akan mendapat pengurangan biaya sewa. Bagi yang belum tahu penggunaannya, bisa dibuat program pelatihan gratis sekaligus menjadi ajang sosialisasi revitalisasi. Dan akhirnya warung internet ini juga bisa menjadi warung diskusi masyarakat lokal untuk revitalisasi. Terobosan ini perlu diujicobakan.

Pandangan dan Tata Nilai Baru: Heritage Investment

Sosialisasi tentang pentingnya revitalisasi yang terkait erat dengan perencanaan ekonomi lokal ini perlu diupayakan untuk merubah dan menumbuhkan kemauan publik dan swasta untuk melakukan investasi pada pelestarian pusaka alam dan budaya. Semangat konservasi hendaknya menjadi fondasi yang kuat berbagai kemitraan yang akan ditumbuhkan. Namun, menyertakan pihak swasta untuk melakukan investasi di bidang ini memerlukan komitmen jangka panjang dan kapasitas pengelolaan yang andal. Selain menyiapkan dokumen rancangan untuk heritage investment, agar revitalisasi kawasan dapat berkelanjutan dan tidak merusak konsep pelestarian, beberapa aspek perlu dipersiapkan, antara lain:

1. Stabilitas peraturan yang mendukung masa depan kawasan revitalisasi. Investor selalu mempertimbangkan resiko bila akan investiasi di kawasan tertentu.

2. Perlu ada pilot project investasi yang dapat ditunjukkan keberhasilannya sehingga dapat dijadikan alat promosi mengundang sektor swasta.

3. Perlu dipersiapkan mekanisme agar penduduk lokal justru tidak terpinggirkan dengan kehadiran investor dari luar. Justru invenstasi mandiri oleh lokal diprioritaskan.

Revitalisasi, Bukan Impian Semusim

Tulisan kecil ini menekankan bahwa revitalisasi bukan sekedar perbaikan-perbaikan fisik atau polesan-polesan genit yang dipersiapkan sesaat dan dilaksanakan sesaat pula. Revitalisasi merupakan sebuah program berkelanjutan mulai tahap-tahap jangka pendek hingga jangka panjang, mulai dari ruang yang kecil hingga yang meluas. Revitalisasi terkait dengan upaya membangun dan menggalang kekuatan masyarakat lokal membentuk denyut kehidupan yang sehat yang mampu memberikan keuntungan sosial-budaya dan ekonomi bagi masyarakatnya.

Untuk itu, terobosan teknologi, pengelolaan, dan “tiupan” kehidupan yang diciptakan di kawasan itu haruslah sebuah hasil pemikiran yang komprehensif. Dilaksanakan dengan mengembangkan kemitraan, menawarkan investasi pusaka alam-budaya dan ditujukan untuk menjadi citra kawasan yang terpelihara dan bahkan berkembang sepanjang masa. Bukan justru menjadi kawasan mati suri yang berwajah cantik namun segera layu begitu proyek revitalisasi berlalu.

Laretna T. Adishakti

Staf Pengajar & Peneliti, “Centre for Heritage Conservation”

Jurusan Arsitektur FT UGM; Ketua, Jogja Heritage Society

Sumber: http://www.urdi.org/urdi/bulletin/volume-13c.php


%d blogger menyukai ini: