Kelenteng Jin De Juan Jakarta

Sekitar tahun 1650 letnan Tionghoa Guo Xun-guan mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Guan-yin di Glodok. Guan-yin adalah dewi belas kasih Buddhis, yang lazim dikenal sebagai Kwan-Im. Kelenteng tersebut dinamakan Guan-yin Ting atau Kelenteng Kwan-Im. Kata Tionghoa ‘yin ting’ ini diubah kedalam bahasa indonesia klen-teng, yang kini menjadi istilah lazim bagi semua tempat ibadat Tionghoa di Pulau Jawa.

Pada tahun 1755 seorang kapten Tionghoa menamai kembali kelenteng yang telah dipugar itu dengan nama Jin-de Yuan – Kelenteng “Kebajikan Emas”. Orang setempat menyebut kelenteng ini Kim Tek I. Pada dasarnya kelenteng ini bercorak Buddhis, dahulu delapan belas orang biksu tinggal di kelenteng ini. Namun demikian, beberapa unsur Taois ditemukan juga.

Jika kita berdiri di halaman luar yang dikelilingi tembok – setelah melewati pintu gerbang pertama di selatan – disebelah kiri terdapat tiga kelenteng sekunder dan modern: Hui-ze Miao (kelenteng untuk leluhur Hakka), Di-cang-wang Miao (dipersembahkan kepada Raja Neraka) dan Xuan-tan Gong atau Vihara Dharma Sakti, yang dipersembahkan kepada dewa pemberi kekayaan. Lalu, kita masuk kehalaman kedua dimuka kelenteng utama dan melihat dua singa (bao-gu shi) yang berasal dari Provinsi Kwangtung di Tiongkok Selatan (1812). Sebuah pembakar kertas (uang kelenteng) yang disebut jin-lu, berdiri di bawah atap bertingkat. Jin-lu tertua ini sekarang diletakan di halaman belakang. Pada alat itu tertera dibuat di Kwangtung pada tahun 1812.

Gedung utama Kelenteng Jin-de Yuan rupanya dibangun sesudah tahun 1740, karena kelenteng yang lama ikut dihancurkan pada tahun itu. Ujung-ujung atap gedung induk dengan genteng yang bagus melengkung keatas, dihiasi dengan naga-naga dan berbagai patung porselin. Bagian muka kelenteng ini agak rumit. Pintu ganda utamanya dilukisi gambaran penjaga (men-shen). Kedua jendela bundar dari ukiran kayu yang tembus pandang, melambangkan qi-lin, binatang menakjubkan yang menyerupai kuda bercula satu. Binatang ini dianggap lambang keberuntungan yang luar biasa. Gambar timbul modern disebelah kanan dan kiri melukiskan burung phoenix dan naga, simbol kaisar dan ratu. Empat lentera menghiasi ruang depan ini. Tulisan horisontal pada papan kau diatas pintu masuk menunjukan nama kelenteng ini. Diatas pintu masuk disebelah dalam, didalam sebuah kotak tampak patung San-yuan, Kaisar Tiga Dunia. Patung dewa Taois ini mungkin berasal dari abad ke-17.

Diruang tengah – ta tieng – tampak banyak patung buddhis yang berkualitas baik, namun berasal dari sebelum tahun 1740. Pada tembok kanan dan kiri bagian tengah dipasang kotak berkaca dengan delapan belas patung Arahat atau Luohan. Tiga patung besar dibelakang patung Kwan-Im pada tembok belakang melambangkan San-zun Fo-zu, semacam tritunggal Buddhis, yang disertai sejumlah patung lebih kecil, yang sebagian berasal dari abad ke-18.

Dalam gedung samping kiri terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Nama mereka masih tertulis pada beberapa lempeng batu. Dalam kamar pertama terpasang altar paling tua dari seluruh kelenteng. Kamar kedua diisi dewa Taois Fu-de Zheng-shen (atau Hok-tek Tjen Sin) – Dewa bumi dan kekayaan. Dialah dewa yang paling dihormati di Jakarta, karena orang Tionghoa pada jaman dahulu bekerja sebagai pedagang dan petani.

Di gedung belakang, dalam kamar sembahyang tengah, terdapat patung seorang dewa setempat yang dihormati. Nama dewa itu Tikhai tjindjin atau Ze-hai Zhen-ren – ‘Penjaga abadi pelindung laut&’. Nama sesungguhnya adalah Kwe Lak Kwa, seorang pedagang. Sebuah lonceng buatan tahun 1825 dipojok kanan halaman belakang merupakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Akhirnya di sayap kanan, dua kamar sembahyang diisi sebuah altar untuk menghormati Qing-shui Zu-shi, ‘Tuan karang terjal yang disebut Qing-shui Yan’. Nama sesungguhnya Chen Pu-zu dan dihormati juga di kelenteng Tanjungkait di utara Tangerang.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/jindeyuan.htm

Iklan

%d blogger menyukai ini: