Gedung Majestic Dan Pelestarian Bangunan Bersejarah Di Kota Bandung

Oleh Salmon Martana, MT.

Januari lalu, sebuah kegiatan yang cukup menarik digelar di Bandung. Forum Kebudayaan dan Perdamaian diselenggarakan bertempat di Gedung DPRD, yang diikuti oleh Malam Budaya di Gedung Majestic, jalan Braga. Pusat Penelitian Kepariwisataan ITB, Asia Africa Cultural Centre (AACC) serta DPRD Jawa Barat menulangpunggungi acara yang ditujukan untuk membangkitkan kembali kehidupan budaya di Bandung khususnya, dengan mendayagunakan semangat Konferensi Asia Afrika 1955, dalam konteks lokal maupun internasional.

Hal yang agak terlewat namun menarik untuk dicermati adalah revitalisasi dan penggunaan kembali gedung kuno, mantan bioskop Majestic yang sudah agak terlupakan, untuk acara Malam Budaya tersebut. Saat ini, gedung Majestic sudah berubah fungsi dari bioskop menjadi gedung pertemuan dan “markas” sehari-hari AACC.

Bandung, sebagai kota yang pernah ditetapkan untuk menjadi calon ibukota Hindia Belanda pada tahun 1916 oleh Gubernur Jenderal J.P. van Limburg Stirum, sebenarnya layak untuk menyandang predikat sebagai museum arsitektur. Saat itu, Batavia yang bercuaca panas dan terletak di tepi pantai dianggap sudah kurang layak untuk dijadikan ibukota negara. Alhasil, berdatanganlah arsitek-arsitek kondang yang menjadikan Bandung sebagai “laboratorium”nya, membangun sarana dan prasarana yang layak untuk mendukung fungsi sebagai ibukota. Antara 1918 hingga 1925, Gemeente-werken Bandung dengan dikomandani Ir. F.J.L. Ghijsels membangun 750 bangunan modern untuk ukuran saat itu, sebagai bagian dari persiapan kepindahan ibukota. Oleh karenanya, hingga tahun 80-an nuansa masa silam yang gemilang sangat kental khususnya di beberapa bagian kota tertentu. Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, kepentingan ekonomi nampaknya mulai mengalahkan segala-galanya. Satu persatu gedung-gedung kuno tersebut rontok digantikan oleh kepentingan-kepentingan baru yang diwadahi gedung-gedung jangkung yang lebih modern. Protes yang bermunculan dari para pemerhati wajah arsitektur kota tenggelam dalam hiruk pikuknya deru pembangunan, seperti yang dialami oleh Gedung Singer di jalan Asia Afrika yang terkenal itu, sekitar sepuluh tahun silam. Untungnya, kini telah mulai tumbuh kesadaran untuk menjalankan fungsi modern tanpa harus menggusur bangunan lama, dan Gedung Majestic merupakan salah satu contohnya.

Selintas Gedung Majestic

Majestic merupakan salah satu elemen tak terpisahkan dari kegemilangan jalan Braga masa lalu. Di pertengahan 1920-an, jalan yang awalnya di abad 18 hanya merupakan jalan pedati tersebut menjelma menjadi pusat pertokoan yang sangat bergengsi. Saat itu merupakan masa-masa keemasan bagi tuan-tuan Belanda pengelola perkebunan di seputar Bandung yang menikmati pertumbuhan ekonomi pesat. Sebagaimana lazimnya orang kaya yang selalu membutuhkan sarana untuk berbelanja, tumbuhlah pertokoan elit Eropa di jalan Braga tersebut. Segala macam perlengkapan kehidupan kalangan atas dapat ditemui di sana, mulai dari toko penjual senapan berburu hingga butik-butik mewah. Konon, segala macam mode baru yang muncul di Paris, dalam hitungan hari sudah dapat ditemui di Braga.

Suatu kompleks pertokoan modern belumlah lengkap jika tidak terdapat sarana hiburan, dan hiburan paling top pada saat itu, apalagi jika bukan bioskop, hiburan modern yang saat itu sedang naik daun. Maka direncanakanlah pembangunan suatu bioskop berkelas, yang representatif bagi kalangan atas saat itu.

Awal dekade 20-an, diorderlah Technisch Bureau Soenda untuk melaksanakan pembangunannya. Arsiteknya bukan orang sembarangan, dialah Prof. Ir. Wolf Schoemaker, guru besar Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), yang karya-karyanya terserak di seantero Bandung, sebagian besar masih dapat dinikmati hingga saat ini. Sebutlah saja bangunan Grand Hotel Preanger, Gereja Bethel, Katedral Santo Petrus, Mesjid Kaum Cipaganti hingga Villa Isola di kampus UPI. Wolf Schoemaker dilahirkan di Banyubiru tahun 1887. Pendidikan keteknikannya diperoleh di sekolah Zeni di Breda. Schoemaker kembali ke Hindia Belanda untuk mengabdi sebagai Letnan Zeni. Setelah menamatkan masa baktinya di ketentaraan, ia membuka biro arsitektur di tahun 1917. Masa baktinya sebagai staf pengajar di T.H. Bandoeng berpuncak dengan jabatan rektor yang disandangnya antara tahun 1934-1935. Salah seorang mahasiswa Schoemaker yang pernah ikut membantu sebagai juru gambar di biro tersebut adalah pemuda Raden Soekarno, yang kelak menjadi Presiden RI pertama. Di biro arsitek milik Schoemaker inilah Soekarno muda mengasah ketrampilannya, sekaligus mengumpulkan bekal untuk menghidupi rumah tangganya bersama Inggit Garnasih. Banyak yang mengatakan, Soekarno merupakan mahasiswa yang paling disayangi Schoemaker. Mereka berbagi minat hampir di segala bidang, mulai dari musik, seni lukis hingga wanita!

Sama dengan mahasiswa favoritnya itu, Schoemaker sendiri adalah sosok yang kontroversial. Dalam soal religi misalnya, secara kelakar oleh orang-orang dekatnya dikatakan bahwa ia dapat berganti-ganti agama sesuai dengan proyek yang sedang dikerjakan. Kemampuannya merancang sejumlah rumah ibadah berbagai agama dengan sama baiknya agaknya yang menyebabkan timbulnya anggapan tersebut. Benar tidaknya, tidak ada yang tahu pasti. Sepengetahuan publik, setelah sempat memeluk agama Islam, Schoemaker tutup usia dalam pangkuan Katolik Roma.

Sebagaimana ciri khas rancangan Schoemaker lainnya, langgam arsitektural Gedung Majestic yang rampung tahun 1925 dianggap mewarisi semangat zamannya, sebagai bentuk pemberontakan terhadap “jajahan” aliran internasionalisme yang dinilai Schoemaker sebagai tidak efisien dan terlalu boros ornamen. Jawabannya ditemui dalam arsitektur Gedung Majestic yang mengandung elemen-elemen arsitektur dan seni ukir regional dipadu dengan teknik konstruksi modern dari barat, dengan tetap tidak kehilangan monumentalitasnya. Sebuah wacana baru yang dikembangkan saat itu, sebagai langgam klasik yang tidak merujuk kepada ornamentasi Yunani dan Romawi, namun sebaliknya menggalinya dari kekayaan khazanah arsitektur dalam negeri. Gedung Majestic, dengan garis-garis vertikal dan horizontal yang menonjol merupakan salah satu karya penting dari aliran Indo Europeeschen Architectuur Stijl yang turut menghidupkan kawasan Braga dan sekitarnya pada masa jayanya.

Bioskop Masa Lalu

Menonton bioskop di masa jaya Majestic tahun 20-an tentu saja memiliki nuansa yang sangat berbeda dengan di masa kini. Promosi film dilakukan oleh pengelola bioskop dengan menggunakan kereta kuda sewaan, yang berkeliling kota membawa poster film dan membagi-bagikan selebaran. Masa itu, lewatnya kereta promosi ini merupakan hiburan yang menarik bagi anak-anak.

Pertunjukkan diadakan hanya pukul 19.30 dan 21.00. Mendekati saat tersebut, pelataran bioskop biasanya sudah ramai oleh berbagai kegiatan, mulai dari pedagang yang menawarkan barangnya hingga orkes yang disewa bioskop untuk memainkan lagu-lagu gembira penarik perhatian. Menjelang film dimulai, orkes mini yang biasanya terdiri atas alat musik biola, gitar, chelo dan tambur ini pindah ke dalam bioskop, untuk memberikan musik latar pada film yang dimainkan. Pertengahan tahun 20-an film bicara belum dikenal di Bandung, sehingga film harus ditingkahi oleh musik orkes beserta seorang “komentator”. Pemain-pemain orkes kerap ikut menjadi terkenal, selain karena ditonton banyak orang, juga skill musik yang dimiliki umumnya cukup tinggi. Maklumlah, permainannya harus sangat disesuaikan dengan cerita yang tengah berlangsung di layar.

Film yang diputar, jangan harap berjalan selancar sekarang. Proyektor yang ada hanya cukup untuk memutar satu reel film, yaitu rol film sepanjang sekitar 300 m. dengan durasi 15 menit. Bayangkan saja untuk film sepanjang satu setengah jam pastilah harus ada jeda lima kali sepanjang beberapa menit untuk mengganti reel. Untuk mengisi waktu, biasanya ditayangkan slide -waktu itu populer dengan sebutan “gambar mati”- reklame dari rekanan bioskop. Pada salah sebuah ruangan Gedung Majestic saat ini masih tersimpan proyektor sisa kejayaan masa lalu tersebut.

Masa itu, dengan alasan sopan santun penonton bioskop dibagi menjadi dua bagian, deret kanan dan kiri menurut jenis kelaminnya. Namun aturan yang longgar ini kerap dilanggar oleh pasangan yang telah menjalin ikatan suami istri, dengan alasan takut terpisah saat ramai-ramainya bubar bioskop.

Kegemilangan bioskop Majestic sempat bertahan beberapa dekade, hingga akhirnya mulai surut di tahun 80-an seiring dengan bermunculannya cineplex, konsep menonton bioskop yang lebih modern, dengan kemudahan memilih film dari beberapa yang ditayangkan secara bersamaan. Bertahun-tahun setelah itu Majestic semakin merana dengan hanya memutar film-film kelas rendahan yang hanya ditonton segelintir orang.

Sebelum ini, banyak yang menduga, nasib Majestic akan sama saja dengan gedung-gedung kuno karya empu-empu arsitektur masa lalu lainnya, yang digusur oleh kepentingan ekonomi. Walaupun pemerintah pada tahun 1992 telah mengeluarkan Undang-undang No. 5/1992 yang mengatur Benda Cagar Budaya, dalam kurun waktu dari dikeluarkannya undang-undang tersebut hingga saat ini yang terjadi adalah justru semakin berkurangnya bangunan-bangunan kuno di kota Bandung. Oleh karena itu, ditinjau dari kacamata preservasi benda-benda cagar budaya, revitalisasi gedung Majestic ini dapat menjadi angin segar yang mudah-mudahan dapat terus berhembus.

Pelestarian Gedung-gedung kuno dengan memasukkan fungsi baru tanpa mengadakan perubahan radikal pada fisik bangunan memang bukan merupakan wacana yang baru. Bandung Heritage telah lama memperjuangkannya. Demikian pula di luar negeri, kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilaksanakan oleh Singapore Heritage Society yang pada tahun 1984 bekerjasama dengan Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology mendesain ulang sejumlah bangunan lama yang menarik untuk kemudian dijual kepada wisatawan mancanegara gila nostalgia. Pendapatan Singapura dari sektor Pariwisata mencatat kenaikan yang cukup berarti seiring dengan dijualnya wisata budaya ini.

Tanpa harus terhanyut oleh nuansa sentimentil masa silam, revitalisasi gedung Majestic yang diubah menjadi Gedung Pertemuan dengan kualitas yang cukup baik ini kiranya cukup berarti sebagai pembawa pesan moral, bahwa tidak selalu kepentingan ekonomi komersial harus menindas aspek-aspek kebudayaan. Sebuah berita gembira bagi gedung-gedung bersejarah lainnya di kota Bandung maupun di kota-kota lain di Indonesia, yang menunggu uluran tangan kita untuk diselamatkan.

Pusat Penelitian Kepariwisataan – Institut Teknologi Bandung.

Sumber: http://www.terranet.or.id/tulisandetil.php?id=1322

Iklan

%d blogger menyukai ini: