Cinta Miranda Goeltom Kepada Bangunan Tua

Miranda Swaray Goeltom, yang lebih dikenal sebagai salah satu penyusun kebijakan moneter di Bank Indonesia (BI), memiliki jabatan lain dan amat berbeda dengan bidang perbankan, yakni Ketua Jakarta Oldtown-Kotaku (JOK), suatu perkumpulan masyarakat pecinta bangunan tua.

“JOK merupakan kumpulan orang-orang yang peduli dengan pelestarian dan keutuhan bangunan bersejarah, terutama yang berada di kawasan kota tua Jakarta,” katanya dalam konferensi pers Pencanangan Revitalisasi Kota Tua Jakarta, di Gedung BI, Kota, Kamis lalu (9/12).

Selain menjadi ketua di perkumpulan yang antara lain terdiri dari para arsitek dan ahli bangunan tua tersebut, Miranda juga bertanggung jawab atas pengembangan kegiatan seni dan budaya di kawasan Kota.

Perempuan yang pada Juni 2004 terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior BI itu mengaku, kecintaannya kepada gedung-gedung tua di Kota dan sekitarnya tumbuh ketika ia masih kanak-kanak.

“Dulu, salah satu cabang perusahaan milik ayah saya berada di kawasan Kota, sehingga saya sering berkunjung ke sana. Selain itu, hampir seluruh keluarga saya bertempat tinggal di rumah tua, sehingga saya akrab dengan bangunan tua dan sangat menyukainya,” paparnya.

Ia masih ingat, ketika ia masih kanak-kanak ada sebuah restoran yang menyajikan masakan Cina yang sering dikunjunginya di Kota. Namun, sekarang restoran itu sudah tidak ada lagi. “Makanan di restoran Cina itu enak sekali. Saya masih bisa mengingat tempat dan rasanya sampai sekarang,” kenangnya bersemangat.

Miranda mengatakan, kecintaannya kepada bangunan tua bertambah sejak orangtuanya mengenalkan seni lukis kepadanya. “Sejak kecil saya dididik untuk mengenal dan mencintai berbagai seni, termasuk juga seni lukis dan seni bangunan,” ucapnya.

Peraih gelar doktor di bidang ekonomi dari Universitas Boston, AS, tersebut menyatakan pula rasa irinya terhadap negara-negara lain yang memiliki kota-kota tua yang tertata rapi dan indah serta menarik untuk dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

“Saya baru pulang dari Utrech, Belanda. Kota tua di sana indah sekali dan menarik untuk dikunjungi. Berbeda sekali dengan kondisi kota tua kita di Jakarta,” kisahnya.

Ia menimpali, “Saya iri sekali. Tetapi, itu iri yang positif, karena sekarang JOK dengan dukungan Pemda DKI akan berupaya menata ulang kawasan kota tua Jakarta, meski masih dimulai dengan upaya yang kecil, yaitu pembersihan Kali Besar.”

Salah satu staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) tersebut mengemukakan, saat ini, karena berbagai kesibukannya, ia sudah jarang mengunjungi kawasan Kota untuk sekadar berjalan-jalan.

“Saat ini saya sudah jarang ke Kota. Tetapi, bayangkan kalau kawasan tua ini bisa tertata rapi dan lingkungannya asri, tidak semrawut seperti sekarang, pasti banyak orang tertarik untuk berwisata ke sini,” tutur Miranda, yang berbusana warna hijau lumut dan berambut disemir dengan pewarna rambut ungu.

Meski berdarah Batak, perempuan kelahiran Jakarta, 19 Juni 1949 itu mengaku telah merasa akrab dengan Jakarta seperti layaknya orang Betawi. “Meskipun berdarah Batak, saya lahir dan besar di sini. Nama saya saja Goeltom. Tetapi, sebenarnya saya lebih ’Jakarta’ dari orang Jakarta,” ujarnya. (Ant/Ati)

Sumber: Kompas, Sabtu, 11 Desember 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: