Pemerintah Kurang Ahli Memugar Bangunan Bersejarah

Seharusnya pemerintah dan umat yang bertanggung jawab untuk memelihara rumah ibadat bersejarah itu. Kalau mereka tidak memilihara sungguh berbahaya. Namun, tantangan paling penting adalah pandangan yang menyatakan mengapa bangunan lama harus dijaga. Padahal, melalui bangunan lama yang menunjukkan gaya bangunan yang khas dan dipengaruhi oleh Timur Tengah, Tiongkok dan Eropa merupakan kekayaan kebudayaan. Sayang, tidak banyak yang menyadarinya. Peran pemerintah dalam menjaga gedung tua tidak terlepas dari sikap pemerintahan kolonial dulu. Pemerintah Belanda tidak menjaga gedung tua. Sekarang ada dinas khusus yang menangani masalah ini, namun kurang keahlian melakukan pemugaran. Pemugaran dilakukan dengan membongkar gedung dan membuat yang baru. Sebenarnya itu salah. Seharusnya dalam memugar sedapat mungkin yang lama yang harus dipertahankan keasliannya.

Pengganti

Pada kesempatan ini ada sebuah tema yang menarik untuk disajikan dalam acara Perspektif Baru. Tetapi sebelumnya ada sebuah cerita dari seorang ketika baru pulang dari berwisata di Italia. Dia mengatakan bahwa negara Italia sangat hebat, di sana sangat banyak bangunan kuno. Ketika ditanya bangunan kuno apa saja yang disaksikan, dia menjawab hampir semuanya adalah gereja. Berbeda dengan Indonesia, dia tidak pernah membaca atau menyaksikan bangunan kuno baik itu masjid maupun gereja. Yang ada adalah kuburan-kuburan kuno yang sampai sekarang masih dikunjungi oleh masing-masing umat beragama. Misalnya Wali Songo oleh umat Islam atau beberapa bangunan yang oleh umat yang dianggap suci seperti Sendang Sono oleh umat Katolik. Kali ini kita ingin berbincang-bincang dengan Romo Adolf Heuken yang sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya tentang gereja-gereja dan masjid-masjid tua di Jakarta. Sebuah pekerjaan yang awalnya dimotivasi oleh hobi dan kemudian berkembang menjadi sebuah pekerjaan serius. Dalam kesempatan ini Romo akan berbagi cerita mengenai pengalaman-pengalamannya menekuni bidang ini, juga pandangannya tentang rumah-rumah ibadah dan pelestariannya di negara kita, bersama Faisol Reza.

Bagaimana awal mulanya Romo menekuni bidang ini sampai kemudian menjadi pekerjaan serius bahkan sampai menuliskan buku ?

Saya sudah tinggal di Jakarta lebih dari 40 tahun. Kalau saya tinggal lama di satu tempat, biasanya ingin tahu latar belakang dan bagaimana ini berkembang dari sekarang yang ada. Waktu dulu saya tinggal di Mangga Besar, di sana masih banyak gedung tua dan saya ingin tahu latar belakangnya apa. Saya bertanya dengan orang yang tinggal di sana dan jawaban mereka simpang-siur. Tidak serupa. Saya berpikir bagaimana ini sebenarnya? Misalnya bagaimana di Jakarta bisa ada gereja Portugis yang sudah 350 tahun lamanya dan gereja Protestan. Ada yang bilang dulu orang Portugis yang bangun gereja itu, tetapi Portugis tidak pernah berkuasa di Jakarta. Kalau Portugis ada di Jakarta mereka akan bangun gereja Katolik. Sejak dulu sampai sekarang gereja itu adalah gereja Protestan. Lalu saya tanya, cari di buku dan baca koran bagaimana gereja seperti ini bisa tumbuh atau ada di samping kota tua.

Ternyata, dulu orang Portugis ada tetapi sebagai tawanan Belanda. Lama-kelamaan orang Belanda berusaha supaya mereka menjadi Protestan, tentu mereka membutuhkan gereja dalam bahasa Portugis. Maka muncul gereja Protestan dalam bahasa Portugis. Lalu ada hal lain yang hampir sama, orang bilang yang sekarang menjadi Museum Bahari dulunya adalah Benteng (Kastil Batavia). Hal itu tidak mungkin karena Benteng ada di sebelah kanan Ciliwung, bagaimana bisa ada di sebelah kiri Ciliwung saat ini? Atau stadhuis dibilang sebagai pusat pemerintah VOC. Ini tidak mungkin karena pemerintah VOC pasti berada di benteng bukan stadhuis. Banyak jawaban yang saya peroleh salah, menurut saya, karena itu saya berusaha untuk mengetahui sejarahnya. Inilah awalnya saya mulai mencari latar belakang gedung tua.

Buku-buku apa saja yang sudah Romo tulis untuk menekuni studi bangunan-bangunan tua di Jakarta ?

Sampai sekarang kalau saya tidak keliru sudah 10 buku tentang Jakarta. Yang pertama adalah historical site yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini bersifat umum. Sesudahnya muncul hal khusus, misalnya tentang Menteng. Karena saya sudah tinggal 30 tahun di Menteng, saya ingin tahu mengapa Menteng berbeda dengan pemukiman lainnya di Jakarta. Karena itu saya menulis buku tentang Menteng. Selain itu Jakarta atau Batavia. Ada cerita yang berbeda-beda, dulu ada Sunda Kelapa, lalu timbul pertanyaan kenapa dan kapan berubah menjadi Jakarta. Dari versi resmi kita ketahui bahwa bahwa Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari Raja Hindhu yang ada di Padjajaran, sekarang Bogor, lalu mengalahkan armada Potugis kemudian ini disebut Djayakarta. Ini dongeng. Memang Fatahillah datang dan merebut Sunda Kelapa, jadi dia berperang melawan Padjajaran.

Portugis hanya datang dua kapal untuk berdagang. Satu kapal tandas, 30 orang berenang ke pantai dan dibunuh, sementara yang lain pergi. Lalu datang beberapa kapal lagi tetapi tidak diizinkan mendarat. Ini memang dua kejadian yang penting. Bila berdasarkan kedua peristiwa ini, tidak ada alasan untuk menyebut kota ini sebagai Jakarta. Sebenarnya, baru 30 tahun sesudahnya nama Jakarta dipakai. Tidak ada bukti sejarah apa pun bahwa Fatahillah menamakan kota yang ia rebut itu Djayakarta. Bukti kapan tahun kelahiran Jakarta pun tidak ada. Hal ini membuat saya mencari sumber sejarah dan saya tuliskan dalam tiga buku. Buku pertama mencakup periode sebelum Belanda datang, buku kedua berisi tentang perubutan Djayakarta direbut oleh Belanda, dan buku ketiga membahas tahun-tahun pertama Djayakarta sampai Sultan Agung mengepung Djayakarta dan akhirnya pulang ke Jawa Tengah. Ketiga buku ini berisi dokumen asli dalam bahasa asli, bahasa Sansekerta, bahasa Tionghoa, Belanda, Jerman dan lainnya. Saya menerjemahkannya sehingga pembaca bisa menentukan mana yang benar.

Kesibukan Romo sehari-hari adalah agamawan, bagaimana Romo bisa menjalankan kegiatan itu termasuk menulis buku ?

Menulis buku mengenai rumah ibadah berawal dari hobi. Saya menelusuri Jakarta pada hari minggu, mengumpulkan buku-buku dan artikel dalam bahasa Belanda dan bahasa lainnya. Hobi itu akhirnya menjadi kerja, hingga sekarang saya sisihkan waktu itu untuk menulis buku tentang Jakarta.

Bagaimana bangunan-bangunan tua khususnya rumah ibadah bisa bertahan ?

Gereja misalnya, hampir semua gereja tua hancur. Dulu di daerah kota ada empat gereja dan semuanya sudah hancur. Tinggal satu yang bertahan, itu pun dibangun di luar kota lama Batavia, yakni Gereja Portugis. Sehingga untuk saat ini, gereja tertua di Jakarta adalah gereja Portugis di Jalan Pangeran Jayakarta, Mangga Besar, sebenarnya tidak ada pelestarian terhadap bangunan-bangunan ini. Kalaupun masih berdiri karena tidak ada kemampuan untuk mendirikan yang baru. Bahkan gereja Portugis yang hampir seratus tahun tidak dipergunakan, hanya sekali dua kali dalam setahun dipakai.

Bagaimana mengenai masjid, apakah nasibnya berbeda dengan gereja ?

Berdasarkan dokumen yang berasal dari pertengahan abad ke-17, masjid tertua berada di kampung Bebek. Itu pun saat ini tidak diketahui di mana letaknya. Masjid yang tertua yang diketahui berasal dari sebuah sketsa Belanda tentang Jayakarta yang dibuat dari kapal. Di sketsa itu ada masjid, namun sudah tidak ada bekasnya karena terbakar. Yang termasuk tertua adalah masjid di Pekojan. Masjid tertua tetapi tidak ada satu pun bahannya yang berasal dari masjid yang pertama karena terus dipugar dan diperluas. Di tempat tersebut selalu ada masjid, namun dengan bangunan baru.

Kalau bangunan pertama sudah tidak ada lagi. Masjid-masjid lainnya berada di luar daerah yang disebut Batavia. Daerah yang dihuni oleh orang Malayu, Arab, India Islam dan orang Jawa yang datang untuk bekerja. Masjid-masjid ini mempunyai latar belakang yang berbeda, ada yang khas Arab tetapi dibangun oleh orang Prancis seperti yang di dekat Kali Angke. Ada yang dibangun dalam gaya Bali dengan sebagian gaya Jawa dan unsur-unsur Belanda, tetapi yang membangun orang Thionghoa. Jadi dengan melihat bangunan tua, kita mengetahui bahwa di Jakarta, agama, suku, bahasa dan bangsa apa saja yang bermukim di sini. Inilah seharusnya salah satu alasan untuk kita menjaga masjid.

Kalau masjid itu hilang, kita tidak tahu kalau dulu orang Bali yang datang ke Jakarta, mereka tidak membangun pura atau tempat ibadat Hindu Bali. Masjid dengan unsur Bali dan Thionghoa dapat kita lihat di masjid di Jalan Hayam Wuruk maupun di Tambora. Tetapi ada kesulitan untuk menemukan sejarah masjid karena tidak ada buku atau catatan. Sementara untuk klenteng lebih mudah. Ada pahatan di batu atau papan berisi nama-nama yang menyumbangkan uang atau apa pun untuk membangun klenteng.

Kesadaran untuk melestarikan bangunan bersejarah masih sangat rendah. Siapakah yang harus melestarikannya, pemerintah atau umat ?

Ya, seharusnya keduanya. Baik pemerintah maupun umat sendiri yang harus bertanggung jawab untuk memelihara rumah ibadat bersejarah itu. Kalau mereka tidak memilihara sungguh berbahaya. Namun tantangan paling penting adalah pandangan yang menyatakan mengapa bangunan lama harus dijaga. Padahal melalui bangunan lama yang menunjukkan gaya bangunan yang khas dan dipengaruhi oleh Timur Tengah, Tiongkok dan Eropa merupakan kekayaan kebudayaan. Sayang, tidak banyak yang menyadarinya. Peran pemerintah dalam menjaga gedung tua tidak terlepas dari sikap pemerintahan kolonial dulu. Pemerintah Belanda tidak menjaga gedung tua. Sekarang ada dinas khusus yang menangani masalah ini, namun kurang keahlian melakukan pemugaran. Pemugaran dilakukan dengan membongkar gedung dan membuat yang baru. Sebenarnya itu salah. Seharusnya dalam memugar sedapat mungkin yang lama yang harus dipertahankan keasliannya.

Sebagai umat beragama maupun pecinta bangunan kuno tentu tidak rela kalau bangunan tua hilang tanpa jejak. Usaha-usaha apa saja yang seharusnya dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan ?

Saya tinggal di Menteng, dan setengahnya hampir rusak. Setiap minggu selalu ada bangunan yang dibongkar. Padahal wilayah ini ini digolongkan dalam golongan B, yaitu bangunan yang luarnya tidak boleh dibongkar, tetapi dalamnya boleh. Bahkan yang memprihatinkan adalah bangunan Kantor Imigrasi di Jalan Teuku Umar yang masuk ke dalam golongan A. Sudah bertahun-tahun dilindungi tetapi bertahun-tahun pula telantar begitu saja. Masyarakat umumnya suka yang baru. Walaupun di sini banyak juga yang menjaga rumah mereka dengan baik dan mereka bangga tinggal di bangunan kuno. Bila umat suka gedung baru yang lebih besar, silakan bangun di daerah Kebayoran dan Pondok Indah yang daerahnya lebih cocok. Jangan hilangkan yang lama. Kalau kita menghilangkannya, maka kita tidak tahu lagi akar kita. Bagaimana pertumbuhan umat-umat yang berbeda di Jakarta. Kalau begitu, yang tinggal hanya foto, tulisan atau dugaan. Namun tidak bisa lagi melihat gereja dan masjid yang lama dan bangunannya itu.

Melihat kondisi masyarakat kita saat ini, menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan bangunan tua agak sulit. Siapa yang seharusnya pertama sekali melakukan pelestarian ?

Seharusnya pemerintah. Pemerintah harus tahu gedung-gedung tua yang ada di wilayah Jakarta, misalnya Toko Merah di Kali Besar yang didirikan tahun 1730. Artinya gedung itu sudah sangat tua dan hanya ada satu gedung di Jakarta yang tersisa di mana seorang gubenur pernah tinggal di dalamnya, pernah juga menjadi kantor. Sekarang gedung itu disewakan untuk jadi tempat judi. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya tidak bisa mengerti bagaimana hal ini bisa diizinkan. Contoh lain, Masjid Luar Batang, memang sangat rendah sehingga sering terkena banjir. Kemudian diperbaiki dengan meninggikan lantai satu setengah meter. Dengan demikian proporsi bangunannya hilang. Seharusnya ada teknik lain seperti membuat selokan air dipompa keluar sehingga masjid tetap ada seperti dulu. Masjid ini sangat penting karena masjid tempat persembahyangan orang yang hendak dan yang pulang haji. Kini kondisinya sudah hampir rusak.

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/12/1/f1.htm


%d blogger menyukai ini: