Pelestarian Asal Tempel

PELESTARIAN sebuah bangunan bersejarah bukan berarti membiarkan gedung tersebut beku tanpa aktivitas. Sebaliknya, pelestarian hendaknya tidak dipahami sebagai pengabadian. Bukan berarti gedung tak boleh diubah-ubah sama sekali, baik bentuk maupun peruntukannya.

Demikian disampaikan pemerhati bangunan bersejarah Ir Widya Widjajanti perihal gedung-gedung tua untuk sekolah. Menurutnya, sebuah gedung mesti dilihat sebagai benda hidup yang mengalami evolusi, berubah pelan-pelan. Sudah jamak terjadi perubahan ataupun penambahan elemen-elemen yang dibutuhkan.

”Yang paling penting, tidak menemplokkan segala sesuatu tanpa pertimbangan matang,” ujar Ir Widya Widjajanti dari Sahabat Warisan Budaya.

Dosen Undip itu menengarai, di Kota Semarang, bahkan lebih luas lagi di Indonesia, kerap terjadi tindakan asal tempel terhadap bangunan bersejarah.

Dia mencontohkan perubahan pada gedung SMA Sedes Sapientiae. Kebetulan Widya alumnus sekolah tersebut. ”Seingat saya, waktu saya sekolah pada tahun 1970-an facade-nya masih estetis. Tapi sekarang, ditambah jendela-jendelaan palsu di tembok-temboknya.”

Namun dia melihat pengelolaan SMAN 1 Semarang terhitung bagus jika dikaitkan dengan pelestarian bangunan bersejarah. Sekadar misal, waktu pihak sekolah hendak membangun gedung baru, sebagai jawaban atas kebutuhan pembelajaran, mereka mengundang banyak pihak untuk merembuknya. (89)

Sumber: Suara Merdeka, Kamis, 28 Oktober 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: