Berlanjut, Pembongkaran Bangunan Bersejarah

Medan, Kompas – Pembongkaran bangunan-bangunan tua di kawasan Kesawan, Medan, Sumatera Utara, terus terjadi. Kali ini yang jadi korban adalah gedung eks Bank Modern yang dibangun pada tahun 1929 oleh salah satu perusahaan Belanda. Pembongkaran ini dikhawatirkan akan menghilangkan identitas Kota Medan sebagai kota yang kaya dengan bangunan bersejarah.

Berdasar pengamatan pada hari Selasa (26/10), gedung tua yang berada di simpang tiga kawasan Kesawan ini telah dihancurkan bagian atapnya dan seluruh dinding dalam bangunan sehingga hanya menyisakan bagian depan dan samping gedung.

Executive Director Badan Warisan Sumatera Ir Soehardi Hartono MSc mengimbau agar pihak developer meninjau ulang pengembangan area bagian dalam gedung di Jalan Kesawan No 38 tersebut menjadi rumah toko berlantai lima.

Menurutnya, pembangunan tersebut akan merusak keutuhan rancangan arsitektur sebagai sebuah bangunan bersejarah. “Di samping itu, jika gedung baru itu nantinya berlantai lima, walaupun bentuk asli bangunan tetap dipertahankan di bagian depan dan samping, bangunan baru itu tetap saja mengubah bagian depan bangunan dari 2 lantai menjadi 5 lantai. Ini berarti melanggar Perda Nomor 6 Tahun 1988,” sesal Soehardi.

Kepala Dinas Tata Kota Medan Irman Dj Oemar mengatakan, walaupun dibongkar, tampak bangunan tersebut tetap akan dipertahankan. “Kami tetap akan meminta pengembang tidak mengubah tampak bangunan.

Dalam perda disebutkan yang harus dipertahankan hanya tampak bangunan, sedangkan bagian dalam bisa diubah,” katanya.

Irman menambahkan, konstruksi bangunan yang baru tidak akan merusak konstruksi yang lama. “Walaupun bangunannya nanti jadi lima lantai, tetapi pengembang akan diberi perkuatan tiang baja sehingga beban bangunan tidak ditumpukan pada bangunan yang lama. Bangunan yang baru juga akan menggunakan atap yang desainnya sama dengan bangunan lama,” katanya.

Namun, Soehardi mengatakan, sejak dikeluarkannya perda tentang perlindungan bangunan di Kota Medan pada tahun 1988 tersebut sudah puluhan bangunan bersejarah yang dihancurkan. Misalnya, eks Gedung Kerapatan Adat Deli pada tahun 1989, bangunan SMPN I Medan pada tahun 1999, eks bangunan Mega Eltra tahun 2001, penghancuran sembilan rumah panggung di Jalan Timur, dan puluhan bangunan bersejarah di Jalan Kesuma.

Bernilai sejarah

Soehardi mengatakan, gedung dengan ornamen paduan Eropa dan lokal itu dulu merupakan Kantor Perwakilan Stork, perusahaan Belanda yang memproduksi dan menjual mesin-mesin industri perkebunan.

Menurutnya, bangunan bersejarah tersebut dulunya sangat penting dalam perkembangan industri perkebunan di Sumatera Utara.

Karena itu, kata Soehardi, tidak hanya nilai arsitekturnya saja yang tinggi, tetapi gedung eks Bank Modern ini perlu diselamatkan karena gedung itu memiliki nilai sejarah bagi kawasan Kesawan dan Kota Medan sendiri.

“Bangunan tersebut seharusnya bisa menjadi kantor yang paling eksklusif dan menarik. Di Amsterdam dan kota-kota lain di Eropa, bangunan tua bisa dijadikan atraksi bersejarah untuk pariwisata,” katanya.

Dan bagi developer, katanya, harga bangunan ini nantinya malah akan lebih tinggi lagi kalau karakter luar gedung ini tetap dipertahankan dan dikombinasikan dengan yang baru di dalam dan di belakang gedung.

“Tiap kota punya tanggung jawab untuk mempertahankan bukti sejarah yang menjadi atmosfer dan jiwa kota itu sendiri. Jangan sampai hilang,” katanya.(AIK)

Sumber: Kompas, Rabu, 27 Oktober 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: