Sebagian Hotel Dibya Puri Dibongkar – Satu Lagi Bangunan Bersejarah Hilang

Sebagian Hotel Dibya Puri Dibongkar – Satu Lagi Bangunan Bersejarah Hilang

SEMARANG- Kota Semarang kembali kehilangan satu lagi bangunan bersejarah. Sejak beberapa tahun silam, bangunan sebelah barat Hotel Du Pavillon atau yang sekarang disebut Hotel Dibya Puri dibongkar.

Semula di lokasi itu terdapat bangunan yang menghadap ke barat. Namun saat ini yang ada tinggal reruntuk bangunan. Beberapa tembok memang masih berdiri. Namun hal itu hanya merupakan peninggalan sejarah yang kini sudah sulit untuk diselamatkan.

Sebuah cukilan sejarah tentang hotel tersebut kini masih terpasang di dinding Hotel Dibya Puri. Pada cukilan sejarah itu tertulis, hotel Du Pavillon dibangun tahun 1847. Hotel itu semula terdiri atas sekelompok bangunan yang saling berhubungan.

Sebagaimana bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Pemuda, hotel itu juga menghadap ke selatan. Sementara di sebelah barat terdapat bangunan yang lebih menjorok ke depan. Bangunan itulah yang kini sudah tidak ada lagi, dan tinggal reruntukan.

Menurut cukilan sejarah itu, Hotel Dibya Puri awalnya merupakan sebuah vila berlantai dua, yang kemudian disewakan sebagai losmen. Pada saat itu di Kota Semarang hanya terdapat satu hotel, yakni Hotel Jansen yang sekarang juga sudah tak ada lagi. Letaknya di lokasi depan Satlantas Polwiltabes Semarang dan kini menjadi tempat menyimpan kendaraan yang ditahan polisi setelah mengalami kecelakaan.

Menjelang Pertempuran Lima Hari di Semarang, hotel tersebut menjadi markas pemuda pejuang. Akibat pertempuran bersejarah yang diperingati setiap 14 Oktober itu, beberapa bagian Du Pavillon rusak.

Kini bangunan Hotel Du Pavillon yang masih ada berfungsi sebagai Hotel Dibya Puri. Menurut berbagai kalangan, bangunan hotel tersebut memiliki nilai arsitektur yang tinggi. Seperti banyak bangunan yang dibangun pada zaman Belanda, hotel tersebut bergaya Eropa klasik. Pada beberapa bagian terlihat pilar-pilar besar yang berfungsi sebagai penyangga.

Asisten General Manager Hotel Dibya Puri Christi Atmani menjelaskan, hotel tersebut kini dikelola BUMN PT Hotel Indonesia Natour. Menurutnya, lahan yang kini jadi reruntuk bangunan itu saat ini tidak menjadi bagian dari Hotel Dibya Puri. Dia mengaku belum mengetahui persis pemiliknya saat ini, tetapi dia pernah menerima informasi bahwa lahan itu telah dibeli pengelola Hotel Metro.

”Setahu saya lahan itu sudah dijual tahun 1960,” katanya. (G6-89)

Sumber: Suara Merdeka, Kamis, 14 Oktober 2004


%d blogger menyukai ini: