Pemkot Lalai Jaga Bangunan Bersejarah

Semarang, CyberNews. Hilangnya sebagian bangunan hotel Du Pavillon atau sekarang dikenal dengan nama Hotel Dibya Puri, menunjukkan bahwa Pemkot lalai dalam menjaga kelestarian bangunan-bangunan bersejarah di Kota Semarang.
Pemkot memang telah memiliki peraturan tentang rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL) kawasan Kota Lama. Tetapi bangunan bersejarah yang perlu dijaga kelestariannya tidak hanya ada di kawasan kota lama.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng Ir Widya Wijayanti MPH MURP IAI, Kamis (14/10) mengatakan, untuk membangun dan membongkar sebuah bangunan, tentu ada izin dari Pemkot, dalam hal ini Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP). Maka dia heran jika sebuah bangunan kuno bisa dibongkar begitu saja, tanpa sepengetahuan Pemkot.

Menurutnya, komponen-komponen dalam pemerintah kota yang seharusnya menjadi pengawal kelestarian bangunan bersejarah bukan hanya DTKP. Dia memberi contoh, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) pun ikut bertanggung jawab. Badan tersebut dalam membuat perencanaan kota harus mengacu pada kelestarian bangunan bersejarah.

Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang, menurut dia juga bertanggung jawab menjaga estetika bangunan bersejarah tetap menonjol. Upaya itu antara lain dengan mengendalikan pemasangan reklame. Sebuah papan reklame yang bentuk dan lokasinya tidak tepat, bisa menutup keindahan suatu bangunan. ”Dalam menjaga bangunan bersejarah, mestinya Pemkot jangan tidur,” kata dia.

Menurutnya ada 4 jenis bangunan yang harus dilestarikan. Yakni bangunan yang memiliki nilai estetika tinggi, bangunan yang penting bagi ilmu pengetahuan, bangunan yang memiliki nilai sosial tinggi, dan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Selain Du Pavillon, ada beberapa bangunan kuno lain yang terancam hilang. Dia menyebut contoh Gedung Batik Pekalongan di dekat perempatan Gendingan. Bangunan tersebut, menurut dia merupakan salah satu yang bergaya arsitektur Art Deco dan sangat langka di Kota Semarang. Kalau bangunan ini sampai hilang, maka Kota Semarang kehilangan salah satu aset yang sangat berharga.

Bangunan lain yang terancam hilang, antara lain Penjara Wanita di Jalan Sugiyopranoto. Bangunan itu memiliki nilai sejarah tinggi, karena berkaitan dengan peristiwa pertempuran lima hari di Semarang.

Terkait dengan upaya konservasi, ada upaya untuk menambah bagian-bagian dari bangunan kuno. Namun penambahan tersebut seringkali tidak tepat. Dia memberi contoh gedung di perempatan Jalan Ki Mangunsarkoro – Jalan A Yani yang kini digunakan untuk kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat.

Ketika gedung itu dibangun, manusia sudah mengenal teknologi modern. Namun kemudian di beberapa bagian ditambah dengan pilaster-pilaster yang mencerminkan nilai arsitektur pada zaman romawi kuno. Hal itu tidak tepat dan justru bisa mencerminkan kemunduran. ”Pemerintah Kota mestinya juga menjaga agar hal-hal semacam ini tidak terjadi,” kata dia.( purwoko/Cn08 )

Sumber: Suara Merdeka, Kamis, 14 Oktober 2004


%d blogger menyukai ini: