Pelestarian Bangunan Bersejarah

Pelestarian Bangunan Bersejarah
Bangunan Arsip Nasional mendapatkan penghargaan Award of Excellence 2001 dari UNESCO

Oleh Tanti Johana

Guna mendukung pelestarian bangunan bersejarah, setiap tahun UNESCO Asia-Pacific menyelenggarakan lomba tentang pelestarian bangunan-bangunan bersejarah, Indonesia sebagai salah satu negara yang mempunyai banyak sekali bangunan bersejarah yang tersebar diseluruh nusantara ikut ambil bagian. Tetapi bagaimanakah kisahnya ? Siapakah yang menjadi pencetusnya ?

Mungkin ia tak akan mengira jika perwujudan idenya akan mendapatkan penghargaan bertaraf internasional, tetapi usaha yang panjang ini memang sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan sebagai apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukannya.

Adalah seorang warga negara Belanda yang mempunyai ide untuk mengkonservasi bangunan bersejarah sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke 50 pada tahun 1995, dengan dibantu oleh sebuah tim ia berusaha merealisasikan ide tersebut.

Pada tahun 1993, Erick Hemerstein, seorang ahli hukum Belanda yang sedang bekerja di Jakarta, dengan bantuan Christine Paauwe-Meyer, mendirikan Stichting National Cadeau di Jakarta dan Belanda untuk mengumpulkan dana. Yayasan tersebut berhasil mengumpulkan dana sebanyak 5 juta gulden.

Kemudian mereka meminta Ibu Pia Alisyahbana untuk bisa membantu mewujudkan ide tersebut. Perlahan mereka membentuk partner di Indonesia untuk diajak bekerja sama antara lain Han Awal & Partners, Budi Lim Architects, setelah tim terbentuk mulailah mereka bekerja dengan memilih bangunan mana yang pantas untuk dikonservasi, hal ini tentunya bukan pekerjaan yang mudah mengingat banyak sekali bangunan bersejarah di Indonesia. Akhirnya terpilih Bangunan Arsip Nasional.

Fokus Perbaikan
Pada awalnya perbaikan akan dilakukan pada dinding dan memecahkan masalah banjir yang sering melanda bangunan Arsip Nasional.

Tim ini kemudian bekerja sama dengan Decorient and Ballast Indonesia untuk melaksanakan pekerjaan restorasi, pekerjaan dimulai pada bulan Agustus 1997 dan selesai pada bulan Oktober 1998.

Sejarah Bangunan
Bangunan Arsip Nasional ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reiner de Klerk (1710-1750), selain sebagai arsitek gedung ini Reiner de Klerk juga tercatat sebagai gubernur jendral VOC pada tahun 1777. Saat itu kawasan ini masih hijau dan lebih sehat, dibandingkan pusat kota Batavia yang waktu itu sedang terkena wabah malaria.

Seperti halnya bangunan Arsip Nasional bangunan-bangunan lain di kawasan ini juga mempunyai area yang luas, dengan halaman depan yang luas, bangunan yang ada di kawasan tersebut juga besar dan luas dilengkapi dengan courtyard atau kebun di halaman belakang. Luas tanah Arsip Nasional sekarang ini mempunyai lebar 57 M dan panjang 164 M, tetapi dulu tanah yang dimilikinya lebih luas batasnya sampai ke sungai Krukut.

Bangunan Arsip Nasional berbentuk U dengan bangunan tambahan di bagian belakangnya. Bangunan utama berlantai 2, dibangun dengan bata merah dengan atap yang tinggi. Denah bangunannya mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik dengan aksis utama barat-timur dan aksis kedua utara-selatan. Lantai dasarnya luas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah di atasnya. Di lantai inilah gubernur jendral biasa menerima tamu-tamunya. Di lantai ini terdapatsatu tangga kecil yang menuju ke lantai pertama, yaitu tempat yang lebih privat.

Bangunan di samping bangunan utama digunakan sebagai kantor administrasi yang mengelola bisnis pribadi gubernur jendral. Sementara ada bangunan tambahan yang lebih tinggi yang dulu digunakan sebagai rumah budak dan sebagai tempat penyimpanan barang.

Dalam catatan sejarah bangunan Arsip Nasional terlah berpindah tangan berkali-kali, dulu bangunan ini pernah terbengkalai kemudian diperbaiki, oleh pemerintah Belanda digunakan sebagai kantor departemen pertambangan.

Pada tahun 1925 bangunan tersebut kembali direstorasi dan digunakan sebagai kantor Landsarchief Building. Ketika Indonesia merdeka bangunan ini tetap digunakan sebagai Kantor Arsip Nasional. Bangunan Arsip Nasional yang berbentuk U dengan ketinggian dua lantai dihubungkan dengan bangunan tambahan di belakangnya, dan balkon dengan ketinggian dua lantai ditutup dengan dinding dan jendela. Sejak saat itu bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (the National Archive Building of Republic Indonesia). Pertengahan tahun 1980 semua arsip dipindahkan ke bangunan yang lebih baru di selatan kota Jakarta.

Pendekatan dan Proses Restorasi
Diperlukan waktu yang panjang oleh tim konservasi bangunan Arsip Nasional untuk mendapatkan ijin dari pemerintah melaksanakan rencana mereka.

Pedoman restorasi:
1. Sebaiknya tidak ada penggantian material baru kecuali material lama sudah tidak tersedia lagi tetapi material baru itupun harus lebih dahulu dipelajari apakah sudah sesuai menggantikan material lama.

2. Hanya menggunakan material bangunan lama untuk mengganti bagian yang lain. Misalnya atap yang rusak diganti dengan atap lama bagian bangunan yang lama.

3. Memperbaiki kerusakan lokal dan tidak merubah seluruh komponen, misalnya memperbaiki kayu yang rusak karena dimakan rayap daripada menggantinya secara keseluruhan.

4. Memperbaiki bagian yang rusak daripada menggantinya dengan yang sama sekali baru.

5. Menggunakan material lokal, dibuat oleh pegawai lokal dan menggunakan teknik konstruksi ketika diperlukan, misalnya meminta pelukis Bali untuk memperbaiki lukisan lama.

6. Tim arkeologi terlibat sejak awal perencanaan proyek. Mereka mengambil sampel bahan bangunan kemudian memeriksanya dan membuat rekomendasi yang diperlukan. Mereka menolong tim konservasi menemukan jenis cat tahan hujan yang cocok digunakan. Adapun cat yang diperlukan yang mempunyai karakter seperti kulit manusia, yang berfungsi melindungi dinding dari hujan dan dalam waktu yang sama tetap memungkinkan dinding untuk bernapas.

Sumbangan tim konservasi terhadap pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia sangat besar, mereka menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat dan pemerintah dalam hal pelestarian bangunan bersejarah dengan menghadirkan suatu karya konservasi yang patut menerima penghargaan.

Sekarang gedung Arsip Nasional dikelola oleh sebuah organisasi yang terdiri dari orang indonesia dan orang asing dan memelihara serta mengelola bangunan tersebut untuk kegiatan sosial dan kultural.

Bangunan lama yang banyak menyimpan sejarah bangsa pantas dilestarikan dan dirawat, agar bukti sejarah ini dapat dinikmati dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Pada tahun 2001 bangunan Arsip Nasional yang telah selesai dikonservasi diikutsertakan dalam lomba dan memenangkan Award of Excellence 2001. Penghargaan yang pantas diterima oleh orang-orang yang telah berusaha dengan tak mengenal lelah.

Jakarta, 02 Oktober 2004


%d blogger menyukai ini: