Bangunan Kuno Saksi Bisu Sejarah Kota Bandung

Laporan : zhi/berbagai sumber

Ibarat pepatah, ‘Lain padang lain belalang. Lain lubuk lain airnya’. Begitu juga dengan sejarah berdirinya sebuah kota. Dia bisa ditelusuri dari perjuangan masyarakatnya, kondisi geologi dan masih banyak saksi bisu lainnya. Semua itu bisa menceritakan perjalanan panjang masa lalu sebuah kota, terutama ketika memasuki masa jaya. Kota Bandung, sebenarnya termasuk salah satu kota di Indonesia yang paling beruntung. Kota ini, masih memiliki salah satu saksi sejarah masa lalu yang bisa dibaca lewat bangunan-bangunan tua dengan berbagai langgam arsitektur. Melalui salah satu kekayaan itu, kita bisa menelusuri perjalanan sejarah kota dan masyarakat Bandung.

Dari segi arsitektur, Bandung pernah dijuluki sebagai laboratorium arsitektur paling lengkap. Kenyataan ini, justru menjadi inspirasi dan objek penelitian para arsitektur dari berbagai belahan daerah. Berbagai bangunan tua yang masih kokoh berdiri saat ini, bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Selain dikenal sebagai ‘kota taman’ yang kemudian melahirkan berbagai sanjungan, karena kecantikannya, Kota Bandung mewariskan kekayaan berbagai langgam kecantikan arsitektur. Bangunan tua Gedung Sate yang hingga kini tetap menjadi landmark Kota Bandung dan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berusaha memadukan gaya arsitektur modern dan tradisional, membuktikan bahwa kota ini masih menyimpan kekayaan gaya arsitektur art deco.

Bahkan, pada masa keemasan sejak akhir abad ke-19, pembangunan fisik Kota Bandung ditandai dengan maraknya pembanguanan gedung-gedung modern. Masa itu, ditandai dengan pindahnya ibukota Priangan dari Cianjur ke Bandung, pada 1864. Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota ini, dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri. Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 masehi, dengan bupati pertama Tumenggung Wiraanggunan.

Semula Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer, ke arah selatan dari pusat Kota Bandung sekarang. Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati ke-6, yakni R A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki ‘Dalem Kaum I’, kekuasaan di Nusantara beralih dari kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan Gubernur Jenderal pertama Herman William Deandels (1808-1811). Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Namun, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Deandels, melainkan atas prakarsa bupati Bandung. Bahkan pembangunan Kota Bandung itu langsung dipimpim oleh bupatinya. Dengan kata lain, Bupati R A Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) Kota Bandung.

Bahkan, berdasarkan Undang-undang desentralisasi yang dikeluarkan pada 1903 dan surat keputusan tentang desentralisasi serta ordonasi dewan lokal yang dibuat 1905, maka Kota Bandung sejak 1 April 1906 ditetapkan sebagai kotapraja yang berpemerintahan otonom. Sedangkan asal-usul tentang nama Bandung, ada berbagai pendapat. Sebagian mengatakan, kata ‘Bandung’ dalam bahas Sunda, identik dengan kata ‘banding’ dalam bahasa Indonesia, berarti berdampingan atau berdekatan.

Hal ini, antara lain dinyatakan dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata ‘Bandung’ berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan. Pendapat lain mengatakan, bahwa kata ‘Bandung’ mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata ‘bandeng’. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng adalah sebutan untuk genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga, kata bandeng itu, kemudian berubah bunyi menjadi ‘Bandung’. Ada pula pendapat tentang asal dan arti kata ‘Bandung’ berasal dari kata ‘bendung’. Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata ‘Bandung’ itu, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum Purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Perahu yang meletus pada masa holosen (kurang lebih 6.000 tahun yang lalu).

Sumber: Republika, Sabtu, 25 September 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: