Pecinan Semarang – Kota Tua yang Kehilangan Jiwa

KAWASAN pecinan Semarang memang belum seperti “Kya-Kya” di kawasan Kembang Jepun, Surabaya, yang pada tahun 2002 sengaja ditata sebagai pusat wisata makanan. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa di tengah kepadatan rumah dan bangunan tuanya, kawasan pecinan Semarang menyimpan sejuta kisah kejayaan dan potensi wisata yang menjanjikan. Kawasan pecinan Semarang ini berada di tengah kota, sekitar 1 km arah selatan dari lokasi situs Kota Lama Semarang.

GANG Lombok hanya satu contoh. Nama jalan kecil di kawasan pecinan Semarang ini sudah dikenal semua orang, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dahulu kawasan ini ramai dikunjungi orang, entah untuk beribadat di Kelenteng Tay Kak Sie atau sekadar menikmati penganan khas yang dijajakan di sekitar klenteng, yaitu lunpia Gang Lombok yang lokasi berdagangnya dekat dengan kelenteng tersebut.

“Saya ingat betul, ketika saya masih kecil, banyak orang datang ke Kelenteng Tay Kak Sie, bukan hanya warga Tionghoa yang datang. Orang Belanda juga kerap datang ke tempat itu. Sayangnya, sejak rezim Soeharto berkuasa, segala bentuk kegiatan peribadatan di kelenteng itu dilarang. Akibatnya para penjual makanan banyak yang pindah dan menutup usahanya,” tutur A Siang (50), pengelola Toko Emas Naga Mas dan makanan tiong jioe pia Kiem Liong di Gang Pinggir.

Pada masa rezim Orde Baru, kehidupan masyarakat pecinan Semarang, khususnya warga Tionghoa, mengalami masa-masa kehidupan yang tidak mengenakkan. Mereka dilarang menjalankan peribadatan secara terbuka di kelenteng. Selain itu, rumah dan bangunan khas China milik warga di kawasan tersebut juga harus diubah.

Yenny Sujana (45), pemilik Toko Pia Cap Bayi (Tjiang Goan) di Gang Besen, menyebutkan perubahan bentuk bangunan di kawasan pecinan dilakukan oleh pemerintah kota setempat pada tahun 1968.

“Dahulu, di sepanjang jalan Gang Pinggir dan Gang Besen, banyak ditemukan rumah- rumah pengusaha kaya Tionghoa, dengan pintu jati berukir naga dan tulisan-tulisan China. Sementara, bagian atas atap rumahnya juga masih tradisional Tiongkok,” ungkap Yenny.

Penuturan senada juga diungkapkan Tan Bie Gian (56), yang pernah menghabiskan masa kecilnya di kawasan pecinan. Tan menyatakan, terdapat dua rumah bersejarah milik konglomerat kaya Tionghoa pada masa itu, yaitu Be Ing Tjoe di Kebon Dalem dan Tan Tiang Tjhing di Gedong Goelo.

Sayangnya, kedua bangunan dengan arsitektur Tiongkok ini sudah tidak ada lagi. Situs Kebon Dalem saat ini sudah berubah menjadi bangunan sekolah dan gereja Katolik, sedangkan Gedong Goelo telah beralih fungsi sebagai Balai Pengobatan Umum Kapuran.

SAAT ini wajah kawasan pecinan Semarang tak ubahnya kota tua yang kehilangan jiwa, kehilangan napas kehidupannya. Bangunan-bangunan tua dan tidak terawat berada di sepanjang Jalan Petudungan, Gang Warung, dan Gang Lombok. Sementara, sejumlah bangunan modern bertingkat mulai memenuhi Jalan Wotgandul Timur, Gang Pinggir, Gang Besen, dan Jagalan. Bangunan-bangunan modern dan mewah sekarang justru seperti berebut tempat sehingga mendesak dan mengimpit bangunan dan rumah-rumah tua di kawasan.

Wajah bangunan dan rumah di kawasan pecinan jelas terlihat dari ciri fisiknya yang rata-rata berupa bangunan berlantai dua. Lantai satu umumnya dipakai sebagai tempat usaha, sedangkan lantai dua sebagai tempat tinggal. Ciri khas lainnya, sebagian besar bagian depan bangunan itu dipasangi terali dan pagar besi, bukti fisik yang memperlihatkan kekhawatiran warga Tionghoa terhadap aksi kekerasan dan perusakan tempat usaha mereka di masa lampau.

“Wajah bangunan di kawasan pecinan sekarang ini sudah berbeda jauh dengan gambaran pecinan di zaman kolonial Belanda yang memiliki ciri khas oriental. Jika ingin mengembalikan seperti dulu, rasanya kok sia-sia saja,” tutur Yenny.

Kusam dan kumuhnya bangunan di kawasan pecinan Semarang ini telah menggugah sekelompok warga yang tergabung dalam Komunitas Pecinan Indonesia (Kopi) Semawis untuk merevitalisasi kawasan tersebut dengan tujuan sebagai kawasan wisata.

Kopi Semawis pada awal tahun ini menyelenggarakan Pasar Imlek sebagai salah satu upaya menghidupkan kembali pesona kejayaan yang pernah dimiliki salah satu kawasan tertua di Kota Semarang ini.

“Awalnya, kawasan pecinan merupakan salah satu kawasan budaya di Kota Semarang di samping Kota Lama yang akan dipreservasi. Namun, upaya preservasi tanpa ada aktivitas bisnis yang menghidupi tidak akan ada artinya. Itu sebabnya kami mengupayakan agar ada aktivitas bisnis di kawasan tersebut untuk lebih menghidupkan suasana pecinan di waktu malam,” ujar Harjanto Halim (35), Ketua Kopi Semawis.

Persoalan yang sama terungkap dalam diskusi Revitalisasi Kawasan Pecinan Kota Semarang yang diselenggarakan Kompas, 25 Agustus lalu.

Widya Wijayanti, arsitek dan konseptor revitalisasi kawasan pecinan Semarang, memaparkan, upaya yang dilakukan oleh Kopi Semawis bertujuan untuk menghidupkan kawasan pecinan sebagai kawasan wisata, bukan mengabadikan kekusaman ataupun keusangan.

Widya mengakui upaya ini bukan “proyek Bandung Bondowoso” yang mampu menyulap kawasan pecinan menjadi cantik dalam waktu singkat. Banyak warga Tionghoa yang belum paham atas rencana revitalisasi ini masih menanggapinya dengan hati-hati karena persoalan sejarah masa lalu.

Budi Widianarko, guru besar Unika Soegijapranata, salah satu pembicara diskusi, mengingatkan upaya revitalisasi pecinan itu harus melihat pula selling point-nya (nilai jual), misalnya menjadikannya sebagai tempat wisata makanan, kuliner. Kawasan pecinan di Kota Semarang dapat memiliki selling point karena wilayah ini termasuk permukiman Tionghoa yang tertua di Indonesia.

Pada siang hari sejumlah jalan di kawasan pecinan merupakan sentra bisnis yang cukup ramai dan sibuk, seperti di Jalan Kranggan sebagai pusat penjualan kain dan perhiasan. Selain Jalan Kranggan, masih ada Gang Beteng, Gang Pinggir, dan Gang Besen, yang juga ramai di waktu siang, tetapi cukup sepi dan lengang di waktu malam.

Nah, mengapa suasana malam hari yang lengang ini tidak dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menghidupkan kawasan pecinan sebagai tujuan wisata kuliner yang murah meriah ?

Upaya revitalisasi yang diajukan oleh Kopi Semawis untuk menghidupkan kembali kawasan pecinan tidaklah semulus yang dibayangkan. Pro dan kontra mengiringi proses perubahan yang sedang dijalankan. Namun, bagi Kopi Semawis, kontroversi seputar revitalisasi ini dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran dan perubahan komunitas pecinan Semarang.

“Revitalisasi ini bertujuan untuk mendorong semua orang agar bisa memanfaatkan sisi khas pecinan. Kekhasan dan keterbukaan terhadap etnis Tionghoa di masa inilah yang harusnya dimanfaatkan warga di kawasan pecinan. Bayangkan jika kawasan ini menjadi kawasan wisata, bukan tidak mungkin akan menjadi ladang usaha warga Semarang, khususnya para pemukim di kawasan ini,” papar Harjanto.

Adanya kekhawatiran dan ketakutan akan terulangnya kembali diskriminasi rasial terhadap masyarakat etnis Tionghoa Indonesia diakui Harjanto memang masih menjadi trauma bagi sementara warga Tionghoa yang tinggal di kawasan itu. Namun, ia menekankan adanya kesempatan yang diberikan Pemerintah Indonesia di era reformasi ini perlu disikapi secara bijak dan positif oleh warga Tionghoa di pecinan Semarang.

Pada dasarnya, revitalisasi bagi Kopi Semawis juga merupakan jalan untuk mengajak masyarakat pecinan, khususnya warga Tionghoa, agar berpikir maju ke depan, dan bukan untuk bersikap apriori terhadap keterbukaan yang ada saat ini.

“Sebagian warga Tionghoa di kawasan ini memang berpikir bahwa (jangan-jangan) situasi semacam ini hanya berlangsung sementara. Nantinya, ketika terjadi perubahan haluan politik, bisa-bisa kondisi semasa Orba akan terulang kembali. Tetapi, sekali lagi, perubahan zaman seperti itu tidak bisa diperkirakan. Yang terpenting adanya kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan kehidupan warga pecinan, baik bagi warga Tionghoa maupun non-Tionghoa,” ujar Harjanto.

Adanya anggapan masyarakat pecinan bahwa mereka hanya akan menjadi “obyek tontonan” bila daerah ini dijadikan daerah tujuan wisata, Harjanto meminta semua pihak berpikir realistis. Bagi Kopi Semawis, katanya, tujuan wisatawan datang ke pecinan lebih karena terkenalnya kawasan itu sebagai pusat makanan khas oriental maupun tradisional di waktu malam.

Selain makanan, di kawasan ini para wisatawan juga dapat mengagumi indahnya bangunan kelenteng dan tradisi perayaan pemeluk Kong Hu Cu.

Menurut dia, hal yang justru perlu diciptakan masyarakat adalah bisnis yang sesuai dengan lingkungan di tempat itu dan dapat menghidupi kawasan tersebut. Misalnya bisnis konsultasi fengsui, potong rambut tradisional China, suvenir, dan makanan khas China.

Pelestarian tradisi semacam perayaan Sam Poo Besar dan Tiong Djiu juga dapat dikemas menjadi event wisata yang menarik. Di samping itu, kesenian semacam Wayang Potehi dan Gambang Semarang bisa dikemas dengan tampilan yang disesuaikan dengan kondisi zamannya.

Pengembangan kawasan pecinan Semarang sebagai kawasan wisata bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dapat diwujudkan. Sejumlah potensi wisata di kawasan itu dapat digarap, seperti wisata budaya dengan tawaran sembilan kelentengnya yang berusia ratusan tahun.

Belum lagi makanan khas yang diproduksi di kawasan ini. Ada lunpia Gang Lombok, kue pia Cap Bayi yang juga menawarkan kue bulan Suku Hokkian, kue bulan Suku Kanton dengan merek Kiem Liong.

Ada pula Warung Makan Pak Ndut, Sate Kambing Guci dan Kapuran, Sate Babi Nyonya Gunung, Rumah Makan Permata Merah yang sudah berusia satu abad, Es Marem Gang Baru, dan Soto Bonkarang, pasti mampu menggoda lidah siapa saja untuk datang mencicipinya sembari menikmati suasana khas permukiman Tionghoa.

Upaya merevitalisasi kawasan pecinan Kota Semarang didukung penuh oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz.

“Kawasan pecinan merupakan habitat yang saya sukai karena saya termasuk orang yang lahir di kawasan pecinan di Jepara. Kalau wayang dijadikan pusaka dunia, mengapa kawasan pecinan tidak kita jadikan pusaka nasional?” ujar Ali Mufiz.

Di banyak kota di dunia, kawasan pecinan yang umumnya berlokasi di kota lama atau kota tua memang menjadi salah satu daya tarik wisata yang mampu mendulang devisa. (J03/KSP)

Sumber: Harian Kompas, Jumat, 03 September 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: