Bila Pembongkaran Berlanjut Pengelola HI Terancam Sanksi Pidana

Jakarta, Sinar Harapan – Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta meminta pengelola Hotel Indonesia (HI) yang baru tidak membongkar bangunan hotel yang dibangun tahun 1962 itu serta lima bagian lainnya, yakni Ramayana Wings Room, Bali Room, Ganesha Wings, dan dua pintu depan dan belakang.

Jika tidak digubris, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman akan memberikan sanksi yang setimpal. Pelarangan itu didasarkan pada pertimbangan bahwa HI adalah satu dari sekian ratus bangunan bernilai tinggi dalam sejarah perjalanan Jakarta, sebagai ibu kota negara yang harus dijaga dan dilestarikan. Bangunan lainnya, seperti kolam renang, lapangan tenis, dan lainnya boleh dibongkar.

Menurut Kepala Sub-Dinas Pengawasan dan Permuseuman Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Candrian Attahiat, pihaknya sudah mengirim surat pada pengelola HI yang sekarang. Sementara itu isi suratnya, berkisar soal hasil rapat tim pemugaran tentang bangunan gedung HI yang dibangun tahun 1962 serta lima bagian dari bangunan HI yang tidak boleh dibongkar, karena mempunyai nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi.

”Meski sudah mengirim surat, pihaknya juga mengirimkan orang untuk memantau di lapangan. Sehingga, jika pada saatnya nanti pengelola tetap tidak mau mengindahkan surat yang kita kirim, tim pemugaran yang terdiri dari dewan pakar dan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman akan merapatkan kasus ini untuk menentukan sanksi yang pantas dan setimpal. Sanksi itu berupa pidana,” katanya, saat dihubungi SH, melalui ponselnya, Selasa (31/8) sore.

Ditambahkan, khusus untuk HI hingga kini proses pembongkaran baru berjalan sekitar 20 persen, sedangkan Hotel Wisata sudah mencapai 80 persen. Catatan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, di Jakarta, terdapat sedikitnya 216 bangunan yang dikategorikan sebagai bangunan bersejarah. Di Jakpus 74 bangunan, di Jakbar 110 bangunan, Jakut 18 unit, Jaksel dan Jaktim masing-masing 7 bangunan.”Tapi, sekarang ini jumlahnya terus bertambah mencapai 500 unit sejak ditemukannya bangunan bersejarah di kawasan Jatinegara dan Matraman, Jaktim,” tuturnya

Ditegaskan, ada beberapa kriteria suatu bangunan dapat dikatakan memiliki nilai sejarah. Di antaranya, dapat dilihat dari nilai sejarah bangunan tersebut, keaslian, usia bangunan, arsitektur, dan keserasiannya.

”Suatu bangunan dapat dikatakan bersejarah apabila berusia 50 tahun. Namun, ada juga bangunan yang termasuk bersejarah, meski baru berusia 30 tahun. Salah satu contohnya adalah Gedung Pitaloka Ahmad Yani. Bangunan itu dapat dikatakan bersejarah karena menjadi saksi sejarah,” tambahnya. (sat)

Sumber: Sinar Harapan , 02 September 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: