Menjenguk Makam Serdadu Belanda di Aceh

BANDA ACEH – Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang juga dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah menyimpan cerita tentang perjuangan yang gigih ketika melawan penjajahan Belanda. Dalam pertempuran melawan Belanda sejak 1873 hingga 1942, pejuang Aceh berhasil menewaskan komandan perang Belanda, Jenderal Kohler. Salah satu jejak sejarah itu dapat ditelusuri di Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Dalam bahasa Indonesia Kerkoff berarti ”kuburan”.

Usai mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2004 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, kami memutuskan untuk menengok Kerkoff. Alasannya, selain letaknya yang berhadap-hadapan dengan Lapangan Blang Padang, kami juga ingin mengetahui nilai sejarah tempat tersebut sekaligus mendengarkan cerita tentang kegigihan para pejuang Aceh mengusir Belanda.

Keinginan untuk menziarahi tempat bersejarah itu nyatanya lebih kuat daripada suhu udara yang saat itu terasa sangat menyengat. Dengan semangat tinggi, kami datang di Kerkoff. Setiba di sana, rasa gerah berangsur-angsur hilang. Pepohonan yang ditanam di halaman Kerkoff memberikan udara yang sejuk.
Rasa takjub pun tak henti-hentinya terlontar dengan sendirinya. Baru saja kaki ini menapak di halaman, sebuah gerbang berbentuk lengkung khas Belanda tampak berdiri dengan kokoh dan terlihat kuno.

Di bawahnya, beberapa tentara dan seorang pegawai pemerintah daerah (pemda) terlihat asyik berbicara. Nun jauh di balik pintu gerbang yang megah itu, tampak deretan pegunungan berwarna biru. Nisan berwarna putih juga tampak berjajar dengan rapi di atas lahan yang ditumbuhi rerumputan. Paduan pemandangan ini menciptakan keindahan yang luar biasa. Kami pun makin mempercepat langkah.

Selanjutnya, ketika posisi kami sudah mendekati pintu gerbang, ukiran cantik mulai terlihat oleh mata. Ukiran itu tak lain adalah nama-nama serdadu Belanda yang meninggal pada saat melakukan pertempuran dengan masyarakat Aceh.

Nama-nama serdadu yang meninggal itu terukir dengan rapi pada relief dinding gerbang. Setiap relief memuat 30 nama serdadu, daerah pertempuran dan tahun mereka mengembuskan napas terakhir. Kejadiannya berkisar antara tahun 1873 – 1910. Di antara nama-nama yang terpampang rapi tersebut, ada beberapa prajurit yang berasal dari Jawa, Manado, dan Ambon. Menurut cerita mereka dulunya tergabung dalam tentara Marsose.

Serdadu Jawa yang berada di bawah pimpinan Belanda biasanya disertai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang namanya. Tentara Belanda diikuti kode EF ataupun F. Art dan serdadu dari Ambon ditandai dengan AMB dan serdadu dari Manado ditandai dengan MND.

Sedangkan, beberapa wilayah pertempuran itu antara lain: Sigli, Moekim, Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot Rang – Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang – Dango, Samalanga dan sebagainya. Tempat itu untuk mengubur jasad-jasad serdadu Belanda yang tewas seketika pada pertempuran di Aceh maupun orang Belanda lainnya. Bagi serdadu yang meninggal seketika di medan pertempuran akan disertai dengan keterangan Gesneuveld. Sedangkan bagi yang meninggal karena sakit akan disertai dengan keterangan overleden.

Sementara itu, di bagian kiri pintu gerbang tertulis kalimat ”in memoriam Generaal – Majoor JHR Kohler, Gesneuveld, 14 April 1873”. Kalimat tersebut intinya mengenang Jenderal Kohler yang meninggal seketika dalam pertempuran di Aceh pada 14 April 1873.

Catatan Sejarah
Menurut catatan sejarah, pada 1873, serdadu Belanda masuk ke Aceh untuk menguasai daerah tersebut. Namun, upaya Belanda untuk menguasai wilayah Aceh tidak dapat segera terlaksana. Mereka mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh yang gagah berani. Bahkan, Jenderal Kohler yang memimpin penyerangan tersebut harus kehilangan nyawanya pada tahun 1873 itu juga. Dia terkena tembakan tepat di dahinya di depan Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.

Usaha menguasai Aceh tersebut tetap tidak dapat berjalan mulus hingga pada tahun 1942. Belanda hanya dapat menguasai daerah perkotaan. Sedangkan, di daerah-daerah pedesaan, Belanda dapat dikatakan mengalami kekalahan.

Akibat penjajahan yang dilakukan selama 59 tahun itu, ribuan serdadu Belanda tewas. Serdadu yang terdiri dari orang Belanda sendiri dan pasukan antigerilya atau Marsose yang serdadunya berasal dari orang Jawa, Ambon dan Manado tewas di ujung senjata khas Aceh, yaitu Rencong dan bedil. Pada mulanya, mereka yang tewas di daerah-daerah pertempuran seperti Sigli, Samalanga, Meulaboh, Bakongan, Idi, Paya Bakong langsung dimakamkan di derah itu pula. Namun, karena banyaknya graven atau kompleks kuburan yang berceceran di Aceh, maka dilakukan upaya untuk mengumpulkan jasad para inlander tersebut menjadi satu.
Kerkoff yang sebelumnya merupakan kawasan ilalang dan kemudian menjadi kandang kuda disulap menjadi kompleks kuburan oleh Belanda. Saat ini, di sana dikuburkan 2.200 serdadu Belanda dari yang berpangkat Jenderal sampai berpangkat rendah.

Jasad-jasad tersebut dikumpulkan dari daerah-daerah. Misalnya di dinding gapura disebutkan serdadu Belanda yang tewas di Idi. Walaupun di dinding dicantumkan nama serdadu Marsose yang berasal dari orang Jawa atau Ambon seperti nama Paijo (ditambah nama-nama orang Jawa dan Ambon), namun mereka tidak dikuburkan di Kerkoff, tetapi mereka dikuburkan di Taman Makam Pahlawan sekitar 500 meter dari Kerkoff.

Jasad Kohler
Uniknya, setelah Kohler tewas, pejuang Aceh tidak mengetahui, di mana jasadnya dikuburkan. Terakhir diketahui, Kohler dikuburkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, karena kawasan Tanah Abang akan dibangun pertokoan, makam Kohler pun terkena penggusuran. Sehingga, sebagai peringatan sejarah dan atas permintaan Gubernur Aceh Muzakir Walad, jasad Kohler akhirnya dikubur ulang di Kerkoff, Banda Aceh pada 19 Mei 1978. Menurut cerita, pemakaman ulang Kohler di Kerkoff tersebut dihadiri oleh satu peleton tinggi Belanda.

Kerkoff sendiri ternyata tidak hanya digunakan sebagai tempat peristirahatan yang terakhir bagi serdadu Belanda yang tewas karena pertempuran, tetapi juga karena sakit dikuburkan. Sejumlah pejabat tinggi perwakilan Belanda yang pernah bertugas di Aceh pun mewasiatkan untuk dikuburkan di lahan tersebut. Misalnya, A Ph Van Aken, Gubernur Belanda untuk Aceh yang tewas di Jakarta pada 1 April 1936 dalam kedudukannya sebagai anggota Dewan Hindian Belanda. Tokoh ini terbilang memiliki sikap lunak dan dikenal baik sehingga menarik simpatik masyarakat Aceh. Dia dikenal telah merenovasi kubah Masjid Raya Baiturrahman.

Karena mengandung nilai sejarah yang tinggi, usaha untuk melakukan perawatan Kerkoff terus dilakukan. Adalah Kolonel Koela Bhee dan Lamie Djeuram mantan komandan bivak di Blang Pidie yang datang kembali ke Aceh pada Juli 1970 dan merenovasi Kerkoff yang sudah ada sejak tahun 1880.

Sumber dana pada awalnya bersifat partikelir dan selanjutnya dilakukan upaya kampanye pengumpulan dana perawatan Kerkoff di Belanda. Hasilnya, terbentuklah Yayasan Peucut atau yang belakangan dikenal Stichting Renovatie Peucut. Dana dari yayasan tersebut disalurkan melalui Pemda Banda Aceh.
(SH/tutut herlina/ murizal hamzah)

Sumber: Harian Sinar Harapan, 26 Agustus 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: