Kota Tua Jakarta akan Dipugar

JAKARTA (Media): Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemerintah Kota Madya Jakarta Barat Syamsul Arfan menyatakan pengembangan kota tua akan dilakukan setelah aspek legalitasnya selesai.

Hal itu disampaikannya menjawab pertanyaan wartawan berkaitan dengan proses pemeliharaan bangunan bersejarah di kawasan Jakarta Barat. “Dalam proses pengembangan Kota Tua diperlukan suatu legalitas,” tandasnya, kemarin.

Rencananya, untuk pemeliharaan dan pengembangan kota tua akan dilakukan pemugaran beberapa gedung tanpa mengubah aspek keorientalan Kota Tua. Menurutnya, kelak bentuk legalitas dapat berupa perda atau surat keputusan gubernur.

Beragam kajian memang telah dilakukan dalam rangka pengembangan kawasan Kota Tua. Namun, karena kawasan tersebut terletak di dua wilayah, yakni Jakarta Barat dan Jakarta Utara, sehingga belum terdapat kejelasan dalam kewenangan.

Asisten Ekbang Jakbar menambahkan, ada rencana mengadakan pertemuan bagi kedua pemerintah kota madya untuk memberikan masukan terhadap perencanaan pengembangan kota tua.

Pada dasarnya pengembangan dan pemeliharaan kota tua ditangani langsung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kota tua yang merupakan bangunan museum dan bersejarah ditangani langsung oleh Dinas Museum dan Kebudayaan DKI Jakarta.

“Pada taraf kota madya kami berkoordinasi dengan Sudin Penataan dan Perencanaan Bangunan (P2B),” ujar Arfan.

Sudin P2B memiliki peran dalam pemberian izin mendirikan bangunan (IMB), sehingga bangunan yang hendak didirikan di kawasan Kota Tua tidak mengubah keorientalan Kota Tua.

“Banyak pihak yang harus diajak berkoordinasi untuk rencana pengembangan Kota Tua,” ujar Arfan.

Di kawasan Kota Tua terdapat bekas bangunan Departemen Keuangan, menurut Arfan, untuk pemugaran atau pemeliharaan gedung tersebut diperlukan koordinasi yang baik dengan pihak terkait.

Pihak yang diajak berkoordinasi yakni konsultan kota, tokoh masyarakat, dan budayawan. Sebelumnya, beberapa survei untuk mengetahui karakter masyarakat di kawasan tersebut telah dilakukan oleh konsultan kota.

“Tokoh masyarakat Thionghoa di kawasan tersebut perlu juga diikutsertakan,” paparnya.

Jika legalitas perencanaan pengembangan Kota Tua sudah dikeluarkan maka pemeliharaan dan pemugaran kawasan tersebut dapat segera ditindaklanjuti. Hal ini dikarenakan kawasan Kota Tua merupakan aset, dan diharapkan dapat mengundang wisatawan mancanegara.

Kawasan Kota Tua hanyalah salah satu dari beberapa kawasan historis di Jakarta yang bisa ditata untuk mengundang wisatawan. Misalnya, Glodok (Pecinan), kawasan Pasar Baru, Medan Merdeka, dan Menteng.

Namun bila dilihat dari urutan sejarahnya, kawasan Kota Tua adalah cikal bakal perkembangan dan sejarah Kota Jakarta. Beberapa bangunan yang merupakan bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua yakni, Pelabuhan sunda Kelapa, Benteng Sunda Kelapa, Museum Bahari, bekas bengkel kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard.

Selain itu, terdapat pula jembatan unik khas Belanda. Di Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur, berjajar bangunan-bangunan dari abad 18, kawasan ini merupakan pusat dari benteng Kota Batavia.

Beberapa bangunan unik khas Eropa di kawasan itu antara lain bangunan Asuransi Lloyd, Standard Chartered Bank, PT Samudra Indonesia, PT Bhanda, Graha Raksa, serta Toko Merah.

Sedangkan di Jalan Pintu Besar Selatan terdapat kawasan Taman Fatahillah. Taman Fatahillah merupakan lapangan terbuka berbentuk persegi empat dengan bangunan-bangunan bersejarah di semua sisinya. Di sisi barat terdapat beberapa bangunan unik, salah satunya Museum Wayang yang di dalamnya dipamerkan koleksi wayang dari seluruh Indonesia dan beberapa negara di dunia. (Yes/J-1)

Sumber: Media Indonesia, Senin, 23 Agustus 2004


%d blogger menyukai ini: