Sri Sultan HB X Resmikan Pemugaran Tamansari

Yogyakarta, Minggu

Gubernur Provinsi DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X bersama dengan Ketua Yayasan Calouste Gulbenkian Portugal secara simbolis meresmikan purna pugar Bangunan Cagar Budaya Pasiraman (Water Castle) Umbul Binagun Tamansari Keraton Yogyakarta, Minggu (22/8) malam.

Pemugaran cagar budaya yang termasuk dalam 100 Situs Dunia yang terancam punah dan merupakan bangunan berlatar belakang sejarah yang berkaitan erat dengan bangsa Portugis itu, dilakukan atas kerjasama Pemrprov DIY, Yayasan Calouste Gulbenkian Portugal, Kraton Yogyakarta, Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM Yogya, dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) DIY. Hal itu disampaikan Penanggungjawab Proyek Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya itu, KGPH Hadiwinoto dalam laporannya.

Pemugaran tersebut dilakukan dengan anggaran Rp2,5 miliar, dimana Rp1,6 miliar diantaranya berasal dari Yayasan Calouste Gulbekian Portugal dan sisanya sekitar Rp900 juta dari APBD Pemprov DIY yang dimulai Januari 2004.

Pemugaran fisik meliputi kolam, bangunan umbul bagian utara dan tengah, pintu gerbang, tembok keliling, pembuatan sistem drainase, sistem sirkulasi air kolam dan lampu seluruh bangunan, katanya.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY Sultan HB X mengatakan, restorasi bangunan Tamansari dapat diselesaikan karena hibah dana dari Yayasan Calouste Gulbekian Portugal. “Untuk itu penghargaan tinggi patut disampaikan kepada yayasan itu dari Kraton Yogya, Pemrov DIY bersama masyarakat pencinta pusaka budaya Yogyakarta,” katanya.

Menurut Sultan, cagar budaya Tamansari adalah salah satu dari 100 bangunan cagar budaya di dunia yang paling terancam kepunahannya pada 2004. Ia mengatakan, dengan selesainya renovasi tahap pertama ini, setidaknya dapat ditangkap makna penting baik dalam dimensi lokal, nasional maupun global dan membuktikan adanya jaringan kerjasama internasional yang terarah dalam penyelamatan warisan budaya bangsa Indonesia sebagai khasanah budaya dunia.

Akutulrasi budaya sebagai proses yang kini dikenal dengan globalisasi sudah berlangsung sejak dulu, demikian pula arsitektur dan relief Tamansari yang menjadi wujud budaya material yang menggambarkan akulturasi antar bangsa sehingga membentuk arsitektur dan ornamen campuran Hindu, Budha, Eropa Portugis, Cina dan Jawa sendiri.

Pemugaran itu menjadi momentum kebangkitan Yogyakarta sebagai kota yang peduli kepada warisan budaya peninggalan sejarah bangsanya dan karena kepeduliannya itulah Yogyakarta akan menjadi kota antik yang dihargai dunia.

Selain itu, pada saatnya nanti Tamansari akan menjadi obyek wisata potensial yang memiliki dimensi kultural kaya citra, kata Sultan HB X. Acara peresmian itu dihadiri Duta Besar Portugal untuk Indonesia, Jose Santos Braga dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Sejarah dan Purbakala, Hari Untoro Drajat mewakili Menbudpar. (Ant/Dul)

Sumber: Kompas, 22 Agustus 2004


%d blogger menyukai ini: