Resor Pulau Bidadari – Resor dengan Nilai Sejarah

JAKARTA – Resor di Kepulauan Seribu tidak hanya berada di bagian utara kepulauan yang terletak di utara Teluk Jakarta ini. Kalau merasa terlalu jauh ke resor di bagian utara, di bagian selatan juga terdapat resor seperti Resor Pulau Bidadari.

Perjalanan menuju resor ini tidak membutuhkan waktu yang lama karena masih berdekatan dengan daratan Jakarta. Dari dermaga marina Taman Impian Jaya Ancol, perjalanan menuju ke resor ini hanya membutuhkan waktu setengah jam dengan menggunakan kapal cepat (speedboat) milik pengelola pulau. Karena dekat dengan Jakarta, pengunjung yang datang ke resor ini ada yang menggunakan jetski.

Dalam satu hari setidaknya ada dua hingga tiga kali keberangkatan kapal dari dermaga Marina Ancol dan dari pulau. Jadwal keberangkatan kapal, paling banyak pada hari Sabtu sedangkan pada hari biasa, jadwal keberangkatan kapal hanya dua kali.

Sepanjang perjalanan menuju resor ini, waktu terasa sangat singkat karena bisa menyaksikan gugusan pulau yang sarat dengan nilai sejarah seperti Pulau Cipir (Kahyangan), Onrust dan Kelor.

Pulau Onrust merupakan pelabuhan VOC sebelum pindah ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Pulau Onrust ini juga merupakan markas tentara penjajah Belanda sebelum masuk Jakarta dan mendudukinya. Di pulau inilah tentara Belanda melakukan aktivitas bongkar muat logistik perang.

Tahun 1930-an, Pulau Onrust juga menjadi asrama haji sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi. Para Calon Haji di Pulau Onrust diadaptasikan dengan udara laut karena zaman dahulu mereka naik kapal laut sebelum menuju ke Arab Saudi. Dari kejauhan memang masih sangat terlihat bangunan-bangunan peninggalan penjajah Belanda seperti benteng dan pelabuhan kuno.

Pulau-pulau lainnya juga pernah menjadi markas kompeni (julukan tentara penjajah Belanda dulu). Pulau Cipir, sejak tahun 1675 hingga menjelang tahun 1800 berkembang sebagai pendukung aktivitas di Pulau Onrust. Tetapi sayangnya, bangunan di pulau ini dihancurkan oleh armada Inggris tahu 1800 sehingga hanya puing-puingnya yang bisa terlihat dari kejauhan.

Pulau Kelor pada masa penjajahan Belanda menjadi rumah Daniel M salah seorang bekas pemimpin Pulau Onrust. Tetapi karena mengalami pengikisan oleh air laut (abrasi), rumah kuno tersebut tenggelam ke dasar laut. Tetapi jangan khawatir karena masih ada bangunan puing yang menjadi menara pengawas dan benteng Belanda zaman dahulu yang bisa dilihat dari kejauhan.

Nah karena masih dalam gugusan kepulauan yang sarat dengan nilai sejarah ini, Pulau Bidadari menjadi bagian dari sejarah penting Indonesia dan bahkan Jakarta. Sebelum bernama Pulau Bidadari, pulau ini memiliki dua nama yaitu Pulau Sakit, dan Pulau Purmerend.

Pada abad ke-17, pulau ini juga merupakan penunjang aktivitas Pulau Onrust karena letaknya yang tidak berjauhan dengan Pulau Onrust. Karena menjadi penunjang, di pulau ini dibangun pula sarana-sarana penunjang. Pada tahun 1679, VOC membangun sebuah rumah sakit lepra atau kusta yang merupakan pindahan dari Angke. Karena itulah, pulau ini sempat dinamakan Pulau Sakit.

Saat bersamaan, Belanda mendirikan benteng pengawas. Benteng yang dibangun ini lebih berfungsi sebagai sarana pengawasan untuk melakukan pertahanan dari serangan musuh. Sebelum pulau ini diduduki oleh Belanda, orang Ambon dan Belanda pernah tinggal di pulau ini.

Sekitar tahun 1800, armada laut Inggris menyerang pulau ini dan menghancurkan bangunan di atas pulau ini. Sekitar tahun 1803 Belanda yang kembali menguasai Pualu Bidadari dan membangunnya kembali. Tetapi Inggris kembali menyerang tahun 1806 Pulau Onrust dan Pulau Bidadari serta pulau lainnya hancur berantakan, tetapi tahun 1827 pulau ini kembali dibangun oleh Belanda dengan melibatkan pekerja orang Cina dan tahanan. Bangunan yang dibangun adalah asrama haji yang berfungsi hingga tahun 1933.

Peninggalan-peninggalan bersejarah inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Di resor ini memang ditawarkan untuk menginap sembari bersantai menikmati suasana laut. Tetapi sangat disayangkan bila menginap di pulau ini, tidak menikmati peninggalan-peninggalan sejarah yang masih tersisa.

Di benteng pengawas, kita bisa melihat catatan-catatan yang ditinggalkan orang yang pernah datang ke pulau ini seperti bertanggal 14 September 1930 (tanpa nama), 26 Maret 1932 ditorehkan oleh GW Voll, H Voll, Eva N Falck, G Becker dan Jack Utermohlen. Catatan paling terakhir ditorehkan oleh W Tan dan Nelly Tasosken pada tanggal 5 April 1955.

Pulau ini sebelum menjadi resor sempat kosong dan tidak berpenghuni sampai dengan tahun 1970 dari tahun 1955. Bahkan pulau ini tidak pernah dikunjungi orang. Pada awal tahun 1970an, PT Seabreez mengelola pulau ini untuk dijadikan sebagai resor wisata.

Semenjak tahun 1970 ini, untuk menarik pengunjung, pulau ini berganti nama menjadi Pulau Bidadari. Alasan pengambilan nama menjadi Pulau Bidadari diilhami dari nama pulau lainnya di Kepulauan Seribu seperti Pulau Putri, Pulau Nirwana, dan lainnya.

Karena letaknya berdekatan dengan Jakarta, banyak pengunjung yang datang sekedar berwisata sehari atau tidak menginap yang lebih dikenal dengan One Day Tour. Pengunjung yang datang di sini selain ingin bersantai menikmati sejuknya angin laut, juga ingin melihat bangunan-bangunan bersejarah yang berada di Pulau Bidadari.

“Cottage” Apung

Berbeda dengan cottage yang berada di resor lainnya, resor Pulau Bidadari memiliki resor yang berada di atas laut atau yang dikenal dengan cottage apung (floating cottage). Tetapi jangan khawatir akan hanyut karena cottage ini berupa rumah panggung di atas air layaknya perkampungan nelayan. Sudah pasti kan apabila kita menginap di atas cottage yang mengapung, tidur kita akan ditemani dengan bunyi deburan ombak dan hembusan angin laut nan sejuk.

Cottage di Pulau Bidadari juga ada yang berada di darat. Cottage yang berada di darat terdiri dari dua model yakni model panggung dan bukan panggung. Cottage model panggung desainnya mirip dengan rumah adat minahasa yang sudah terkenal di seantero dunia.

Bosan berada di dalam kamar dan sudah menikmati peninggalan bersejaraah di Pulau Bidadari? Kita masih bisa bermain dengan banana boat, jetski, kano atau kayak laut dan sejumlah aktivitas lainnya seperti memancing dan berenang di pantai. Jangan khawatir pantai di sini kotor meski berada dekat dengan daratan Jakarta yang airnya hitam tanda kotor. Pantai di sini masih terbilang bersih.

Di bibir pantai terdapat sejumlah pendopo untuk tempat duduk bersantai atau sekedar rebahan melepas kepenatan dan menikmati sejuknya hembusan angin pantai. Ingin bermain, resor Pulau Bidadari juga memiliki taman yang berada di bawah rindangnya pohon-pohon sehingga tak perlu khawatir kita akan kepanasan.

Ketika malam menjemput, suasana hening memang sangat terasa di Pulau Bidadari. Ketika pagi menjemput dan mentari mulai menyembul di ufuk timur, pengunjung akan ditemani kicauan burung yang bersarang di pohon-pohon yang terpelihara dengan baik di Pulau Bidadari.

Restoran di Pulau Bidadari juga buka hingga jam 12.00 tengah malam sehingga tidak perlu takut kelaparan di tengah malam. Di pulau ini terdapat toko yang menjual pernak-pernik yang berbau resor Pulau Bidadari dan perlengkapan mandi.

Menginap di Pulau Bidadari memang bukan hanya sekedar menginap dan beraktivitas seperti bermain jetski atau memancing. Namun kita bisa melihat saksi bisu sejarah Indonesia dan Jakarta meskipun hanya tinggal puing-puingnya saja. Mau menyebrang ke Pulau Onrust juga, tidak perlu khawatir karena letaknya berdekatan dan pengelola resor menyediakan speedboat kecil untuk mengantarkan kita. (SH/thomas jan bernadus)

Sumber: Sinar Harapan, 21 Agustus 2004


%d blogger menyukai ini: