Sisa-sisa Peninggalan Hindia Belanda di Wonosobo

KENANGAN masa kanak-kanak hingga remaja di kota kecil bernama Wonosobo kembali muncul saat membaca buku Cilacap (1830-1942), Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan karya Susanto Zuhdi (2002). Meski sebagian besar buku itu membahas soal pelabuhan di Kota Cilacap, di beberapa bagian banyak pula membahas Wonosobo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah.

MELALUI buku Susanto Zuhdi itu diketahui betapa pentingnya bangunan-bangunan peninggalan zaman Hindia Belanda sebagai bukti bahwa Wonosobo pada masa Hindia Belanda dikenal sebagai daerah yang kaya dengan hasil pertanian dan perkebunan.

Pada tahun 1980-an Wonosobo masih memiliki banyak fasilitas dan bangunan yang didirikan semasa pemerintahan Hindia Belanda. Mulai dari rumah penduduk, bekas stasiun kereta api, bekas rumah sakit, gedung pemerintahan, hingga gereja dan biara. Saat itu tidak terpikir kalau bangunan-bangunan tersebut banyak menyimpan jejak keberadaan wong Londo. Keberadaan bangunan itu dipastikan terkait dengan kepentingan perdagangan hasil pertanian dari Wonosobo.

Dulu Kantor Departemen Penerangan setempat kerap kali menyosialisasikan bangunan-bangunan tua yang harus dilestarikan. Saat itu, penulis tidak mengetahui secara persis makna keberadaan bangunan-bangunan tersebut.

Sewaktu kanak-kanak hanya terpikir bangunan-bangunan tersebut angker, menakutkan, dan tanpa manfaat. Bahkan, ada penduduk yang memaku tulang hewan di atas pintu bangunan-bangunan tua karena diyakini bisa mengusir roh halus dari bangunan itu.

Mungkin pandangan-pandangan seperti itulah yang menyebabkan berbagai jenis bangunan lama di Tanah Air banyak dibongkar. Padahal, kalau kita berkunjung ke Eropa, ketika acara makan malam (dinner), para tamu malah diajak ke tempat-tempat yang sangat kuno dan bersejarah, bukan di restoran yang mewah. Menunya pun menu kuno.

WAKTU masuk dan menetapnya orang-orang Belanda di Wonosobo tidak diketahui secara persis. Akan tetapi, masuknya mereka kemungkinan sangat terkait dengan sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johanes van Den Bosch di Hindia Belanda tahun 1832.

Kegiatan tanam paksa antara lain dilakukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian selatan. Dari kegiatan itu, berbagai hasil bumi, seperti kopi, nila, teh, gula, dan lainnya, dikirim ke berbagai pasar di Eropa melalui Pelabuhan Cilacap. Berbagai hasil bumi itu dipasok dari Purworejo, Kebumen, hingga dari daerah pedalaman yaitu Wonosobo.

Pada tahun 1885 di Wonosobo mulai terdapat perkebunan teh yang sekarang milik PT Tambi. Pada awalnya perusahaan ini bernama Bagelen Thee & Kina Maatschappij yang dikelola oleh NV Jhon Peet yang berkedudukan di Batavia (Jakarta).

Kegiatan ini terus berkembang hingga pengangkutan yang semula menggunakan gerobak sapi dan perahu sungai beralih dengan menggunakan kereta api. Jaringan kereta api Yogyakarta-Cilacap dibangun pada tahun 1879 dengan panjang 187,283 kilometer. Salah satu alasan pembukaan jalur kereta api ini adalah guna memudahkan transportasi gula dari pabrik-pabrik yang berada di daerah Yogyakarta.

Kegiatan perdagangan hasil bumi ini terus berkembang hingga jalur kereta api terus dibangun. Pembangunan berikutnya dilakukan untuk jalur tengah yang berada di pinggir Sungai Serayu. Pada 5 Maret 1884 dibangun Serayudal Stoomrammaatschappij (SDS) atau Trem Uap Lembah Serayu. Pembangunan SDS ini bertahap mulai dari Maos-Purwokerto, kemudian Purwokerto-Sokaraja. Dari Sokaraja kemudian diteruskan ke utara hingga Wonosobo. Ruas terakhir Selokromo-Wonosobo diselesaikan pada 7 Juni 1917.

Sejak saat itu perdagangan hasil pertanian dari Wonosobo yang semula dikirim ke pantai utara Jawa pindah ke selatan. Perdagangan hasil bumi semula ada yang dibawa ke utara melalui Dieng menuju Pekalongan. Dengan adanya jalur kereta api, pengiriman hasil bumi seperti kopi, tembakau, dan teh melalui selatan.

Peranan Wonosobo dalam perdagangan hasil pertanian tidaklah kecil hingga menjadikan Pelabuhan Cilacap sebagai pelabuhan yang tergolong ramai di Jawa antara tahun 1909 sampai 1930.

AKTIVITAS orang-orang Belanda yang menetap di Wonosobo bisa dilihat dari sejumlah tempat tinggal yang kini telah berumur lebih dari 90 tahun. Salah satunya adalah rumah yang bagian depannya bertuliskan Mon Desir di Jalan Mangli. Sekarang rumah itu menjadi bagian biara bagi para suster yang tergabung dalam tarekat Putri Maria dan Yosef (PMY).

Mencari bukti dari kisah-kisah keberadaan Hindia Belanda di Wonsosobo makin sulit dicari saat ini. Sejumlah bangunan telah rusak. Bahkan, Gereja Katolik yang dibangun pada masa Hindia Belanda sudah dibongkar pada pertengahan tahun 1980-an. Bila tetap didiamkan, gereja itu sebenarnya sudah berumur 72 tahun.

Stasiun kereta api yang menjadi bukti kuat bahwa Wonosobo merupakan pemasok berbagai hasil bumi sudah sejak tahun 1975 tidak terpakai lagi. Bila masih dijalankan, stasiun itu sudah berumur 87 tahun.

Menurut Sugito, seorang pensiunan pegawai PT Kereta Api Indonesia, pengoperasian kereta api itu berakhir sekitar tahun 1975. Pada awal tahun 1980-an jalur kereta api itu pernah digunakan untuk mengangkut pipa-pipa besar untuk proyek pembangkit listrik tenaga air di Kecamatan Garung.

Setelah itu pernah ada rencana PT Dieng Djaya sebuah perusahaan pengalengan jamur di Wonosobo untuk menggunakan kereta api sebagai pengangkut ampas tebu untuk media penanaman jamur. Pada masa Menteri Perhubungan Haryanto Danutirto juga pernah ada rencana untuk menghidupkan kembali jalur kereta api Wonosobo-Purwokerto itu.

Akan tetapi, rencana itu tidak pernah terlaksana hingga sekarang beberapa bagian stasiun kereta api itu sudah berubah menjadi permukiman. Di bagian depan masih tampak bangunan utama stasiun, tetapi sudah menjadi bengkel dan sebagian digunakan untuk gudang pupuk.

Beberapa bagian lajur rel kereta api, di atasnya sudah didirikan bangunan rumah. Peralatan-peralatan di stasiun sudah banyak yang hilang. Akan tetapi, perumahan pegawai masih banyak yang utuh.

Bangunan lainnya adalah beberapa bangunan besar di Jalan Sindoro. Beberapa di antaranya adalah yang saat ini digunakan sebagai gedung DPRD dan rumah penduduk. Gedung DPRD masih terawat baik demikian pula sebuah rumah yang berada di depannya. Rumah penduduk ini dulu berantakan, tetapi setelah dimiliki oleh mantan bupati setempat, rumah itu kembali menjadi elok.

Sebuah rumah penduduk lainnya berada tidak jauh dari tempat itu kini kondisinya mengenaskan. Banyak orang mengatakan bangunan besar itu sebetulnya dulunya adalah sebuah rumah sakit. Beberapa bagian rumah sakit itu, yaitu bangsal, sudah tidak ada lagi.

Beberapa bangunan yang masih ada antara lain kantor pos, sejumlah rumah penduduk, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Kristen Jawa, dan biara suster. Bangunan ini masih terawat dengan baik meski ada di antaranya yang dirombak.

Di samping itu, perkebunan tembakau rakyat dan perkebunan teh milik PT Tambi merupakan bukti “hidup” peninggalan semasa Hindia Belanda. Hingga sekarang, perkebunan itu masih ada di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Bila melihat makin berkurangnya jejak-jejak masa Hindia Belanda di Wonosobo, penyelamatan sisa-sisa peninggalan yang masih ada sangatlah penting. Apalagi sejak lama Wonosobo dikenal sebagai tujuan wisata. Pelestarian bangunan-bangunan tersebut pasti dapat menambah daya tarik pariwisata. (ANDREAS MARYOTO)

Sumber: Harian Kompas, Jumat, 23 Juli 2004


%d blogger menyukai ini: