Menggosok ”Permata Kota” yang Pudar

BRAGA adalah nama sebuah jalan di Kota Bandung yang sudah sangat populer baik di Indonesia maupun di masyarakat internasional. Kawasan itu juga merupakan kawasan bersejarah yang menjadi simbol dari kejayaan dan keindahan masa lalu Kota Bandung. Braga sebelumnya disebut Jalan Pedati, yang menghubungkan Jalan Pos dengan “Koffie Pakhuis” (Gedung Kopi milik Tuan Andries de Wilde). Dan, baru pada tahun 1810, jalan ini untuk pertama kali disebut Jalan Braga.

Mulai tahun 1856, sewaktu Bandung menjadi ibu kota Priangan, beberapa hunian bangsa Eropa dibangun di Jalan Braga, yang saat itu masih berupa tanah liat, rumah-rumah masih beratapkan ijuk, rumbia dan ilalang, yang tidak lama kemudian diganti dengan genting dan bahan tembok.

Tahun 1882, ketika Tonil Braga didirikan, bisa dianggap sebagai tahun lahirnya Braga. Saat itu jalan mulai diperkeras dengan batu kali dan digunakannya lentera minyak tanah. Dengan selesainya pembangunan jalur kereta api pada tahun 1884 dari Batavia ke Bandung, banyak pengunjung datang ke Bandung. Ketika itu ujung selatan Jalan Braga sudah ramai (dekat pusat kota), namun penggal utara masih sepi (masih berupa kebun karet). Dan, sejak 1893 Jalan Braga mulai menjadi daerah pertokoan yang paling terkemuka di Hindia Belanda.

Sejarah modern Jalan Braga yang kemudian begitu populer terutama keasriannya, dimulai 1920-1930 ketika kawasan itu menjadi pertokoan eksklusif. 1937-1939 Braga semakin ramai dan padat lalu lintas, kondisi pertokoan mengalami kemajuan pesat. Kejayaan Braga mulai suram sejak tahun 1980-an hingga kini. Citra Braga yang begitu dipuja keindahannya, hingga memunculkan julukan Parisj van Java, kini tinggal kenangan. Permata yang sangat indah di Kota Bandung tersebut seakan sirna. Jalan Braga yang dulunya menjadi pusat kehidupan budaya Kota Bandung, kini menjadi kawasan yang tidak berprospek, terkucilkan dan tak terperhatikan.

**

KEPRIHATINAN ini sempat mengundang pakar dari Singapura yaitu Prof. Mr. Richard K.F. Ho, Adjunct Associate Professor Departement of Architectur, National University of Singapore (NUS), yang sengaja berkunjung ke Bandung untuk melakukan penelitian bersama 10 mahasiswanya pada tahun 2003 bersama Bandung Heritage.

“Saya melihat langsung bagaimana kondisi Jalan Braga dan kawasan di belakangnya yang sangat menyedihkan. Braga sudah sangat dikenal di masyarakat internasional sebagai kawasan terindah yang dimiliki Kota Bandung. Namun, kondisi sekarang yang hanya dijadikan tempat hiburan, telah menghilangkan aura kecantikannya. Ini sangat memprihatinkan kami. Sudah saatnya pemerintah maupun masyarakat Kota Bandung kembali peduli untuk mengembalikan Braga sebagai wajah dan karakter Kota Bandung,” kata Richard.

Richard Ho merasakan dan melihat langsung kondisi Braga yang merupakan pusat kehidupan budaya Kota Bandung, kini tidak tampak lagi. Padahal, semua orang tahu, Braga merupakan simbol atau ikon Kota Bandung yang sangat bersejarah. Kini Braga tidak lagi memperlihatkan karakternya sebagai pusat kota, tidak sebanding dengan nilai-nilai yang telah menjadi image masyarakat internasional.

“Sudah saatnya masyarakat dan pemerintah Kota Bandung untuk kembali menggosok permata kota agar kembali berkilau. Ini merupakan langkah untuk kembali mengangkat martabat Kota Bandung serta nilai-nilai sejarah yang dikandungnya. Apalagi pada 2005 akan diselenggarakan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika. Maka saatnya komponen yang peduli terhadap heritage dan arsitektur yang indah di Jln. Braga kembali ditata keindahannya serta dihidupkan perekonomiannya,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan seorang warga Braga, David B. Soediono. “Selama ini, berbagai gagasan dalam menata kembali Jalan Braga telah diajukan. Namun, pelaksanaan konkretnya selalu saja terabaikan, sehingga Braga kini menjadi kawasan yang sama sekali terpinggirkan dari berbagai maraknya pembangunan Kota Bandung.” katanya.

Disebutkan pula, harga nilai bangunan Jalan Braga tidak sebanding dengan usaha yang berjalan di sana. Sangat timpang, sehingga prospek ekonominya sangat rendah. Coba bayangkan, di Braga yang bergengsi itu, air PAM-nya saja sudah tidak lagi berfungsi. Braga kini hanya menjadi kawasan hiburan, judi, dan prostitusi. Menyedihkan sekali. Saatnya kini masyarakat dan pemerintah peduli untuk mengembalikan Jalan Braga sebagai pusat Kota Bandung,” ujarnya.

Demikian pula yang dikatakan Francis Affandi dari Bandung Heritage. Ia menilai, apa yang dilakukan mahasiswa dari Singapura itu merupakan pelajaran untuk pemerintah dan masyarakat yang kini sudah melupakan Jalan Braga sebagai wajah Kota Bandung. “Banyak gedung bersejarah yang harus kembali ditata dengan baik, dikembalikan fungsinya. Di jalan itu ada Gedung Kimia Farma yang kini hanya menjadi gudang, demikian pula Gedung Hotel Braga yang kehilangan fungsi utamanya,” ujarnya.

**

DI tengah persoalan Braga yang begitu kompleks, kini seolah ada angin segar untuk mengembalikan Braga pada masa kejayaannya, yaitu rencana pembangunan Braga City Walk (BCW) yang akan merevitalisasi Braga dengan membangun hotel, apartemen, fasiltas komersial, fasilitas parkir dan open plaza, dengan tetap menjaga aspek lingkungan di seputar Braga.

Seperti dikatakan Ketua Bandung Heritage (Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung), Tuty Harastoety DH, apa pun yang dilakukan pihak pengembang merupakan sesuatu yang baik, terutama untuk kembali menghidupkan Braga yang memang sudah mati. Gagasan pembangunan ini tentunya tidak begitu saja dilakukan, tetap harus memperhitungkan aspek lingkungan sosial di wilayah Braga tersebut, seperti kondisi masyarakat di bagian belakang Braga yang berdekatan dengan Sungai Cikapundung, juga kondisi pertokoan maupun kondisi jalan di Braga tersebut.

“Dibangunnya mal, plaza, hotel atau apartemen tidak masalah asal tetap harus memperhitungkan juga kondisi Braga secara menyeluruh. Artinya, pembangunan BCW ini bisa berdampak lain. Misalnya, pengunjung hanya tersedot di tempat itu, sementara pertokoan lainnya tidak ada perubahan apa-apa. Demikian pula kondisi masyarakat di belakang Braga, harus dipertimbangkan aspek sosialnya,” kata Tuty.

Hal senada juga pernah dikatakan K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Dibangunnya BCW di kawasan Braga ini tidak ada masalah, yang penting apa yang dilakukan pengembang harus membangun citra Kota bandung itu sediri sebagai kota yang bermartabat. Pembangunan harus benar-benar bersih dari segala macam kotoran, baik itu korupsi maupun macam-macam maksiat. Sehingga pembangunan ini dapat mengajak masyarakat untuk berbuat bersih.

“Apa yang akan dilakukan pengembang ini merupakan hal yang baik. Artinya, tidak sekadar membangun, tetapi bagaimana pembangunan tersebut dapat mengangkat citra Braga yang sudah terkenal itu. Di samping membawa kebersihan, juga harus mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat di kawasan Braga ini. Jangan sekadar mencari untung, tapi harus menguntungkan banyak orang, menguntungkan masyarakat tentunya,” paparnya.

**

KEPALA Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bandung, Tjetje Subrata, yang pernah diwawancarai “PR” mengenai Braga mengatakan, dari aspek tata ruang, konsep BCW sudah bagus. Program tersebut tidak bertentangan dengan RTRW karena daerah depan Jalan Braga memang dibuat untuk daerah perdagangan dan di belakangnya untuk perumahan.

“Konsep itu masih dalam konteks menghidupkan kembali Braga. Jadi bukan menghentikan, tapi menata, karena di sana daerah pengembangan. Jadi bagian depan untuk perdagangan segala macam dengan konsep Braga, dan di belakangnya hotel,” jelasnya.

Menurut dia, kawasan perdagangan yang terdiri dari 78 toko di Braga nyaris mati. Dengan konsep BCW, Pemkot Bandung berupaya menghidupkan kembali perdagangan di Braga.

Sedang masyarakat Braga, baik masyarakat RW 08 di belakang Jalan Braga maupun masyarakat pengusaha yang memiliki pertokoan di Braga, menanggapi positif rencana pembangunan BCW. Namun, meraka tetap menuntut sosialisasi dan kompensasi yang jelas.

Salah seorang tokoh masyarakat Braga di RW 08, Imam Sadikin, kepada “PR” menyatakan, BCW harus benar-benar menghidupkan kembali Braga yang sudah mati sekaligus memberi kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

“Masayarakat di sini sama sekali tidak keberatan. Namun, yang harus diperhatikan pengembang adalah bagaimana mereka dapat memahami keinginan masyarakat, seperti memberdayakannya dan mampu menghidupkan suasana yang lebih baik. Hal ini perlu agar tidak terjadi kontradiksi antara pihak pengusaha dengan masyarakat, terlebih di areal itu akan ada apartemen, di mana ada masyarakat baru yang akan tinggal di tempat tersebut,” ungkapnya. (d’Art/Noe/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 19 Juli 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: