Gaya dalam Arsitektur Rumah Tinggal

SETELAH memandang rumah yang kita huni beberapa lama pasti timbul pertanyaan, masuk golongan manakah style arsitektur rumah tinggal kita itu? Bahkan, bukan hanya diri kita yang mempertanyakannya, tetapi kebanyakan orang juga akan mengajukan pertanyaan yang sama.

Kalau rumah kita memang dirancang dengan style yang jelas, maka pertanyaan tersebut tentu tidak akan sulit dijawab. Akan tetapi, bagaimana kalau rancangannya tidak masuk dalam kategori style yang mudah dikenali, atau apabila dirancang dengan bermacam style? Bagaimana pula bila si perancang sama sekali menolak untuk membicarakannya?

Style dalam arsitektur memang menjadi isu yang tak henti-hentinya dibicarakan, baik dalam pemasaran para pengembang, dunia akademi, dan di kalangan arsitek.

Menentukan suatu gaya membutuhkan berbagai parameter yang rumit karena saling tumpang tindih. Kalau ditinjau dari sejarah style-style arsitektur yang pernah ada, mungkin bisa disebut bahwa style dalam arsitektur itu merupakan suatu subperadaban. Namun, untuk mudahnya barangkali dapat dikatakan bahwa style lebih kurang adalah suatu karakteristik umum yang ditampilkan sejumlah bangunan gedung sebagai pengkristalan suatu gagasan atau alam pemikiran. Dengan perkataan lain, style adalah suatu kategorisasi sinergis dari berbagai gagasan yang mempunyai sejumlah kesamaan, misalnya dalam pendekatan atau pemecahan suatu persoalan perancangan bangunan gedung.

Style, menurut Budi Adelar Sukada, pakar sejarah arsitektur, penting dipahami terutama karena sering kali merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan aspirasi dan cita rasa pemilik rumah, baik secara perorangan maupun berkelompok. Juga merepresentasikan selera umum yang berlaku dalam suatu periode. Dengan mengenali style bangunan gedung yang mendominasi suatu lingkungan, misalnya, kita akan lebih mudah menduga periode pembangunannya. Selain itu, kita juga akan dapat dengan pasti menyatakan apakah bangunan gedung tersebut orisinal atau tidak apabila style-nya kita kenali.

Seiring dengan bermunculannya kompleks perumahan baru yang bertebaran di dalam dan di sekitar kota-kota besar, timbul pula berbagai gaya yang diadopsi dari berbagai belahan dunia. Ada yang melakukannya dengan sepenuh hati, ada pula yang sekadarnya dan hanya di penampilan kulitnya. Ada pula yang mencampuradukkan berbagai style dengan aturan yang dibuat sendiri. Selebihnya mengaku tak bermaksud mengikuti style apa pun karena berdasarkan kebutuhan serta fungsi semata.

Contoh rumah

Gedung Arsip Nasional, sebuah bangunan yang aslinya adalah sebuah rumah tinggal yang terletak di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, tampaknya mempunyai karakter yang dapat dijadikan contoh mengenai apa yang dimaksud dengan style rumah tinggal. Bangunan ini didirikan dengan style yang oleh sementara kalangan disebut Indische Woonhuizen atau “rumah tinggal gaya Indis atau Hindia Timur”. Style tersebut dikenali dari cara membangunnya, yang lazim dipraktikkan di Eropa yang mempunyai empat musim, yaitu berdinding bata dan berdiri langsung di atas tanah. Tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang umumnya didirikan dengan konstruksi panggung. Gaya ini sempat bertahan lama karena selain dirasa cocok, juga tidak terlalu sulit dilaksanakan.

Bangunan ini didirikan tahun 1760 ketika lokasi tapaknya masih terletak dipedesaan, di luar tembok Kota Batavia waktu itu. Meskipun telah mengalami perubahan-perubahan, style aslinya tampak tak banyak berubah. Dengan sendirinya nuansa Eropa sangat terlihat dalam penataan denah yang dimaksudkan untuk mengakomodasi gaya hidup Eropa penghuninya.

Penataan denah bangunan utama Gedung Arsip Nasional amat pragmatis. Lantainya dibagi-bagi menjadi beberapa ruangan tanpa selasar, namun diadaptasikan terhadap lingkungan Batavia ketika itu dengan menambahkan serambi depan dan serambi belakang untuk melindungi bangunan dari panasnya sinar matahari langsung dan pantulannya, sekaligus menyediakan suatu tempat angin mengalir dengan bebas. Di rumah ini serambi depannya berupa semacam portico sebagai bagian dari entrance sehingga bangunan ini lebih tepat disebut Closed Indies Style atau Indische Woonhuizen yang tertutup karena telah kehilangan serambi depannya. Dengan demikian, tampak luarnya menjadi lebih menonjol karena segenap detailnya, baik yang bersifat teknis maupun ornamental, tampil dengan sepenuhnya. Bangunan dua lantai adalah tipe bangunan yang sangat populer ketika itu sehingga Gedung Arsip Nasional RI ini pantas dijadikan contoh.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi soal style ini dalam perancangan rumah tinggal kita? Kita sebenarnya bisa mengadopsi desain tradisional yang ada di negeri kita karena rumah tinggal di setiap daerah di Indonesia telah mapan dengan style-nya sendiri-sendiri. Pengembangan berbagai style tersebut terjadi seiring dengan iklim, tata budaya, bahan bangunan, keterampilan, dan teknologi yang tersedia.

Kalau kita pergi ke pelosok Nusantara, pasti akan menemukan bangunan gedung, baik rumah tinggal atau bangunan ibadah, dengan karakternya masing-masing. Kita tinggal menyesuaikan setiap langgam dari arsitektur tradisional tersebut dengan kebutuhan nyata kita. Akan tetapi, memang kita harus mempelajari dulu hingga menguasai dan mengerti latar belakang konsep rancangan dan arti dari setiap detail yang ada dalam khazanah suatu gaya arsitektur yang ingin kita adopsi. Cara yang paling mudah adalah mengamati suatu contoh obyek gaya kita, kemudian kita bisa minta bantuan seseorang yang menguasai gaya dalam arsitektur tersebut untuk mengakomodasikannya ke dalam rancangan rumah kita.

Itulah sebabnya kita sebaiknya mengerti apa yang dimaksud dengan style itu agar dapat menentukan style seperti apa yang kita inginkan atau dambakan itu.

Saptono Istiawan IAI

Sumber: Kompas, Jumat, 16 Juli 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: