Warisan Kolonial dan Studi Kolonialisme

Oleh: Tanti Johana

Semua pasti setuju dengan pernyataan ini bahwa, tidak ada bangsa yang mau dijajah. Dicopet mungkin hal kecil yang bisa dianalogikan dengan dijajah. Tidak ada yang bisa disalahkan jika seseorang kecopetan, kalau menyalahkan satu hal, pasti akan diikuti dengan menyalahkan yang lainnya. Jadi tidak akan tercapai sebuah titik temu.

Dijajah meskipun hal itu tidak mengenakkan tetapi itulah yang dialami oleh bangsa Indonesia. Diakui atau tidak, dibenci atau dicintai, telah terjadi inkulturasi antar budaya-budaya yang ada, pendokumentasian, pelestarian dan peninggalan produk-produk kolonial bisa ditemukan di berbagai daerah dan dalam berbagai segi kehidupan manusia.

Kegunaan warisan kolonial
Setelah penjajah pergi dari tanah air, bukan berarti bahwa tindakan penggusuran, penghapusan, penggantian nama elemen-elemen pembentuk budaya kolonial dapat sepenuhnya dibenarkan. Karena representasi kolonial yang berupa karya sastra, kesenian, arsitektur, gaya hidup dan lain lain, selain dapat dipelajari sebagai budaya kolonial yang berdiri sendiri juga dapat dianalisa untuk mempelajari ideologi Kolonialisme yang diterapkan di Indonesia.

Studi kolonialisme adalah sebuah studi baru yang mempelajari bagaimana kolonialisme diterapkan pada suatu bangsa, studi yang mempunyai tiga tokoh sentral, Edward Said, Homi K. Bhaba, dan Gayatri Chakravorty Spivak hadir untuk menandingi pandangan barat yang selama ini telah menguasai “masyarakat timur”. Kajian-kajian budaya tentang kolonialisme telah banyak hadir dalam wacana dunia membuka mata para peneliti untuk menganalisis strategi yang diterapkan oleh pemerintah kolonial dan fenomena kolonialisme yang hadir, meskipun banyak negara bekas jajahan negara lain, tapi tidak dapat dikatakan bahwa metode yang dipakai satu negara penjajah sama dengan negara penjajah lain.

Berbesar Hati dan Berpikir Panjang
Kebesaran hati dan berpikir panjang adalah sikap yang diperlukan untuk bisa menerima sesuatu yang telah ada meskipun pada awalnya tidak setuju, tapi bukan berarti apatis, tidak melakukan apa apa, melainkan kebesaran hati dengan kesadaran bahwa peninggalan sejarah harus dilestarikan. Tidak semua karya-karya individu yang hadir dalam masa pemerintahan kolonial dapat dikategorikan sebagai “karya yang salah” atau “tidak sesuai dengan budaya Indonesia”, karena sampai saat ini masih berdiri karya-karya yang “ternyata” sesuai dengan lingkungan Indonesia.

Dengan tetap dijaga dan dilestarikannya warisan budaya kolonial yang ada otomatis kemudahan perolehan data-data fisik tentang proses kolonisasi di Indonesia masih terbuka lebar.

Jakarta 06 April 2004

Iklan

%d blogger menyukai ini: