Villa Isola, Monumen dalam Arsitektur

Oleh W Wibisono

“Bandoeng O, wonderstad, dat zegt toch iedereen, een stad vol pracht en praal, altijd even schoon en rein, kortom, een plaats bij uitnemendheid, Bandoeng, heer lijke staad”. (Rara Sulastri – 1933)

Sebuah lagu sanjungan dalam Bahasa Belanda, yang terdapat dalam buku Wadjah Bandoeng Tempo Doeloe, karya Haryato Kunto, menggambarkan betapa jaya dan indahnya Kota Bandung (baca: Bandung utara) pada masa kolonial. Keindahan Kota Bandung saat itu tidak hanya ditunjang oleh kondisi alamnya, tetapi juga faktor man made.

Pada awal abad ke-20 kota ini pernah menjadi laboratorium arsitektur para arsitek di Hindia Belanda. Kontribusi mereka berupa karya arsitektur dengan langgam masing-masing turut membentuk citra Kota Bandung.

Salah satu karya arsitektur yang membentuk citra Kota Bandung adalah Villa Isola yang yang didesain CP Wolff Schoemaker. Bangunan yang didirikan tahun 1933 ini merupakan pembangkit memori sebagian besar masyarakat akan Kota Bandung. Setiap melihat gambar Villa Isola, ingatan masyarakat tertuju pada Kota Bandung. Peran suatu karya arsitektur dalam membangkitkan kenangan orang banyak akan suatu tempat merupakan salah satu aspek dalam penilaian makna kultural yang dimiliki bangunan tersebut. Aspek lain adalah sejarah, estetika, dan ilmu pengetahuan.

Suatu karya arsitektur yang baik tak hanya memiliki makna kultural yang mampu membangkitkan kenangan orang banyak terhadap suatu tempat, tetapi juga mampu meninggalkan kenangan dan kesan mendalam pada orang banyak terhadap karya itu sendiri. Bila hal ini terjadi, maka karya tersebut dapat dikategorikan sebagai karya arsitektur monumental.

Kata monumental berasal dari Bahasa Latin, monere yang secara harfiah berarti ’mengingatkan’. Kata ini berkembang menjadi mnemon, mnemonikos yang dalam Bahasa Inggris menjadi mnemonic, berarti ’sesuatu yang membantu untuk mengingat’. Pengertian monumental dalam arsitektur monumental tidak jauh dari pengertian di atas, yaitu sifat perancangan tertinggi yang dapat dicapai perancang agar dapat membangkitkan kenangan atau kesan yang tidak mudah terlupakan. Seorang arsitek bernama Ruskin dalam bukunya Speaking Architecturally mengatakan, sebuah karya arsitektur yang baik memiliki kesatuan, komposisi, keseimbangan asimetris, dan ritme.

Pada Villa Isola, pembangkit kenangan yang utama adalah bentuknya yang tidak lazim jika dibandingkan dengan bangunan lain dengan fungsi sama (rumah tinggal). Hal ini terlihat jelas saat melintasi Jalan Setiabudhi yang menghubungkan Kota Bandung dengan Lembang. Lebih dekat dengan bangunan yang kini berfungsi sebagai kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini, akan terasa adanya pengolahan tapak (lahan) yang sesuai dengan bentuk bangunan. Kedua unsur tersebut, bangunan dan lahan, membentuk kesatuan. Hal-hal di ataslah yang menjadi alasan mengapa bangunan ini dapat dikategorikan sebagai karya arsitektur monumental.

Peletakan massa

Dalam meletakkan massa Villa Isola, Schoemaker menggunakan sumbu imajiner utara-selatan dengan arah utara menghadap Gunung Tangkuban Perahu dan arah selatan menghadap Kota Bandung. Penggunaan sumbu utara-selatan dengan berorientasi pada sesuatu yang sakral (gunung atau laut) merupakan orientasi kosmis masyarakat di Pulau Jawa. Hal yang sama diterapkan dalam pengolahan tapak Technische Hoogheschool te Bandoeng (Institut Teknologi Bandung/ITB) yang berorientasi pada Gunung Tangkuban Perahu dan Kota Yogyakarta pada Gunung Merapi.

Villa Isola terletak di antara dua taman yang memiliki ketinggian berbeda. Taman di bagian selatan lebih rendah daripada taman di bagian utara. Taman di utara didesain dengan menghadirkan nuansa Eropa di dalamnya. Hal ini diperkuat dengan kolam berbentuk persegi dengan patung marmer di tengahnya. Pada taman ini terdapat jalur yang merupakan as yang membagi taman menjadi dua bagian simetris. Mendekati bagian utara bangunan, akan terlihat tangga berbentuk setengah lingkaran yang titik pusatnya berada pada bangunan.

Hal serupa juga diterapkan pada taman bagian selatan. Pengolahan bentuk anak tangga setengah lingkaran berpusat pada bangunan Villa Isola. Kedua taman yang memiliki perbedaan ketinggian dihubungkan dengan dua tangga melingkar pada sisi barat dan timur bangunan. Pengolahan taman dengan menggunakan bentuk melingkar yang berpusat pada bangunan yang juga memiliki bentuk melingkar, menjadikan bangunan menyatu dengan lahan di sekitarnya.

Fasad dan ruang dalam bangunan

Fasad bangunan Villa Isola diperkaya dengan garis-garis lengkung horizontal. Hal ini merupakan ciri arsitektur Timur yang banyak terdapat pada candi di Jawa dan India. Pada saat-saat tertentu, garis dan bidang memberi efek bayangan dramatis pada bangunan.

Seperti kebanyakan karya Schoemaker, Villa Isola memiliki bentuk simetris. Suatu bentuk berkesan formal dan berwibawa. Pintu utama terdapat pada bagian tengah bangunan, menghadap ke utara. Pintu ini dilindungi sebuah kanopi berupa dak beton berbentuk melengkung yang ditopang satu tiang pada ujungnya.

Pembagian ruang dalam bangunan mengikuti tipologi rumah tinggal di Eropa, mengingat pemilik pertama bangunan ini seorang Belanda bernama DW Berrety. Lantai pertama terdiri atas sebuah lobi dengan tangga melingkar ke atas di kedua sisi dan sebuah ruang keluarga. Pada ruang keluarga terdapat jendela melengkung berukuran besar yang memungkinkan orang melihat pemandangan Kota Bandung di dataran lebih rendah. Di lantai ini juga terdapat toilet berbentuk bundar.

Lantai kedua bangunan berisi kamar tidur yang dihubungkan dengan koridor yang membentang pada arah barat dan timur. Pada kedua ujung koridor terdapat dua buah teras terbuka. Penggunaan koridor merupakan suatu penyelesaian yang baik pada bangunan di iklim tropis karena berfungsi sebagai isolator termal sehingga udara dalam ruangan terasa sejuk. Kamar tidur utama didesain menghadap ke arah selatan. Kamar ini dilengkapi dengan balkon melingkar yang dilindungi tritisan dari fiber dan disangga balok-balok baja. Pada lantai ketiga bangunan terdapat kamar tidur tamu dan ruang rekreasi. Beberapa dari ruangan tersebut telah berubah sesuai fungsi barunya.

Jika sisi utara bangunan terdiri dari tiga lantai, isi selatan bangunan terdiri dari empat lantai. Hal ini terjadi karena perbedaan ketinggian lahan. Lantai dasar pada sisi selatan bangunan berfungsi sebagai daerah servis. Hal ini menarik untuk suatu bangunan tempat tinggal pada masa itu yang umumnya memiliki daerah servis terpisah dari bangunan utama. Seperti pintu masuk utara, pintu masuk selatan berhadapan langsung dengan taman. Pengolahan lahan, taman, dan elemen-elemennya turut mendukung keunikan Villa Isola terutama dari segi bentuk. Semuanya itu menyuarakan satu bentuk: bundar!

Monumental dalam arsitektur mengandung arti hal-hal yang tersimpan di alam bawah sadar dan meninggalkan kesan dan kenangan yang sulit terlupakan. Sifat monumental pada karya arsitektur tidak hanya terbatas pada bentuk bangunan secara keseluruhan, tetapi menyangkut hal lain, seperti urutan, struktur bangunan, bentuk atap, fasad, dan lainnya. Diperlukan kepekaan khusus dalam menilai kemonumentalan suatu karya arsitektur. Hal ini dapat dicapai dengan cara berlatih menghargai dan menghormati suatu karya arsitektur.

Fenomena di Kota Bandung di mana tidak sedikit bangunan tua yang merupakan bagian dari sejarah perkembangan kota diabaikan, bahkan dihancurkan, tentulah bukan suatu fenomena yang baik. Tidak sedikit karya arsitektur di Kota Bandung yang memiliki nilai monumental. Suatu nilai tertinggi yang ingin dicapai dalam setiap perancangan. Jika kita belum mampu menandingi monumental suatu karya yang sudah ada, mengapa kita harus mengubah karya itu atau bahkan menghancurkannya.

W Wibisono Arsitek di Jakarta, alumni Institut Teknologi Bandung

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 28 Maret 2004


%d blogger menyukai ini: