Bandung Kembangkan Wisata Sejarah

Kota Bandung sempat terkenal dengan julukan Paris Van Java pada zaman kolonial Belanda. Julukan itu kiranya berasal dari banyaknya mojang priangan yang terkenal cantik dan arsitektur bangunan yang indah mewarnai kota ini. Saking indahnya, situasi Bandung saat itu mengingatkan petinggi Belanda pada keindahan Paris, sebuah kota di Eropa.

Namun, keindahan kota ini lambat laun berubah seiring derasnya laju pembangunan. Pembangunan menghasilkan banyak perubahan bagi keadaan kota ini, berbagai bangunan baru dan modern yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan maupun perkantoran mewarnai Kota Bandung saat ini. Bandung pun tidak lagi terkenal dengan Paris Van Java-nya.

Seperti kota-kota besar lain, pemerintah kota (pemkot) sebagai penguasa kota gencar mendandani Bandung supaya terlihat lebih dinamis dan modern. Berbagai bangunan tua pun ‘digaruk’, diganti dengan bangunan baru yang sesuai dengan trend masa kini. Tampilan kota berubah, namun tetap menyisakan mojang cantik nan menawan dengan sedikit bangunan tua bersejarah yang memiliki arsitektur indah.

Perkembangan kota ini berpengaruh terhadap objek wisata yang diandalkan Kota Bandung. Sebagai kota yang dekat dengan Jakarta, Kota Bandung menjadi pilihan warga ibukota yang ingin menikmati liburan. Dengan sedikit kreativitas, Bandung berubah menjadi kota tujuan wisata yang populer bagi orang Jakarta. Selama ini warga ibukota mengunjungi Bandung untuk berwisata belanja dan kuliner.

Pemerintah Kota Bandung bukannya tidak menyadari dengan potensi ini. Berbagai kemudahan izin diberikan bagi pengusaha factory outlet, tujuan wisata yang terkenal di kota ini.

Hasilnya, berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Bandung angka kunjungan wisatawan 2003 mencapai 1.762.415 atau meningkat 86,23% dari 2002 yang 946.344 pengunjung.

Pemkot Bandung pun berhasil meraup pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata sebesar Rp80 miliar atau sama dengan 60% perolehan pajak yang diperoleh Kota Bandung yang berkisar Rp130 miliar.
Namun, pemkot pun tahu, perlu ada perubahan untuk mempertahankan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Kepala Dinas Pariwisata Kota Ernawan Natasaputra mengungkapkan saat ini Kota Bandung perlu meningkatkan jenis objek wisata agar kota ini bisa tetap menarik minat wisatawan.

Dia mengakui pengembangan objek wisata di Bandung cukup sulit karena harus disesuaikan dengan kondisi keterbatasan lahan di kota ini. Oleh karena itu, lanjutnya, pemkot harus jeli dan kreatif memanfaatkan potensi kota yang bisa dijadikan objek wisata alternatif.

“Kalau objek wisatanya itu-itu saja, lama-lama wisatawan bosan dan enggan datang lagi ke Bandung. Karena itu pemkot berupaya mengembangkan objek wisata alternatif. Tahun ini kita mulai kembangkan wisata heritage, wisata bangunan tua dan bersejarah.”

Saat ini, paparnya, Bandung memiliki sembilan objek wisata meliputi Kebun Binatang, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani, Karang Setra, Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Sri Baduga dan Saung Angklung Udjo.

“Tahun ini kita mulai mengembangkan objek wisata baru yang berbasis wisata heritage. Bangunan-bangunan bersejarah akan kita tata dan dikembangkan agar mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.”

Siapkan promosi

Ide itu pun digulirkan, tiga gedung tua yang bersejarah di Kota Bandung yaitu Gedung Gedung Landraad yang berlokasi di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5, Pendopo Kabupaten Bandung yang berada di Jl. Dalem Kaum No. 1 dan Villa Isola yang berlokasi di Jl. Setiabudhi 229 Bandung.

“Sebagai persiapan, awal tahun ini kami menyiapkan 30 tenaga pemandu wisata agar menguasai seluruh aspek bangunan tua dan bersejarah di Bandung. Tenaga pemandu wisata ini berasal dari berbagai sekolah yang berbasis pariwisata di Bandung,” jelasnya.

Setelah memiliki pemadu wisata yang memadai, lanjutnya, pemkot akan memoles tampilan gedung yang akan dipasarkan itu. Dia menyadari upaya mengembangkan promosi memang tidak bisa sendiri. Rencananya, pemkot akan menggandeng Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) untuk mempromosikan wisata heritage.

“Sebelum semuanya siap, kami belum berani mempromosikan objek wisata ini. Mudah-mudahan wisata heritage ini sudah bisa dipasarkan tahun depan. Nanti setelah siap, kita rangkul Asita untuk promosi,” kata dia.
Sebenarnya, ungkap dia, wisata heritage sudah lama dikembangkan namun terbatas untuk kalangan wisatwan mancanegara, terutama wisatawan Eropa. Bangunan tua yang populer di kalangan wisaman itu a.l. Gedung Sate, Gedung Merdeka, Hotel Preanger dan Savoy Homann. Namun, lanjutnya, seiring terbatasnya jumlah wisatawan Eropa akhir-akhir ini wisata ini kurang dilirik. “Tahun ini kita berupaya mengembangkannya lagi dan mulai mendekati pasar domestik.”

Ernawan optimis wisata heritage bisa dinikmati oleh wisatawan domestik. “Saya kira [potensi pasarnya] cukup bagus. Selama ini Gedung Merdeka dan Gedung Sate kan selalu dikunjungi wisatawan baik mancanegara maupun domestik. Memang jumlahnya tidak terlalu banyak tapi kita akan coba mengembangkannya siapa tahu bisa menjadi objek wisata andalan.”

Sebagai penguasa kota, Pemkot Bandung sah-sah saja memiliki rencana pengembangan kota, termasuk pengembangan potensi pariwisatanya. Namun, realistiskah rencana ini? mengingat sebagian kondisi bangunan yang akan dikembangkan menjadi tujuan wisata andalan sudah mulai termakan usia.

Apalagi kondisi sarana transportasi di bandung yang terkenal semrawut. Bukankah wisata semacam ini membutuhkan mobilitas wisatawan yang tinggi untuk beralih dari satu objek wisata ke objek wisata lain? Menanggapi hal ini, Ernawan menuturkan tidak ada masalah dengan kondisi transportasi di Bandung.
“Akses jalan nggak begitu sulit, apalagi saat ini kita tengah mengkaji apakah perlu ada bus khusus untuk wisata dalam kota. Dulu memang pernah ada, namun saat ini perlu dievaluasi apakah perlu fasilitas semacam itu. Tentunya kalaupun akan diadakan lagi perlu penyempurnaan,” katanya.

Harus dilestarikan

Kalangan industri pariwisata di Bandung menyambut baik langkah Pemkot yang berniat mengembangkan obyek wisata bangun bersejarah. Namun demikian, pengembangan wisata itu tidak akan berhasil dengan baik tanpa terlebih dahulu menata dan memperbaiki obyek wisatanya.

“Bandung memang miliki cukup banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda maupun Jepang yang bisa dijual kepada wisatawan domestik maupun asing. Namun yang dipelihara dengan baik paling hanya Gedung Sate, Gedung Merdeka dan Bank Indonesia,” kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar H.S. Hermawan.

Sedangkan bangunan lain yang sebenarnya memiliki nilai sejarah, tidak sedikit yang sudah diubah bentuk maupun peruntukannya. “Lihat saja Kerkoff di Jl. Padjadjaran yang kini sudah berubah menjadi lapangan olah raga,” tuturnya.

Kalaupun masih ada bangunan bersejarah yang masih utuh, namun kondisinya memprihatinkan karena kurang dipelihara. Oleh karena itu, bila wisata heritage akan dikembangkan, Pemkot Bandung harus melakukan pendekatan pelestarian terhadap bangunan bersejarah dan memiliki nilai budaya.

Artinya, kata Hermawan, bila bangunan tersebut akan dijadikan obyek wisata, maka harus terlebih dahulu diperbaiki, ditata dan dilestarikan. “Kalau dalam kondisi seperti sekarang langsung dijual, mana ada wisatawan yang mau mengunjunginya,” kata dia.

Selama ini, wisatawan asing terutama dari Belanda, banyak yang tertarik untuk mengunjungi bangunan bersejarah di kota ini. Obyek wisata ini, lanjut dia, sebenarnya berpotensi untuk ditawarkan kepada wisatawan domestik, dan ini sudah berjalan untuk Gedung Sate yang saat ini digunakan sebagai kantor gubernur.
Ketua Asita Jabar Yachya Machmoed juga menganggap rencana Pemkot Bandung mengembangkan wisata heritage sangat tepat, mengingat pasar untuk jenis wisata ini cukup besar, terutama wisatawan asal Belanda.
“Sebelum krisis moneter, banyak sekali wisatawan Belanda yang mengunjungi bangunan sejarah di Bandung, seperti yang ada di Jl. Braga. Menurut mereka, stidaknya ada 73 bangunan bersejarah di jalan tersebut,” tuturnya.

Sayangnya, dia mengemukakan tidak sedikit wisatawan tersebut yang kecewa karena banyak bangunan bersejarah yang sudah tidak ada dan tidak sesuai dengan data yang mereka miliki.

Untuk itu, menurut Yachya, Pemkot Bandung harus berani mengalokasikan dana pemeliharaan gedung bersejarah, termasuk yang sudah dimiliki perorangan, bila serius ingin mengembangan wisata ini.
Dia berpendapat bangunan bersejarah boleh saja dimiliki perorangan atau perusahaan swasta. Namun, Pemkot harus mensyaratkan agar bangunan tersebut tidak boleh diubah bentuknya, seperti yang dilakukan pengelola Hotel Preanger dan Hotel Homann yang mempertahankan bentuk bangunan, meskipun hanya bagian depannya saja.

Memang, kalau kondisi ideal itu bisa dilakukan, Bandung tidak hanya terkenal sebagai tujuan wisata belanja dan boga, tapi juga wisata budaya. Kalau ini bisa tercapai, Bandung akan bangga dengan sebutan kota berbudaya.

Sumber: Bisnis Indonesia Jumat, 26 Maret 2004


%d blogger menyukai ini: